Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Buku Pemimpin yang Tuhan.[Dok/Samedy]

Menjadi seorang pemimpin, presiden misalnya, merupakan hal yang sangat berat. Ia harus benar-benar mampu memahami kondisi mayoritas rakyatnya. Terutama yang hidupnya jauh dari kata mapan, alias serba kekurangan dan telah kenyang dengan yang namanya kemiskinan. Jangan sampai seorang pemimpin memiliki kehidupan yang sangat makmur, gemar menumpuk harta yang diperoleh dari uang rakyat, sementara mayoritas rakyatnya malah hidup menderita.

Jadilah seorang pemimpin yang berusaha bertanggung jawab dan adil dalam segala hal. Pemimpin yang adil dapat dilihat dari, misalnya cara ia menetapkan peraturan dan kebijakan. Jangan sampai membuat peraturan yang tak memihak bahkan cenderung menyengsarakan rakyat. 

Seorang pemimpin juga harus siap ketika mendapat kritikan membangun dari rakyatnya. Jangan sampai pemimpin memiliki sikap egois dan diktator, yang segala kemauannya harus selalu dituruti oleh rakyat dan bila rakyat membangkang maka akan dikenakan sanksi.

Emha Ainun Nadjib dalam buku Pemimpin yang Tuhan (Bentang Pustaka, 2018) menguraikan manusia paling sial di dunia adalah yang tak seorang pun berani menyalahkannya. Pemimpin yang paling berbahaya bagi rakyatnya adalah pemimpin yang semua orang tidak mengemukakan kebenaran kepadanya, baik karena takut, kepentingan untuk menjilat, maupun karena sikap kemunafikan. Ketika pemimpin ini bertelanjang bulat pun, bawahannya membungkuk dan bilang, “Jas dan dasi Bapak bagus sekali.”

Menurut Emha, kalau orang demikian itu kebetulan seorang pemimpin, dia bisa disebut “pemimpin yang Tuhan”. Sebab, can do no wrong. Dia diyakini selalu benar. Maka, selalu harus dipuji, dilindungi, dibela. Kalau perlu dengan toh nyowo, bertarung nyawa. Segala keburukan, asal dia yang melakukan, menjadi kebaikan. Segala kebodohan, asal dia yang melakukan, menjadi kepiawaian. Segala kekonyolan, asal dia yang melakukan, menjadi kemuliaan. Dia bagaikan Tuhan itu sendiri. Minimal tajali-Nya (Pemimpin yang Tuhan, halaman 233).

Bicara tentang pemimpin yang buruk, Emha juga memberikan sindiran yang begitu mengena. Sindiran yang disandarkan pada firman Tuhan. "Sesungguhnya presiden yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah presiden yang pekak dan tuli dan tidak mengerti apa-apa. Sesungguhnya presiden jenis itu sama saja. Kau beri peringatan atau tidak, dia juga tidak akan percaya. Allah telah mengunci-mata hati dan pendengarannya. Penglihatannya ditutup. Dan baginya siksa yang amat berat." (Pemimpin yang Tuhan, halaman 34).  

Tema-tema yang disajikan dalam buku Pemimpin yang Tuhan begitu beragam dan menarik sehingga layak dijadikan sebagai bahan bacaan bermutu sekaligus menjadi sarana refleksi atau renungan bagi kita semua. Selamat membaca. 

Komentar