Rambutnya kini mulai memutih.
Wajah keriput telah bersemayam nyata bahwa semangat masih ada.
Tubuhnya tak seindah lagi seperti gadis-gadis desa.
Ia hanya bisa berharap agar anak-anaknya kelak menjadi orang berguna.
Saat pagi menyingsing, lebih dulu ia mempersiapkan segalanya.
Paginya disisakan berjuang mengarungi kehidupan. Siang pun masih meneteskan keringat di wajah yang keriput. Ia terus melambai dengan bersemayam dengan kayu bakar berada di atas pundaknya.
Wajah tak pernah patah semangat.
Bergelut dengan tanah, berteman dengan kayu bakar dan bercinta dengan terik panasnya matahari. Itulah hari-hari yang terus ia lakukan.
Kodrat bukan alasan untuk tidak berjuang dan bekerja.
Wahai wanita-wanita hebat.
Janganlah kurung dirimu untuk tidak berjuang.
Tidak ada yang sia-sia.
Hanya orang-orang berjuanglah, Tuhan akan bersamanya.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Gratiskan Ongkos Transportasi Pencari Kerja di Jakarta Mulai 2027, Pramono: Ingat Masa Susah
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Sinopsis Film Vadh: Thriller Gelap India yang Diduga Jadi Inspirasi Pembunuhan Ibu-Anak di Madiun
-
Bahasa Indonesia Mendunia, tapi Gagal di Pasar Kerja? Ini PR Besarnya!
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Sastra
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru