Orang Jawa dikenal memiliki falsafah hidup atau semacam peribahasa bijaksana yang menjadi acuan atau pedoman dalam menjalani kehidupan keseharian. Buku berjudul Kitab Nasihat Hidup Orang Jawa memuat sekumpulan falsafah hidup orang-orang Jawa yang penting untuk diketahui oleh para pembaca.
Salah satu peribahasa Jawa yang diuraikan dalam buku ini misalnya tega larane ora tega patine. Artinya, tega sakitnya tidak tega atas kematiannya. Peribahasa ini merupakan gambaran dari eratnya ikatan persaudaraan di Jawa. Meskipun antar-saudara sering bertengkar, namun kalau terjadi kesulitan dan penderitaan, mereka tetap akan saling menolong.
Dalam menjalani karier atau pekerjaan, yang terpenting adalah bekerja dengan giat dan tekun terlebih dahulu. Tentang hasilnya, kita akan melihat belakangan. Kalau kita bekerja dengan giat, tekun, rajin, bersungguh-sungguh, tentu hasil yang akan diperoleh juga akan memuaskan. Jangan sampai belum bekerja, kita sudah menginginkan hasil. Belum melakukan sesuatu dengan maksimal tapi ingin memperoleh pendapatan besar. Hal semacam ini tentu keliru.
Peribahasa Jawa mengatakan, sepi ing pamrih, rame ing gawe. Artinya, sepi atau jauh dari pamrih berlebihan, ramai dalam bekerja. Peribahasa ini sangat pas untuk memotivasi kita agar mengutamakan bekerja dengan giat dan baik lebih dulu, serta jangan memiliki pamrih pribadi yang berlebihan. Sebab, pamrih berlebihan dapat mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan cita-citanya (halaman 44).
Dalam menjalani kehidupan keseharian, hendaknya kita selalu berusaha bersikap baik dengan sesama. Misalnya berbuat baik kepada orangtua, para kerabat, dan tetangga sekitarnya. Jangan sampai memiliki niat buruk semisal ingin berbuat jahat terhadap orang lain. Orang yang berlaku jahat terhadap sesama, sejatinya sedang menanam kejahatan untuk dirinya sendiri.
Peribaha Jawa mengatakan, ngundhuh wohing pekerti. Artinya, memetik hasil perbuatan sendiri. Sebagaimana petani, ketika menanam padi, pada saatnya nanti akan menuai padi, bukan jagung. Jika menanam kacang, maka akan memanen kacang, bukan mendapatkan ketela pohon. Peribahasa ini merupakan kiasan mengenai orang yang melakukan perbuatan buruk. Sebab, ia juga akan memperoleh pembalasan buruk, kelak di kemudian hari (halaman 53-54).
Terbitnya buku Kitab Nasihat Hidup Orang Jawa yang disusun oleh Iman Budhi Santosa ini bagus dijadikan bacaan yang menggugah bagi kita semua.
***
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Kementan Lakukan Langkah Strategis untuk Cegah PMK di Jawa Timur
-
Nyala Perjuangan di Bumi Anbiya, Ulasan Antologi Hingga Batu Bicara
-
H+4 Lebaran Ada 353 Ribu Kendaraan Lintasi Jalur Nagreg, Dishub: Prediksinya Nanti Malam Akan Lebih Banyak
-
Tanjakan Gentong Macet Bawa Rezeki untuk Tim Ganjal Kendaraan, Publik: Sehat Selalu Pejuang Nafkah
Ulasan
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
-
Ulasan "Limited Time", Novel Korea dengan Kisah Remaja yang Menyentuh
-
Drama Study Group, Ketika Hierarki Sekolah Ditentukan oleh Kekuatan Fisik
Terkini
-
Mengejar Koruptor Tak Perlu ke Antartika! Cukup Penegakan Hukum Konsisten
-
Argentina ke Semifinal! Rating Pemain Jadi Sorotan Usai Tumbangkan Swiss
-
Budaya 'Kondangan Akademik' Mahasiswa: Bentuk Dukungan atau Tekanan Sosial?
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026