Belakangan ini, media dipenuhi dengan berita tentang intoleransi yang dilakukan sejumlah orang atau kelompok. Hal ini tentu menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Padahal, Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa, setiap individu harus bisa mempraktikkan sikap toleransi. Perbedaan tidak harus membuat orang saling bermusuhan. Beda keyakinan atau agama tidak perlu menjadi pemicu retaknya hubungan silaturahmi antar sesama.
Bagaimana sikap toleransi beragama dikisahkan Izzatul Jannah dalam buku Cahaya di Atas Cahaya. Cerita ini berkisah tentang persahabatan seorang Aisyah dan Bhernadetta. Aisyah seorang Muslim, sementara Bherna seorang Kristiani. Dua teman ini disatukan dalam kelompok KKN yang diadakan di kampus mereka. Mereka harus tinggal sekamar.
Awalnya Bherna kesal mengetahui ia sekamar dengan Aisyah yang notabene seorang Muslim. Bagaimana mungkin ia akan tinggal bersama dengan perempuan yang bisa menjadi “pengganggu” untuk menjalankan “misi”-nya di Desa Tirtomulyo, tempat mereka melaksanakan KKN.
Tinggal sekamar dengan Aisyah, seperti dugaannya, ternyata menimbulkan rasa risih. Bagaimana tidak. Di tengah malam, di saat orang sedang terlelap tidur, Aisyah bangun, melaksanakan ibadah dan mengaji, yang membuat Bherna merasa terganggu. Bherna merasa apa yang dibaca Aisyah adalah sesuatu yang mengusik indra pendengarnya.
Namun, lama-lama Bherna penasaran dengan apa yang dibaca Aisyah. Maksudnya makna ayat suci yang dibaca Aisyah. Soalnya, Bherna lama-lama merasakan sesuatu yang tenang setelah mendengarkan ayat tersebut dibaca. Ditambah lagi, Aisyah kerap menangis saat membaca ayat-ayat suci tersebut.
Kisah Bherna dan Aisyah dalam buku ini mengajarkan kita untuk bisa saling menjaga dan bersikap toleran dengan sesuatu yang tidak sama dengan keyakinan kita. Selama apa yang dilakukan orang lain tidak mengganggu pribadi kita, maka kita tidak berhak untuk mengusik ibadah atau cara mereka menyembah Sang Pencipta.
Selain Cahaya di Atas Cahaya, dalam buku ini juga memuat sejumlah cerita pendek yang tidak kalah menarik. Terdiri dari lima belas cerita pendek yang keseluruhan berisi tentang nilai-nilai kemanusiaan dengan segala sisi, membuat buku ini layak dibaca. Buku ini bisa dibilang buku lawas karena telah terbit sejak beberapa tahun silam. Namun, kisah-kisah di dalamnya yang sarat dengan hikmah dan pelajaran membuat buku ini patut diapresiasi.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dua Wanita di Pekanbaru Ungkap Alasan Masuk Islam, Sempat Ditentang Orangtua
-
Urutan 12 Nama Bulan dalam Kalender Islam
-
Ma'ruf Amin Minta Umat Islam Jadikan Momentum 1 Muharram 1444 H untuk Berhijrah
-
Sambut Tahun Baru Islam, Warga Kabupaten Kudus Gelar Kirab "Tebokan"
-
Jalur Puncak Bogor Macet, Wisatawan Duduk di Jalan Nunggu Kendaraan Bergerak
Rona
-
Kisah Perjalanan YouthID: Saat Anak Muda Menembus Batas, Mendengar Suara Disabilitas di Aceh
-
Menikmati Strike Tak Terduga di Sagara Makmur
-
Ingin Coba Mendaki? Inilah Daftar 10 Gunung di Indonesia Paling Ramah Pemula
-
Dari Sampah hingga AI, Sahya Vidya Nusantara Jadi Ruang Belajar Alternatif di LPB Nasional 2025
-
Menyambut Natal Lebih Bijak, Ini Cara Merayakan secara Ramah Lingkungan
Terkini
-
Kartu Pokemon Milik Logan Paul Laku Fantastis, Tembus Rp277 Miliar
-
Kritik Kebijakan Jadi Pelanggaran HAM? Logika Terbalik Menteri Pigai
-
Pertemuan di Masjid Kota
-
Di Balik Nasi Sisa Sahur: Refleksi Emak-Emak tentang Ramadan dan Kesederhanaan
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?