facebook

Anak Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng: antara Budaya, Sejarah, dan Mistis

Fatson Tahya
Anak Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng: antara Budaya, Sejarah, dan Mistis
Prosesi Pemotongan Rambut Gimbal. (Twitter/@DiplomasiTotal)

Dataran Tinggi Dieng memang mempunyai beragam pesona dan cerita, salah satunya fenomena yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah, yaitu keberadaan anak-anak berambut gimbal. Anak-anak ini oleh masyarakat Dataran Tinggi Dieng sering disebut anak gembel, masyarakat Dieng mempercayai bahwa anak-anak berambut gimbal ini adalah titipan dari Kiai Kolodete.

Banyak beragam versi tentang sosok Kiai Kolodete ini, ada versi menyebutkan bahwa sosoknya adalah seorang resi Hindu penguasa Dieng yang kemudian memilih masuk Islam, ada juga versi kalau Kiai Kolodete adalah penggawa pada masa Kerajaan Mataram Islam, bersama Kiai Walid dan Kiai Karim ditugaskan oleh Kerajaan Mataram Islam untuk mempersiapkan pemerintahan di Wonosobo dan sekitarnya.

Tiba di Dataran Tinggi Dieng, Kiai kolodete beserta istrinya yang bernama Nini Roro Rence mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Kiai Kolodete dan istrinya diberi tugas membawa masyarakat Dieng menuju kehidupan yang sejahtera, dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng sebagai tolak ukur kesejahteraan masyarakat Dieng.

Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat Dataran Tinggi Dieng percaya, jumlah anak yang mempunyai rambut gimbal mempunyai hubungan dengan kesejahteraan masyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Semakin banyak jumlah anak berambut gimbal, maka kesejahteraan masyarakat Dataran Tinggi Dieng akan semakin baik, begitu juga sebaliknya.

Tanda-tanda seorang anak akan berambut gimbal adalah anak mengalami suhu panas tubuh yang tinggi dalam beberapa hari, lalu pada pagi harinya akan kembali normal dengan sendirinya dan disertai munculnya rambut gimbal pada si anak. Rambut gimbal biasanya akan muncul ketika usia anak belum mencapai 3 tahun dan akan tubuh secara lebat dalam berjalannya waktu.

Pemotongan Rambut Gimbal

Prosesi pemotongan rambut gimbal sering disebut ruwatan. Saat ini, acara pemotongan rambut gimbal diadakan dengan berlangsungnya Dieng Culture Festival (DCF), sebuah festival budaya yang diadakan setiap tahun di Dataran Tinggi Dieng. Sebelum dipotong rambut gimbalnya, si anak akan mengajukan permintaan dan permintaan tersebut harus dituruti oleh orang tuanya.

Masyarakat Dataran Tinggi Dieng mempercayai jika anak yang berambut gimbal dipotong rambut gimbalnya tanpa dituruti permintannya, tidak melalui upacara tertentu, atau tanpa keinginan dari si anak, maka rambut gimbal yang sudah dipotong akan tumbuh kembali.

Kehidupan anak rambut gimbal

Anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng pada umumnya memiliki kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Namun, anak yang berambut gimbal cenderung lebih aktif dan pada saat-saat tertentu emosi anak berambut gimbal tidak terkendali tanpa sebab yang jelas. Kecenderungan yang ada di anak berambut gimbal ini akan berkurang atau bahkan menghilang ketika rambut gimbal anak tersebut telah dipotong.

Demikianlah ulasan singkat mengenai kehidupan anak rambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng, di mana memiliki unsur budaya, sejarah, juga mistis. Fenomena anak rambut gimbal tentu hanya satu dari banyaknya fenomena budaya dan sejarah di Indonesia, yang hingga sekarang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, bahkan kerap di luar nalar.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak