Sangat menarik membaca cerita berjudul Filosofi Kopi karya Dewi Lestari atau biasa dipanggil Dee dalam buku terbitan Bentang Pustaka ini. Filosofi Kopi merupakan salah satu cerita dalam buku ini yang meninggalkan pesan filosofis yang bisa membuat pembaca merenungi kehidupan. Bahkan, cerita ini telah diangkat ke layar lebar beberapa tahun silam dengan judul sama.
Kita tentu tahu bahwa kopi termasuk jenis minuman yang digandrungi oleh sebagian orang. Kopi, selama ini dipercaya bisa menghilangkan kantuk. Bahkan konon secangkir kopi bisa menjadi obat sakit kepala. Dalam cerita karya Dee tersebut, dikisahkan seorang pemuda bernama Ben, yang begitu tergila-gila kepada kopi. Berikut ini petikan ceritanya:
Kopi... k-o-p-i. Sudah ribuan kali aku mengeja sembari memandangi serbuk hitam itu. Memikirkan kira-kira sihir apa yang dimilikinya hingga ada satu manusia yang begitu tergila-gila. Ben. B-e-n. Ben pergi keliling dunia, mencari koresponden di mana-mana demi mendapatkan kopi-kopi terbaik dari seluruh negeri (Filosofi Kopi, halaman 1).
Setelah memiliki banyak ilmu tentang cara meracik kopi yang enak, akhirnya ia bersama Jody, sahabatnya membuka kedai kopi. Bisa dibilang, Ben termasuk salah satu peramu kopi atau barista terandal di Jakarta. Dan dia menikmati setiap detik kariernya. Di kedai yang dia kelola bersama sahabatnya, dia tidak mengambil tempat di pojok, melainkan dalam sebuah bar yang terletak di tengah-tengah sehingga pengunjung bisa menonton aksinya membuat kopi.
Singkat cerita, ketika kedai kopi tersebut kian banyak diminati oleh para pengunjung dan berkembang begitu pesat, datang seorang pengunjung bapak-bapak yang setelah mencicipi kopi andalan milik Ben, hanya mengatakan “lumayan”. Artinya, lumayan enak. Ben yang merasa sudah membuat kopi paling sempurna di dunia merasa tak percaya dengan cerita bapak tersebut bahwa ternyata nun jauh di sana, di sebuah pedesaan di Jawa Tengah, ada kopi yang lebih enak.
Penasaran, Ben dan Jody pun segera meluncur ke pedesaan tersebut. Mencari alamat warung kopi milik Pak Seno yang dikenal enak tersebut. Warung yang sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah, yang di sekitarnya ditumbuhi pohon kopi tersebut akhirnya ditemukan. Ben dan Jody mengakui bahwa kopi yang diracik secara sederhana itu memang enak. Kopi tiwus namanya. Bahkan, Pak Seno tak mematok harga secangkir kopi, seikhlasnya saja mau dibayar berapa. Ketika ditanya alasannya, begini jawaban Pak Seno:
“Habis Bapak punya buanyaaak... sekali. Kalau memang mau dijual biasanya langsung satu bakul. Kalau dibikin minuman begini, cuma-cuma juga ndak apa-apa. Tapi, orang-orang yang kemari biasanya tetap saja mau bayar. Ada yang kasih 150 perak, 100, 200... ya, berapa sajalah.”
Singkat cerita, setelah mendengar kisah Pak Seno tentang kopi tiwus yang kata orang-orang bikin segar, tentram, sabar, tenang, dan kangen tersebut, Ben seketika tersadar dengan ambisinya selama ini.
“Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan Cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia,” (Filosofi Kopi, halaman 23).
Dari cerita Filosofi Kopi karya Dewi Lestari, kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Maka, jangan pernah merasa diri kita adalah yang paling sempurna. Semoga ulasan ini menghibur dan bermanfaat.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Hokum, Minim Jumpscare tapi Bikin Tegang Sampai Akhir
-
The Amazing Digital Circus: The Last Act, Memahami Penjara Berkedok Hiburan
-
Ketika Hati Gelisah, Memburu Jiwa Tenang Menawarkan Jawabannya
-
Queen of Divorce: Drama Hukum Unik dengan Konsep Divorce Troubleshooter
-
Scary Movie 6 Resmi Kembali! Reuni Core Four yang Siap Mengocok Perut Sampai Kram
Terkini
-
Sinopsis My Fiction, Drama Thriller Jepang yang Dibintangi Yuta Tamamori
-
Begadang Demi Piala Dunia di Tengah Kesibukan, Masih Worth It?
-
4 Mix and Match Daily OOTD ala Giselle aespa untuk Hangout dan Ngopi Cantik
-
The Motherhood Penalty: Dosa Karier yang Harus Dibayar Mahal oleh Perempuan
-
Piala Dunia 2026, Timnas Qatar dan Kelayakan Semu The Maroon Tampil di Putaran Final Gelaran