Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Poster Film The Stringer: The Man Who Took the Photo (Netflix)
Athar Farha

Salah satu kegunaan foto ialah mengabadikan momen, ada pula yang mengguncang nurani dunia. Dan kadang, di balik potret yang menghantui sejarah, kita menemukan kisah yang jauh lebih rumit dari yang pernah diberitakan. 

Nah, Film The Stringer: The Man Who Took the Photo adalah dokumenter yang bergerak tepat di antara luka sejarah, dan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berhak diingat.

Disutradarai Bao Nguyen asal Vietnam yang sebelumnya menggarap ‘Be Water’ dan menggandeng Netflix Documentary Films. Seperti biasa dalam dokumenter gaya investigasi, jajaran pemerannya terdiri dari orang-orang nyata yang berperan sebagai narasumber. Ada siapa saja? 

  • Gary Knight – fotografer dan saksi perjalanan pencarian
  • Carl Robinson – mantan editor foto Associated Press di Saigon
  • Nick Ut – fotografer AP yang selama puluhan tahun memotret tragedi napalm
  • Kim Phuc – penyintas dan ikon perdamaian
  • Jurnalis dan fotografer lainnya: Fiona Turner, Terri Lichstein, serta Tom Fox

Penasaran dengan Kisahnya?

Bagian dari Poster Film The Stringer: The Man Who Took the Photo (Netflix)

Dokumenter ini tayang sejak 28 November 2025 dan berangkat dari satu titik: foto anak-anak Vietnam berlari ketakutan setelah serangan napalm pada 8 Juni 1972. Di pusat gambar itu, ada gadis kecil bernama Kim Phuc yang telanjang dan menangis. 

Selama hampir setengah abad, dunia meyakini foto itu diabadikan Nick Ut, fotografer Associated Press. Yang bahkan memenangkan Pulitzer dan menjadi figur penting dalam narasi sejarah perang Vietnam.

Namun, film ini mempertanyakan hal kritis. Bagaimana jika orang yang benar-benar menekan tombol kamera itu bukanlah Nick Ut?

Lewat perjalanan Gary Knight dan Carl Robinson, dokumenter ini membuka kembali arsip, memeriksa ingatan, serta menelusuri jejak seorang stringer (fotografer lokal yang fotonya mungkin telah mengubah dunia, tapi identitas dan hak atas karyanya hilang begitu saja ditelan institusi besar.

Asli, menarik banget!

Impresi Selepas Nonton Film The Stringer: The Man Who Took the Photo

Scene Film Film The Stringer: The Man Who Took the Photo (Netflix)

Saat nonton Film The Stringer: The Man Who Took the Photo, aku kayak lagi membaca ulang bab sejarah yang ternyata selama ini hanya dituliskan dari satu sisi saja. Film ini nggak mencoba menjatuhkan siapa pun, tapi membuka pintu kecil yang mengarahkan kita untuk mempertanyakan apa saja yang bisa hilang dalam proses ‘pencatatan sejarah’, terutama saat kekuasaan lembaga media ikut terlibat.

Aku suka dengan bagaimana film dibuka dengan kalimat seorang fotografer, "Saat memotret dengan film, selalu ada misteri, tapi yang paling jelas adalah apa yang nggak kamu ambil."

Kalimat itu seperti petunjuk rahasia. Semakin jauh film berjalan, semakin aku merasa bahwa yang dimaksud bukan sekadar tentang teknis fotografi, melainkan misteri moral, tentang siapa yang diakui, siapa yang dihapus, dan mengapa.

Di titik ini, film mulai terasa seperti kupasan bawang. Lapisan demi lapisan dilepas, dan setiap lapis membuatku sedih. Bukan karena sedih saja sih, tapi karena kesadaran bahwa sejarah sering kali nggak sesederhana halaman buku.

Bagiku, Film The Stringer: The Man Who Took the Photo bukan dokumenter yang menjawab semua misteri. Melainkan mengajak kita mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja. Siapa yang mendapatkan kredit dalam sejarah? Siapa yang hilang? Dan apakah keadilan bisa diberikan setelah setengah abad berlalu?

Coba deh buka Netflix dan tonton film ini. Menurutku lagi, buat Sobat Yoursay yang menyukai dokumenter investigatif, film ini menawarkan thrill tersendiri. Dan buat yang peduli etika jurnalisme, film ini ibarat pengakuan dosa kolektif. Jangan ragu nonton dan selamat nonton ya.