Di suatu pagi aku menyandarkan badanku pada hamparan ilalang yang mengitari sekeliling halaman rumah. Rumah mungil sederhana nan asri beratapkan jerami.
Rumah yang menyimpan sejuta kenangan yang tertanam di dalamnya. Rumah yang telah ku huni puluhan tahun lamanya, tempat berkumpul bersama keluarga.
Berbagi segala rasa dalam keceriaaan maupun keprihatinan yang saling memikul bersama. Kesederhanaan di rumah beralaskan jerami membawa suasana damai penuh bahagia rasanya.
Alam kecantikan hamparan ilalang yang hijau yang bersemai kebaikan dalam permadani langit pagi. Tatapan kejauhan berkerumun para peladang dengan giat bekerja. Bekerja peluh keringat tuk lawan rasa lelah sepanjang waktu, pagi hingga sore hari yang terhampar.
Alangkah hebatnya langit pagi yang memberikan tatapan manis dengan sapaan kepada dunia, dalam sejuta manfaat bagi umat. Pagi hari menyambut diriku dalam nuansa adem ayem dengan seluruh faedahnya.
Awan mendung yang menggores indahnya pagi berwarna putih dan kelabu. Goresan mendung tak menghalangi alam pagi hari, dalam menghantarkan segala nikmat kepada manusia. Kesejukan bersambut dalam lantunan melodi burung-burung terbang mengangkasa.
Dunia kan bahagia dan tersenyum dalam segala keunikan yang terpancar. Keunikan niscaya berkah karunia Sang Pencipta yang sangat cantik dengan caranya masing-masing. Melawan segala emosi dan rasa rendah diri tuk sebarkan inspirasi pada dunia.
Tunjukkan segala potensi diri yang dimiliki pada setiap individu dengan caranya yang sangat bermacam-macam penuh keindahan. Pagi menyemai benih-benih semangat tiada mundur tuk melampaui segala keraguan. Tunjukkan pada dunia bahwa setiap kebaikan yang disebarkan kan menghantarkan manfaat.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan