Rambutnya kini mulai memutih.
Wajah keriput telah bersemayam nyata bahwa semangat masih ada.
Tubuhnya tak seindah lagi seperti gadis-gadis desa.
Ia hanya bisa berharap agar anak-anaknya kelak menjadi orang berguna.
Saat pagi menyingsing, lebih dulu ia mempersiapkan segalanya.
Paginya disisakan berjuang mengarungi kehidupan. Siang pun masih meneteskan keringat di wajah yang keriput. Ia terus melambai dengan bersemayam dengan kayu bakar berada di atas pundaknya.
Wajah tak pernah patah semangat.
Bergelut dengan tanah, berteman dengan kayu bakar dan bercinta dengan terik panasnya matahari. Itulah hari-hari yang terus ia lakukan.
Kodrat bukan alasan untuk tidak berjuang dan bekerja.
Wahai wanita-wanita hebat.
Janganlah kurung dirimu untuk tidak berjuang.
Tidak ada yang sia-sia.
Hanya orang-orang berjuanglah, Tuhan akan bersamanya.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
-
Lowongan Kerja BRI Area Jawa Tengah Resmi Dibuka, Catat Jadwal dan Lokasinya
-
Bea Cukai Pamer Kawasan Berikat Serap 20 Ribu Tenaga Kerja, Setoran Pajak Tembus Rp 21,41 T
-
Seoul Busters: Ketika Tim yang Dianggap Gagal Mengajarkan Arti Kerja Sama
-
Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri: Pentingnya Penguatan Kapasitas & Dukungan Bagi Kepala Daerah
-
Robot China 'Invasi' Industri Logistik di Inggris, Bagaimana Nasib Pekerja Manusia?
Sastra
Terkini
-
Hidup di Layar: Mengapa Kita Cepat Lelah di Era yang Serba Mudah?
-
Sembunyi di Bawah Meja Demi Nyawa: Tragedi Mei 1998 Lewat Mata Bocah Cina
-
Review Drama Wonder Wall, Misteri Uang 30 Juta Yuan di Balik Tembok Rumah
-
Salinan Film Fortitude Raib, Netflix Dinilai Lalai hingga Digugat $105 Juta
-
Review Film Colors of Evil: Black, Kematian dan Misteri Kota yang Bungkam!