Menikah atau membangun kehidupan rumah tangga menjadi impian sebagian orang. Hal yang harus direnungi dan pahami bersama bahwa menikah bukan perkara main-main. Bukan pula perkara remeh yang dilakukan dengan gegabah. Menikah itu membutuhkan banyak sekali persiapan yang matang, agar tak mengalami sederet persoalan yang berujung pada keretakan dan perceraian di kemudian hari.
Tak perlu terburu menikah bila memang kondisi kita belum siap secara lahir dan batin. Tak perlu memaksakan diri pula hanya karena merasa malu ditanya oleh orang-orang dengan pertanyaan membosankan dan kerap bikin jengkel, "Kapan menikah?" bla-bla-bla. Menikahlah bila memang telah siap lahir-batin atau bila memang sudah tak kuat membendung nafsu syahwat. Atau, menikahlah karena alasan-alasan lain yang tak melenceng dari tuntunan syariat. Jangan sampai kita menikah karena terpaksa, misalnya karena malu dengan gunjingan orang.
Bicara tentang pertanyaan nyinyir "Kapan nikah?" yang kerap dialamatkan orang-orang pada kaum lajang, Muhajjah Saratini A memberikan ulasan menarik. Menurutnya, pertanyaan (kapan nikah?) itu selalu disodorkan kepada pria dan wanita yang lajang dan mapan. Kenyataannya, jawaban yang ditunggu bukan selalu tanggal pasti, bahkan kadang hanya pertanyaan basa-basi. Kalimat itu lebih merupakan dorongan agar pernikahan menjadi salah satu pemikiran yang diutamakan dalam hidup. Seakan, orang-orang yang mengajukan kalimat (kapan nikah?) itu merasa pernikahan merupakan gerbang kebahagiaan.
Padahal, pernikahan bukan jaminan untuk bahagia. Berapa pun masa pacaran, bukan jaminan langgengnya pernikahan. Ada yang sudah berpacaran selama lima tahun, lalu kandas karena sang pacar menemukan belahan jiwa ketika KKN yang hanya dua bulan. Sebaliknya, ada yang hanya kenal tiga minggu, memutuskan menikah, lalu langgeng sampai tua (Mantap sebelum Akad, halaman 10-11).
Kesimpulannya, menikah membutuhkan sederet persiapan yang, ironisnya, kadang tak disiapkan oleh orang yang akan menikah. Misalnya, persiapan dalam memahami tentang apa sih definisi dan tujuan pernikahan? Termasuk ketika seseorang mempunyai kebiasaan yang tak baik, bahkan bila ia memiliki riwayat menderita penyakit akut, juga mestinya disampaikan oleh calon pasangannya sebelum benar-benar melakukan akad.
Hal ini teramat sangat penting, agar hal-hal tersebut tak menjadi persoalan serius setelah menikah. Bisa jadi kan, ada orang yang ketika sebelum menikah perilakunya tampak baik tapi setelah menikah semua kebiasaan buruknya terungkap. Ini adalah contoh kecil yang bisa memicu pertengkaran dalam rumah tangga karena tidak adanya keterbukaan sebelum menikah.
Buku berjudul Mantap sebelum Akad (Laksana, 2018) Muhajjah Saratini A. menguraikan hal-hal yang perlu kamu siapkan untuk mewujudkan pernikahan impian. Buku yang sangat bagus dibaca oleh siapa saja, khususnya bagi pembaca yang sedang mempersiapkan dirinya melepas masa lajang. Selamat membaca, semoga bermanfaat.
Baca Juga
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
-
Cintai Diri, Maka Kamu Akan Bahagia: Seni Menjalani Hidup Bahagia
-
Petualangan Anak Natuna, Kisah Tiga Detektif Cilik Menangkap Penjahat
-
Menghardik Gerimis, Menikmati Cerita-Cerita Pendek Sapardi Djoko Damono
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Feel My Voice: Cerita Hangat tentang Cinta dan Kebebasan
-
Belajar Mencintai Tanpa Syarat dari Seorang Ayah Bernama Sabari
-
Menemukan Jeda di Teras Rumah: Saat Kenyamanan Ternyata Berada Begitu Dekat
-
Review Film Wind Breaker: Adaptasi Manga yang Seru dan Brutal!
-
Drama Pro Bono: Tentang Keadilan yang Terasa Mahal bagi Orang Kecil
Terkini
-
Budget Tipis? Ini 5 Hydrating Toner Rp30 Ribuan yang Bikin Kulit Auto Lembap
-
Webtoon Populer Youth Blossom Resmi Diadaptasi Jadi Serial Animasi
-
5 HP Honor 5G Terbaru, Performa Andal untuk Multitasking dan Produktivitas
-
Toko yang Menjual Kenangan
-
Apel Batu di Ujung Tanduk: Cerita Petani di Tengah Perubahan Kota Batu