Novel remaja berjudul Strowberry Shortcake karya Ifa Avianty ini menarik disimak. Berkisah tentang Sophia, seorang gadis remaja yang akhirnya memutuskan untuk mengenakan jilbab. Dikisahkan, Sophia adalah gadis yang terlahir dari sebuah keluarga yang cukup berada. Namun dia merasakan anggota keluarganya cuek padanya.
Sophia beruntung memiliki sahabat bernama Lila yang bisa diajak buat curhat atau bercerita tentang banyak hal, termasuk persoalan-persoalan hidupnya. Tak hanya itu, Sophia juga memiliki teman dekat seorang lelaki, bernama Bayu. Meski mereka berbeda karakter, tapi justru malah membuat keduanya kian akrab. Berikut ini saya kutip dua paragraf tentang latar belakang keluarga Sophia dan Bayu.
Keluargaku yang terdiri atas papa yang superdupersibuk, mama yang ibu rumah tangga sibuk dengan kateringnya, dan ketiga kakak laki-lakiku yang juga supersibuk sama urusan masing-masing. Keluargaku yang cuek.
Sementara keluarga Kang Bayu yang bangsawan dan terlalu pakai tata krama ini dan itu. Yang kaku dan penuh aturan ini dan itu. Yang memandang manusia dari warna darah dan banyak hartanya. Untunglah, karena orangtuaku cukup berada, aku tak terlalu sulit masuk ke keluarganya.
Memang, seiring berjalannya sang waktu, persahabatan antara Sophia dan Bayu tak sekadar sahabat belaka. Keduanya, merasa saling menyukai satu sama lain. Hingga akhirnya, sifat dan perilaku Bayu mulai berubah ketika dia masuk SMA. Dia berusaha untuk mendalami agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dia mengikuti sejumlah ekskul, juga bergabung dengan Rohis atau Rohani Islam. Sejak masuk Rohis itulah Bayu tampak bertambah alim.
Begitu juga, ketika Sophia yang usianya di bawah Bayu lulus SMP dan masuk SMA, ia merasa ingin mengubah perilakunya. Ia memutuskan untuk masuk Rohis. Saat masuk SMA ia memang belum mengenakan jilbab. Saat bersentuhan dengan Rohis itulah, ia mulai merasakan sendiri serbuan ombak yang lembut itu membasahi dinding-dinding hatinya. Ia mulai merasakan bahwa keislamannya saat itu amat jauh dari cukup untuk dapat dibanggakan kelak di mata Allah.
Akhirnya, Sophia pun memutuskan untuk mengenakan jilbab. Untunglah, seluruh keluarganya yang semula ia anggap cuek, ternyata malah mendukung keputusannya. Ternyata keluarganya perhatian dan sayang padanya. Bayu juga mendukung.
Yang menjadi persoalan adalah para guru di sekolah ternyata meminta para siswi untuk melepas jilbab saat jam pelajaran sedang berlangsung. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Sophia dan teman-temannya yang telah memutuskan untuk mengenakan jilbab.
Kisah Sophia, gadis yang menyukai strowberry shortcake masih panjang dan berliku. Novel yang terbit tahun 2006 tersebut layak dibaca dan renungi pelajaran berharga yang tersimpan di dalamnya.
Baca Juga
-
Menghardik Gerimis, Menikmati Cerita-Cerita Pendek Sapardi Djoko Damono
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
-
Kenapa Luka Batin Tidak Pernah Hilang? Mengungkap 'Kerak' Trauma yang Membentuk Diri Anda
-
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta: Memahami Rasa Lewat Sajak Tere Liye
-
Inspirasi Kebijaksanaan Hidup dalam Novel Sang Pemanah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Ngaji Rasa: Ketika Hati Menjadi Ruang Belajar yang Paling Jujur
-
Gerundelan Penulis Kere: Kontradiksi Idealisme dan Hegemoni Kapitalisme
-
Refleksi Ketika Negara, Gereja, dan Rakyat Bertabrakan di Oetimu
-
Review Film The Super Mario Galaxy Movie: Seru tapi Terasa Hambar
-
Ulasan Novel Tukar Takdir, Membayar Harga untuk Hidup yang Bukan Milikmu
Terkini
-
Bioindikator yang Terabaikan: Ketika Katak Tak Lagi Bernyanyi
-
Main ke Dapur Kopi Gayo: Dari Petik Manual Sampai Jadi Kopi Spesial Dunia
-
Acara Park Bo Gum "The Village Barber" Konfirmasi Adanya Musim ke-2!
-
Buru-Buru Malah Berujung Malu: Seni Mengelola Kesabaran di Jalan Raya
-
iPad Air 11 Inci (M3): Kecil-Kecil Cabe Rawit, Performa Bukan Kaleng-Kaleng