Rampak beduk adalah salah satu kesenian memainkan beduk yang khas dari Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Rampak mempunyai arti serempak. Jadi, rampak beduk berarti seni menabuh beduk secara serempak sehingga menghasilkan suara dan irama yang khas dan enak didengar.
Dalam rampak beduk, waditra atau instrumen yang digunakan adalah satu beduk besar yang berfungsi sebagai bass, satu set beduk kecil sebagai pengatur irama dan tempo, serta ting tir sebagai penyelaras irama lagu. Ditambah, anting caram dan anting karam sebagai pengiring lagu dan tari.
Sedangkan gerakan tari rampak beduk menampilkan sikap-sikap yang ada di pencak silat, seperti catrok, selut, gebrak, gojlok, gilas kombinasi, ping-ping cak-cak, haji salam, nangtang, celementre, rurudatan, antingsela, sela gunung, dan gerakan yang lainnya.
Untuk kostum, para pemain dan penari rampak beduk biasanya menggunakan busana muslim dan muslimah. Kostum para pemainnya kemudian dikreasikan dengan menambahkan unsur budaya, tradisional, dan modern dengan tetap mempertahankan kesopanan dan religi.
Luar biasanya adalah semakin berkembangnya zaman, kesenian rampak beduk semakin dikenal dan diminati oleh anak-anak sekolah dan mahasiswa. Mereka berlatih di sanggar-sanggar yang ada di daerah Pandeglang, seperti Sanggar Seni Ciwasiat, Sanggar Seni Harum Sari, atau Sanggar Seni Kembang Tanjung. Selain itu, kesenian ini sudah menjadi ekstrakurikuler di beberapa sekolah dan dilatih oleh para pegiat seni di Pandeglang.
Mereka kemudian mempertunjukkan keahliannya dalam menari dan menabuh beduk dalam acara-acara yang biasanya menampilkan kesenian khas daerah, seperti pada saat acara penglepasan siswa di sekolah, acara pemerintahan daerah, pembukaan suatu lomba, hajatan besar, dan acara seni lainnya. Dengan tabuhan beduk yang berirama khas dan lenggak-lenggok tarian yang gemulai, mereka melakukannya dengan penuh rasa semangat.
Berbeda pada zaman dulu di mana kesenian ini mulai dimainkan. Menurut sejarah, pada tahun 1950-an adalah awal mula diadakannya pentas rampak beduk. Itupun dilakukan dengan tujuan sebagai perlombaan antar kampung. Selain itu, tujuan diadakannya pentas ini adalah sebagai hiburan rakyat dalam menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Jadi, rampak beduk pada mulanya adalah untuk menyemarakkan hari-hari besar dalam agama Islam.
Cara mempertunjukkannya pun berbeda dengan zaman sekarang. Rampak beduk dulu dimainkan dengan cara ngabedug atau ngadulag. Dua istilah ini mempunyai arti menabuh waditra beduk dengan alat musik berupa kohkol dan kentongan kayu dengan penampang ditutupi kulit kerbau. Dalam pertunjukkan ini semua pemainnya adalah laki-laki yang menabuh beduk besar, beduk kecil, dan tong trong. Hanya itu, tanpa diiringi dengan tarian dari para penari perempuan.
Kemudian sepuluh tahun ke depan, tepatnya sekitar tahun 1960-1970, Haji Ijen dan ketiga sahabatnya; Burhata, Juju, dan Rahmat, menciptakan dan mengembangkan suatu tarian kreatif ke dalam seni rampak beduk. Selain penabuh beduk yang harus memainkan waditra beduk dengan kompak, kesenian ini juga digabungkan dengan gerakan-gerakan tari sehingga terlihat lebih menarik dan atraktif. Rampak beduk kemudian dimainkan secara berpasangan antara penabuh beduk laki-laki dan para penari perempuan. Jumlahnya sekitar lima sampai delapan pasang.
Tidak semua orang dapat memainkan rampak beduk. Kesenian ini hanya dapat dilakukan oleh para penabuh dan penari yang telah terlatih. Mereka harus mempunyai keterampilan yang baik dalam menabuh beduk agar menciptakan irama indah, juga menyelaraskannya dengan gerakan tarian.
Makanya, mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai jenjang perguruan tinggi, banyak yang berlatih untuk dapate mmainkannya. Lebih lama mereka berlatih akan lebih menjiwai tabuhan dan tariannya, sehingga kekompakkan dapat terjalin dengan baik dan lebih rapi.
Sekarang, kesenian rampak beduk bukan hanya dipertunjukkan dan dikembangkan di kabupaten Pandeglang saja, tetapi telah menyebar ke berbagai wilayah di Banten.
Baca Juga
-
Mengenal Budaya dan Pembuatan Kain Tenun Suku Baduy di Banten
-
Spearfishing di Pantai Anyer, Seru dan Anti-gagal
-
5 Daya Tarik Anyer yang Tak Terlupakan, Lebih dari Sekadar Pantai dan Hotel Mewah
-
Mengenal Masjid Kuno Berusia 400 Tahun di Kota Badak Pandeglang
-
Setelah Tsunami dan PPKM, Kawasan Wisata Tanjung Lesung Tertata Lebih Rapi
Artikel Terkait
-
21 Calon Jamaah Haji Tangerang Gagal Berangkat, Ini Alasannya
-
Tahun Depan Pegawai Non ASN Resmi Dihapus, Honorer di Pandeglang: Nasib Kami Bagaimana?
-
Kasus Covid-19 di Indonesia Kembali Bertambah: Banten 36 Orang
-
Rampas Ponsel Warga Vila Tangerang, Polisi Gadungan 43 Tahun Ditangkap, Ini Tampangnya!
Ulasan
-
Membaca Cerita dari Digul: 5 Kisah Eks Tahanan oleh Pramoedya Ananta Toer
-
Di Ujung Tahta Pajajaran: Tragedi dan Intrik Politik di Akhir Kekuasaan
-
Ulasan Novel Strange Buildings, Menguak Dosa di Balik Dinding-dinding Rumah
-
Log In: Mengetuk Pintu Toleransi Tanpa Harus Salah Paham
-
Novel "Angin dari Tebing 2", Ketika Cerita Anak Menjadi Cermin Kehidupan
Terkini
-
Kenapa Suasana Bandara Selalu Terasa Emosional? Ternyata Ini Alasannya
-
Yeji ITZY Alami Hernia Diskus, Partisipasi di Konser TUNNEL VISION Dibatasi
-
Klub Main Bareng: Tempat Nongkrong Anti-Kaku bagi Para Pencinta Kreativitas di Bangka
-
The Quintessential Quintuplets Umumkan Dua Proyek Anime Baru, Ini Detailnya
-
Gandeng Khalid, Ahn Hyo Seop Siap Rilis Single Something Special