Dataran Tinggi Dieng memang mempunyai beragam pesona dan cerita, salah satunya fenomena yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah, yaitu keberadaan anak-anak berambut gimbal. Anak-anak ini oleh masyarakat Dataran Tinggi Dieng sering disebut anak gembel, masyarakat Dieng mempercayai bahwa anak-anak berambut gimbal ini adalah titipan dari Kiai Kolodete.
Banyak beragam versi tentang sosok Kiai Kolodete ini, ada versi menyebutkan bahwa sosoknya adalah seorang resi Hindu penguasa Dieng yang kemudian memilih masuk Islam, ada juga versi kalau Kiai Kolodete adalah penggawa pada masa Kerajaan Mataram Islam, bersama Kiai Walid dan Kiai Karim ditugaskan oleh Kerajaan Mataram Islam untuk mempersiapkan pemerintahan di Wonosobo dan sekitarnya.
Tiba di Dataran Tinggi Dieng, Kiai kolodete beserta istrinya yang bernama Nini Roro Rence mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Kiai Kolodete dan istrinya diberi tugas membawa masyarakat Dieng menuju kehidupan yang sejahtera, dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng sebagai tolak ukur kesejahteraan masyarakat Dieng.
Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat Dataran Tinggi Dieng percaya, jumlah anak yang mempunyai rambut gimbal mempunyai hubungan dengan kesejahteraan masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Semakin banyak jumlah anak berambut gimbal, maka kesejahteraan masyarakat Dataran Tinggi Dieng akan semakin baik, begitu juga sebaliknya.
Tanda-tanda seorang anak akan berambut gimbal adalah anak mengalami suhu panas tubuh yang tinggi dalam beberapa hari, lalu pada pagi harinya akan kembali normal dengan sendirinya dan disertai munculnya rambut gimbal pada si anak. Rambut gimbal biasanya akan muncul ketika usia anak belum mencapai 3 tahun dan akan tubuh secara lebat dalam berjalannya waktu.
Pemotongan Rambut Gimbal
Prosesi pemotongan rambut gimbal sering disebut ruwatan. Saat ini, acara pemotongan rambut gimbal diadakan dengan berlangsungnya Dieng Culture Festival (DCF), sebuah festival budaya yang diadakan setiap tahun di Dataran Tinggi Dieng. Sebelum dipotong rambut gimbalnya, si anak akan mengajukan permintaan dan permintaan tersebut harus dituruti oleh orang tuanya.
Masyarakat Dataran Tinggi Dieng mempercayai jika anak yang berambut gimbal dipotong rambut gimbalnya tanpa dituruti permintannya, tidak melalui upacara tertentu, atau tanpa keinginan dari si anak, maka rambut gimbal yang sudah dipotong akan tumbuh kembali.
Kehidupan anak rambut gimbal
Anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng pada umumnya memiliki kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Namun, anak yang berambut gimbal cenderung lebih aktif dan pada saat-saat tertentu emosi anak berambut gimbal tidak terkendali tanpa sebab yang jelas. Kecenderungan yang ada di anak berambut gimbal ini akan berkurang atau bahkan menghilang ketika rambut gimbal anak tersebut telah dipotong.
Demikianlah ulasan singkat mengenai kehidupan anak rambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng, di mana memiliki unsur budaya, sejarah, juga mistis. Fenomena anak rambut gimbal tentu hanya satu dari banyaknya fenomena budaya dan sejarah di Indonesia, yang hingga sekarang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, bahkan kerap di luar nalar.
Tag
Baca Juga
-
Program Makan Bergizi Gratis: Berkah atau Beban? Menanti Hasil dan Manfaat di Tengah Anggaran Fantastis
-
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Gelar Seminar Pencegahan Stunting
-
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping Berpartisipasi di MJE 2023
-
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Gelar Peringatan World Prematurity Day 2023
-
Ini 7 Tips Membersihkan Sistem Komputer agar Mendapatkan Performa Optimal
Artikel Terkait
-
Benarkah Muhammadiyah Pelopor Modernisasi Halal Bihalal di Indonesia? Ini Faktanya
-
Ole Romeny Cetak Sejarah Baru 2 Kali Debut Timnas Indonesia
-
Selangkah Lagi Timnas Indonesia Kembali Cetak Sejarah
-
Ray Sahetapy Wafat: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Kenang Sosok Aktor Kawakan
-
Ulasan Novel Pulang Karya Leila S. Chudori: Sejarah Kelam Indonesia
Ulasan
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Sate Padang Bundo Kanduang, Rasa Asli Minangkabau yang Menggoda Selera
-
Ulasan Buku Setengah Jalan, Koleksi Esai Komedi untuk Para Calon Komika
-
Ulasan Film Paddington in Peru: Petualangan Seru si Beruang Cokelat!
Terkini
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?
-
Liga Film Lebaran Geger! 'Pabrik Gula' Tak Terbendung, Norma Terpeleset?
-
Ada LANY hingga Hearts2Hearts, LaLaLa Festival 2025 Umumkan Daftar Lineup