Buku ini adalah hasil pembacaan dari penulis. Pembacaan yang dimaksud tidak hanya sebatas membaca buku, tetapi membaca dunia dan segala isinya. Oleh karena itu, dalam buku ini penulis menuliskan berbagai pengalaman dan pemahaman yang didapatkan dari proses pembacaan.
Adapun tulisan dalam buku ini dibentuk dalam format naratif, yakni dibuka dengan kisah atau cerita mengutip pendapat Arvan Pradiansyah, motivator ulung, bahwa melalui cerita manusia akan lebih mudah untuk disadarkan. Pada dasarnya, orang senang belajar, tetapi tak suka digurui.
Cerita dapat mengatasi kebekuan seperti ini. Orang dapat menolak kebenaran, tetapi orang tak dapat menolak cerita. Seperti halnya anak anak yang menantikan dongeng sebelum tidur, begitu juga orang dewasa yang juga menantikan cerita-cerita yang dapat memperkaya diri, yang dapat membuat belajar sesuatu secara halus tanpa diketahui oleh orang lain, bahkan tanpa disadari oleh diri kita sendiri. ( halaman 9)
Buku yang ditulis dalam bentuk cerita ini dalam penyampaiannya sangat berbeda. Orang yang membaca akan lebih santai dalam menikmatinya. Dalam buku ini, terangkum 25 renungan tentang kisah kisah sederhana, tapi sarat permata makna kehidupan. Ada banyak kesan dan pesan universal dalam setiap kisahnya. Di antaranya tentang peran saling sejati seorang wanita dalam pandangan Islam, alasan Rasulullah Saw. begitu menghormati sosok Ibu, kedahsyatan waktu, penyesalan terbesar Michael Phelps dan cara belajar dari mahkluk kecil seperti kecoa. Semua kisah tersebut dituturkan dengan indah dan menyejukkan kalbu.
Bahwa, kehidupan mengajarkan kita bahwa tak ada yang sia0sia di dunia ini. Ada hikmah yang luar biasa dari setiap kejadian sepele. Ada pelajaran berharga dari sepercik peristiwa yang sepertinya biasa. Dan kita bisa mulai merenungkannya melalui kisah-kisah indah dalam buku ini.
Buku dengan judul Berobat 20 Juta Per hari, diambil dari salah satu kisah yang berada di dalam buku ini, yang menceritakan kisah Susanti yang menderita penyakit Guillain-barre syndrome(GBS). Untuk mengobati penyakitnya Susanti membutuhkan imunoglobulin. Dengan harga yang mahal sekali.
Jadi dengan adanya kisah tersebut kita dapat mengambil sebuah kesimpulan apabila sehat itu mahal harganya. Maka dari itu kita harus bisa menjaga kesehatan diri kita sendiri, baik psiskis atau pun fisik.
Tag
Baca Juga
-
8 Golongan yang Dicintai Allah dan 6 Golongan yang Dibenci Allah
-
Ulasan Buku Cara Cantik dengan Detoks, Ini Cara agar Tampil Cantik Alami
-
Ulasan Buku 'Ayah Pintar, Idaman Semua Keluarga'
-
Ulasan Buku The Miracle of Aura: Cara Dahsyat Memaksimalkan Kesuksesan
-
Ulasan Buku Saku Salah Kaprah, Menjawab Banyak Kesalahpahaman
Artikel Terkait
Ulasan
-
House of the Dragon Season 2: Ambisi Berdarah Para Penguasa yang Memanas!
-
Mirah Singa Betina dari Marunda: Perjuangan dan Welas Asih Pendekar Wanita
-
Di Balik Kesuksesan The Glory: Potret Kelam Korban Bullying
-
Menakar Ego, Hak Cipta, dan Harmoni yang Hilang di Film Power Ballad
-
Film I Am Frankelda, Masih Bisakah Kita Berimajinasi di Era Serba Instan?
Terkini
-
Drakor The Trauma Code: Heroes on Call Berpotensi Lanjut Season 2 dan 3, Netflix Buka Suara
-
Prediksi Yordania vs Aljazair: Adu Taktik dan Duel Bintang Demi Lolos Fase
-
Prediksi Prancis vs Irak: Singa Mesopotamia Janjikan Perlawanan Sengit
-
Prioritaskan Piala Dunia, Ini Pengaruhnya pada Produktivitas Kerja
-
Lenovo Tab Plus Gen 2 Rilis, Tablet Hiburan Premium dengan 9 Speaker JBL