Buku ini terdiri dari dua poin, pertama bagian yang menceritakan kembali pengalaman kelam yang pernah ia alami selama menjadi tawanan. Bagian berikutnya menjelaskan tentang Logoterapi, aliran ilmu psikologi yang dikembangkan oleh Viktor E Frankl, bagaimana dia bisa menjalani hidup pasca pembebasan.
Identitas Buku
Judul : Man's Search For Meaning
Genre : Sejarah
Penerbit : Noura Books
Penulis : Viktor E Frankl
Penerjemah : Haris Priyatna
Halaman : 202 hlm
ISBN: 978-602-385-416-6
Tentang Penulis
Dr. Viktor E. Frankl adalah seorang neurolog dan psikiater terkemuka di Eropa. Teorinya dikenal sebagai logoterapi. Hingga wafat pada 1997, dia telah menulis puluhan buku yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Selama Perang Dunia II, dia tinggal di kamp selama 3 tahun di Auschwitz, Dachau, dan kamp konsentrasi lain.
Sinopsis Buku
Seperti yang dijelaskan di awal, buku ini berisi 2 poin utama yang menjadi pembahasan. Poin pertama membahas mengenai Pengalaman di Kamp Konsentrasi, dan poin kedua membahas tentang Logoterapi secara ringkas.
Pada poin pertama, dijelaskan bahwa Viktor menjadi tawanan dan berada di kamp konsentrasi selama 3 tahun. Dia menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari di sana, bagaimana kejamnya perlakuan Nazi terhadap tawanan. Dia yang lemah dan tak bisa bekerja langsung dikirim ke kamar gas. Tak jarang mereka saling berebut makanan, meskipun hanya sepotong roti dan semangkuk sup cair, tapi bagi mereka itu harta yang paling berharga.
Berada di lingkungan kematian, membuat tawanan berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja meskipun pada kenyataannya mereka sakit, lemah, dan tak berdaya. Perubahan lingkungan yang sangat drastis seperti ini membuat kondisi psikis tawanan juga berubah. Itulah poin yang kemudian dijelaskan oleh Viktor mengenai konsep logoterapi yang dikembangkannya, menjalani hari pasca pembebasan tentu bukan perkara yang mudah.
Dan lebih tepatnya buku ini tentang upaya bertahan hidup, sungguh keajaiban yang sangat besar karena pada akhirnya dia bisa selamat.
Ulasan
Buku yang sangat bagus, memperkaya pengetahuan, meskipun pada akhirnya semakin lama saya membaca semakin tahu pula bagaimana kejamnya Nazi saat itu dan mengutuk dalam hati. Syukurlah saat ini kita hidup dalam keadaan damai, dan selamanya akan tetap damai.
Baca Juga
-
Bikin Pekerjaanmu Jadi Lebih Mudah dengan 5 Aplikasi Kecerdasan Buatan Ini
-
Jangan Diremehkan, Inilah 5 Skill Dasar yang Harus Dikuasai Pekerja
-
Cari PTN yang Fleksibel? Simak Ulasan Kampus Universitas Terbuka Berikut
-
Terapkan Aturan Dua Menit, Inilah Cara Efektif Membentuk Kebiasan Baru
-
Inilah Alasan Mengapa Seseorang Memutuskan untuk Hiatus Media Sosial
Artikel Terkait
-
Sindiran Telak Novel Baswedan Ke Ketua KPK Soal Harun Masiku: Kalau Tidak Mampu Tangkap Bisa Minta Bantu Kami
-
Ngaku Tak Susah Tangkap Harun Masiku jika Dilibatkan KPK, Novel Baswedan: Harusnya Firli yang Tak Boleh Tidur Nyenyak!
-
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati Tiap Tanggal 20 Mei
-
Menilik Sejarah Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati Tanggal 20 Mei
Ulasan
-
Ketika Darah Rakyat Mengakhiri Takhta: Sumatera dalam Kacamata Anthony Reid
-
Seni Menganyam Horor Gotik: Menyelami Jiwa Kreatif di Film I Am Frankelda
-
Bukan Sekadar Superhero: Sisi Gelap Spider-Noir yang Menampar Realita
-
Review Never Change!: Komedi Absurd yang Kacau, Gila, dan Sulit Dijelaskan
-
Adaptasi yang Belum Tuntas: Dilema Film Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Terkini
-
Mahasiswa Demo Atas Nama Rakyat: Tapi Rakyat yang Mana?
-
Pelajar SMP Indonesia Juara ESD Symposium di Malaysia, Kalahkan Peserta SMA dari Berbagai Negara
-
Resmi, My Life With the Walter Boys Season 3 Siap Tayang pada Agustus 2026
-
Di Balik Kenaikan Tarif Visa Jepang: Ada Saringan Kelas yang Disembunyikan?
-
Sindrom Ring of Fire: Mengapa Gempa Jepang Bikin Kita Refleks Panik?