denny suryadilaga
denny suryadilaga
Ilustrasi bengkel kereta yang melayani overhaul lokomotif, gerbong dan kereta.[pixabay/DS30]

Ayo siapa yang pernah ke Centraal Werkplaats atau Balai Yasa Pengok, Yogyakarta. Bengkel kereta untuk perbaikan lokomotif Diesel ini punya sejarah panjang perkeretaapian mulai dari jaman Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, masa kemerdekaan hingga saat ini.

Dilansir dari heritage.kai.id Balai Yasa Pengok ini sudah ada sejak tahun 1914 dan sesuai dengan fungsinya.  Balai Yasa ini berdekatan dengan Statsiun Tugu dan sudah tiga kali berganti nama. Wah, menarik yah lantas ada fakta sejarah apalagi yang di Balai Yasa Pengok ini, kita telusuri bersama di bawah ini yah.

1. Dibangun tahun 1914

Untuk merawat dan memperbaiki lokomotif usai mengangkut hasil bumi seperti teh, kopi, gula dan lainnya, Nederland Indische Spoorweg Maatschapij (NISM) tahun 1914 membangun Centraal Werkplaats Pengok, Yogyakarta. Adapun tugas pokoknya adalah melaksanakan perbaikan besar (overhaul) lokomotif, gerbong dan kereta.

2. Tiga Kali Berganti Nama

Pada tahun 1914, bernama Centraal Werkplaats, kemudian pada 28 September 1945 oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) namanya berubah menjadi Balai Karya. Kemudian di tahun 1959, Balai Karya diubah lagi menjadi Balai Yasa Traksi dan tugas pokoknya melaksanakan overhaul lokomotif Diesel Hidrolik (DH) maupun Diesel Electrik (DE) sampai sekarang.

3. Saksi Bisu Pemindahan Ibu KotaMenurut Vice President (VP) Public Relations KAI Joni Martinus, dari buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia, Dulu, Kini dan Mendatang, Balai Yasa Pengok, Yogyakarta menjadi saksi bisu saat perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta karena alasan keamanan.

"Di Balai Yasa Pengok, Yogyakarta, Kereta Luar Biasa (KLB) yang ditarik Lokomotif C 2849 menjalani pemeriksaan dan perawatan dalam peristiwa bersejarah itu" ujarnya.

Dengan Alasan keamanan pada 4 Januari 1946 sampai 17 Agustus 1950 Ibu kota Jakarta pindah ke Yogyakarta. Dalam proses perpindahan tersebut, Presiden memilih menggunakan kereta sebagai sarana transportasinya. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta beserta rombongan lainnya menggunakan KLB yang ditarik lokomotif C 2849. Rombongan turun di statsiun Yogyakarta, sedang KLB terus bergerak ke Balai Yasa Pengok untuk menjalankan pemeriksaan dan perawatan.

4. Bengkel Lokomotif Terbesar di Indonesia

Memiliki luas tanah 128.800 m2 dan luas bangunan 43.700 m2 menjadikan Balai Yasa Pengok ini sebagai bengkel perbaikan lokomotif terbesar di Indonesia. Adapun secara garis besar tugas pokok Balai Yasa Pengok adalah Merencanakan dan melaksanakan program pemeliharaan serta perbaikan lokomotif, baik Pemeliharaan Akhir (PA), Semi Pemeliharaan Ahir (SPA), Perbaikan/Rehabilitasi (PB/RH), maupun Modifikasi (MOD).

Selain itu juga menjamin kualitas hasil pemeliharaan dan perbaikan lokomotif dari Dipo dan dan mempertahankan lokomotif yang siap operasi di lintas.

Nah, itu dia 4 fakta sejarah dari Balai Yasa Pengok yang mewarnai perjalanan panjang "si ular besi" di Indonesia.

Komentar