Cerita yang ditulis oleh Suyatno dengan judul Kisah Sepulang Sekolah ini, bermula dari seorang anak yatim yang menemukan dompet di pinggir jalan sepulangnya dari sekolah.
Anak yang bernama Fahmi ini memang lain dari kebanyakan teman-temannya. Saat yang lain naik sepeda dan ada sebagian yang diantar jemput oleh bapak-ibunya, sementara Fahmi seorang diri berjalan kaki menuju sekolah.
Fahmi tahu bahwa dirinya harus berhati-hati di jalan agar tidak tertabrak kendaraan. Ia tidak ingin celaka seperti yang dialami ayahnya setahun yang lalu. Fahmi tetap tabah dan ikhlas menerima kenyataan bahwa ia tidak punya ayah yang mau mengantarnya ke sekolah, dan ia tidak dilahirkan di tengah keluarga kaya raya, sehingga tidak mampu membeli sepeda.
Dalam perjalanan sepulang sekolah, tiba-tiba ia menemukan dompet yang terjatuh di pinggir jalan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada orang yang mencarinya.
Dengan sedikit keberanian, ia membuka dompet itu. Akhirnya, ia mengetahui bahwa dompet itu berisi surat-surat penting. Setelah cukup lama menunggu, tiba-tiba dari arah belakangnya melintas sebuah mobil berjalan pelan dan membuka kaca sampingnya.
Pengemudi mobil itu celingak-celinguk mencari sesuatu. Fahmi pun merasa bahwa pengemudi itu adalah pemilik dompet yang ia temukan tadi.
Setelah pengemudi tersebut menyebutkan ciri-ciri dompet, Fahmi menyerahkan dengan ikhlas. Pengemudi itu pun menjulurkan uang sebagai imbalan kepada Fahmi, tetapi Fahmi menolaknya.
Pengemudi tersebut penasaran kepada anak baik, sopan dan tampan itu. Ia pun memaksa Fahmi untuk mengantarnya pulang sampai ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ibu Fahmi yang muda dan terlihat cantik sedang menyambut mereka. Pengemudi mobil pun mengenalkan diri ke ibu Fahmi dan mengutarakan awal pertemuannya dengan Fahmi. Ibu Fahmi semakin sayang sebab kejujuran anaknya.
Pengemudi yang bernama Bapak Maulana itu ternyata seorang duda yang setahun lalu ditinggal mati istrinya sebab penyakit kanker.
Ia bercerita bahwa masih belum punya anak. Seminggu kemudian, Bapak Maulana kembali ke rumah Fahmi dan meminta nomor teleponnya. Komunikasi pun lancar, dan keduanya sering bertemu.
Akhirnya, jalinan semakin erat dan Bapak Maulana melamar Ibu Fahmi untuk menjadi istrinya. Ibu Fahmi yang juga diam-diam kagum kepada Bapak Maulana setuju dan Fahmi yang telah lama merindukan sosok ayah juga menyetujuinya. Mereka akhirnya hidup bahagia.
Cerita ini tentunya sangat bermanfaat bagi seorang anak untuk penanaman sifat jujur dan ikhlas dalam menolong orang lain. Inilah cerita anak yang membantu orang lain dengan mengembalikan barang temuannya. Sebagai buah dari kejujurannya, ia dapat hadiah yang kekal sepanjang masa.
Kisah dalam buku ini dituturkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan disertai gambar menarik sehingga asyik dibaca. Selamat membaca!
Baca Juga
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
-
Meracik Penawar Luka Sendiri dari Buku Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri: Tak Semua Rumah Menjadi Tempat Pulang
Artikel Terkait
-
Anak Atta Halilintar Pakai Dress Lucu Seharga Rp12 Juta, Netizen: Nyucinya Gimana Ya?
-
Bapak Tonton Wanita Cantik di TikTok, Sang Anak Murka Hingga Lakukan ini
-
Ustaz Abdul Somad Endorse Kacamata, Warganet Malah Tagih Salat Gaib untuk Eril
-
Pria dari Afrika Datang ke Gedung Pakuan untuk Doakan Eril, Atalia Praratya Ucap Terima Kasih
-
Ibu Wenny Ariani Meradang Saat Disinggung Soal Masa Lalu Wenny Ariani Dan Rezky Aditya
Ulasan
-
Dibalik Sangar dan Brutalnya Aksi Agent Kim Reactivated, Ada Kisah Ayah dan Anak yang Menguras Emosi
-
Review Drama My Mister: Mahakarya Slice-of-Life tentang Beban Hidup dan Empati Kemanusiaan
-
Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
-
Keajaiban Membaca dalam When You Love a Book Karya Kaz Windness
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
Terkini
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Bukan Sekadar Visual, Ini Alasan Drama Korea Jadi Terapi 'Healing' Paling Favorit
-
Di Balik Ilusi Media Sosial dan Ekspektasi: Belajar Hadir dan Menerima Jalur Hidup yang Tak Linear
-
Ketika Perjuangan Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Enak, ya, Jadi Kamu"