Pada 1092, RA Kartini (1879-1904) menulis surat-surat yang berisi curahan hatinya kepada para sahabatnya di Eropa, terutama Belanda. Ia mengeluhkan nasib perempuan di negerinya yang jauh dari sentuhan peradaban. Surat-surat yang ditulisnya pada 1902 itu dibukukan di Belanda pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht (diterjemahkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang).
Perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan mendapat respons dari kaum feminis Barat, yang hingga kini terus menuntut kesetaraan dalam segala bidang. Menurut mereka, perempuan bukanlah makhluk lemah yang layak “ditindas”, tapi sebaliknya, mereka juga bisa eksis dalam pelbagai sendi kehidupan seperti seni, politik, dan yang lainnya.
Namun, yang perlu disadari adalah, emansipasi wanita yang selama ini digaungkan bukanlah tanpa batas. Emansipasi wanita tidak harus merendahkan martabat wanita itu sendiri.
Annemerie Schimmel (2017) memaparkan berbagai hal terkait kesetaraan gender yang selama ini diperjuangkan kaum feminis Barat. Menurut Schimmel, sebenarnya, sebelum kedatangan Islam, perempuan memang direndahkan. Keberadaannya tak dianggap penting, khususnya pada masa Jahiliyah.
Bahkan, jika para ibu melahirkan anak perempuan, mereka akan membunuh dan menguburnya hidup-hidup. Namun, sejak kedatangan Islam, derajat kaum perempuan diangkat dan dihormati.
Karena itu, dalam buku ini penulis menghadirkan sejumlah nama tokoh perempuan Muslim yang keberadaannya tak bisa dianggap remeh. Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw. adalah wanita yang ikut andil memperjuangkan Islam. Saat pertama kali menerima wahyu di Gua Hira, Khadijah lah yang meyakinkan Muhammad bahwa apa yang diterimanya adalah wahyu Tuhan, bukan bisikan yang berasal dari setan (hlm. 62).
Dalam dunia tasawuf, juga ada beberapa tokoh sufi perempuan yang kiprahnya begitu berpengaruh. Sebut saja Rabi’ah Al-Adawiyah, Ummu Haram, Maryam Al-Basariyyah yang sezaman dengan Rabi’ah, Sya’wana, dan Bahriyya Al-Mausuliyyah, sebagaimana dijelaskan Margaret Smith dalam karya klasiknya, Rabia the Mystic and Her Fellow Saints in Islam (hlm. 75).
Buku ini sangat bermanfaat dan informatif karena memuat banyak hal tentang kaum wanita. Kehadiran buku ini bisa dibaca oleh siapa saja yang tertarik dengan kajian kaum feminis atau seputar kesetaraan gender. Buku yang akan membuka pikiran kita tentang pelbagai hal yang berkaitan dengan kaum perempuan, terutama dalam perspektif agama Islam.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan