Novel berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy ini menarik dan sarat dengan renungan berharga. Khususnya bagi para orangtua agar tidak memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Kita tentu tahu, setiap orang memiliki karakter dan kecenderungan berbeda terhadap sesuatu.
Dalam hal memilih jodoh atau pasangan hidup misalnya. Jangan sampai orangtua memaksakan anaknya menikah dengan orang yang tak dicintai. Menikah adalah termasuk ibadah yang bisa dibilang berlaku sepanjang hayat. Jadi, bagaimana bisa seseorang melaksanakan ibadah dengan baik bila tanpa didasari rasa cinta dan sayang terhadap pasangannya?
Sebagaimana kisah yang dialami oleh seorang pria muda, tokoh utama dalam novel terbitan Republika cetakan yang ke XXXI (2022). Dikisahkan, si pria dipaksa menikah oleh ibu kandungnya dengan wanita yang sama sekali tak dicintai olehnya. Memang, wanita tersebut tergolong cantik, salihah, bahkan hafal Qur’an. Tapi entah mengapa tak ada rasa cinta tumbuh padanya.
Si pria muda, yang pernah berkuliah di Mesir, telah sejak lama mendambakan memiliki pasangan hidup yang secantik wanita-wanita Mesir titisan Cleopatra yang tinggi semampai. Yang memiliki wajah putih jelita dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir merah halus menawan.
Di hari-hari menjelang akad nikah, si pria muda berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintanya pada Raihana, wanita yang bakal menjadi istrinya, wanita yang adalah pilihan terbaik versi ibu kandungnya. Tetapi, usaha si pria muda selalu berujung kesia-siaan. Bibit cinta yang ia harapkan malah menjelma menjadi pohon-pohon kaktus berduri yang tumbuh mengganjal di dalam hati.
Bahkan, setelah menikah dan tinggal bersama Raihana, ia merasa tak kunjung bisa mencintainya. Layaknya pengantin baru, tujuh hari pertama ia paksa hatinya untuk memuliakan istrinya sebisanya. Ia memaksakan diri untuk bersikap mesra tapi tetap saja terasa sulit. Persoalan demi persoalan pun terjadi tanpa bisa dibendung. Misalnya, ketika orangtuanya ingin segera memiliki momongan, dan lain sebagainya.
Novel Pudarnya Pesona Cleopatra karya novelis ternama ini tergolong sangat pendek. Makanya disebut novel mini. Dalam buku ini tersaji dua novel mini, satunya berjudul Setetes Embun Cinta Niyala. Kedua novel mini tersebut layak dijadikan sebagai bacaan yang menghibur dan mencerahkan. Selamat membaca dan menemukan pesan-pesan berharga dalam buku ini.
Tag
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng: Ketika Ide Menjadi Komoditas
-
House of the Dragon Season 2: Ambisi Berdarah Para Penguasa yang Memanas!
-
Mirah Singa Betina dari Marunda: Perjuangan dan Welas Asih Pendekar Wanita
-
Di Balik Kesuksesan The Glory: Potret Kelam Korban Bullying
-
Menakar Ego, Hak Cipta, dan Harmoni yang Hilang di Film Power Ballad
Terkini
-
Comeback OH MY GIRL Ditunda, Album Grup Dijadwalkan Ulang Rilis 2027
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Hunter x Hunter Terbitkan Bab Baru Setelah 18 Bulan, Volume 39 Rilis 3 Juli
-
Gen Z Begadang Demi Nonton Piala Dunia: Hobi, Me Time, atau Sekadar FOMO?
-
Komi Can't Communicate Kembali! Bab Spesial Baru Resmi Dirilis