Setiap orang punya cita-cita dan keinginan untuk menggapai impian yang selama ini diharapkan. Sekuat tenaga mereka akan berusaha hingga impian yang diharapkan bisa digapai. Namun, kadang ada orang yang selalu dihinggapi perasaan pesimis, sehingga dia selalu merasa tidak mampu melakukan apa yang harus dikerjakan demi tercapainya cita-cita.
Padahal, harapan adalah sebuah niscaya dalam kehidupan manusia. Jika semua orang berhenti berharap, maka keberlangsungan hidup manusia di muka bumi tidak akan berjalan sebagaimana semestinya. Sebaliknya, justru akan banyak kehancuran yang akan menjadi hantu dalam kehidupan.
Dalam buku Hidup Sering Kali Tidak Baik-baik Saja yang diterjemahkan dari kitab Izhatun Nasyi’in, kita akan menimba ilmu bagaimana menjalani hidup yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak? Zaman sudah berubah. Perubahan yang terjadi membuat manusia selalu dirundung sedih. Bahkan, tak jarang dihinggapi rasa pesimis oleh berbagai persoalan hidup yang melanda manusia.
Penulis menjelaskan, dalam bekerja, seseorang harus memiliki keyakinan bahwa usahanya akan membuahkan hasil yang baik dan bermanfaat. Baik itu untuk diri sendiri secara khusus, maupun untuk sesama, sehingga kebaikannya dapat dirasakan oleh seluruh kalangan dalam lingkungannya.
Jangan sampai kita berhenti berharap dengan mengatakan kalau diri ini lemah, tidak mampu bekerja, dan segala macam alasan yang bisa melumpuhkan keinginan dan cita-cita. Yakinlah bahwa kekuatan harapan akan menentukan keberhasilan. Hidup harus dilalui dengan optimis agar mimpi yang kita ukir bisa diraih dengan penuh suka cita.
Orang yang selalu dipenuhi sikap oprimis adalah mereka yang benar-benar mengetahui bahwa harapan merupakan pendorong untuk bergerak maju dan menjadi sebab tercapainya keberhasilan.
Buku ini sarat dengan nilai inspirasi dan motivasi yang dapat menggugah siapa pun yang selama ini selalu dihinggapi rasa pesimistis dalam menjalani hidup. Sebagaiman pesan dalam buku ini, optimisme harus bisa menjadi identitas dan cita-cita. Jangan sampai kita lemah dan berputus asa sehingga bisa mematikan cita-cita. Impian dan cita-cita harus bisa diraih dengan penuh semangat dan bekerja keras. Jangan berhenti berharap sampai mimpi dan cita-cita berada dalam genggaman.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Dari Carnaby Street ke New York: Realitas yang Menampar dalam The Look
-
Taman Sekartaji Kediri: Tempat untuk Menepi Ketika Dunia Terlalu Riuh
-
Review Jujur Dilan ITB 1997: Apakah Layak Ditonton atau Hanya Mengandalkan Nostalgia?
-
Mengulik Didikan Keras yang Mencetak Mega Bintang, Film Michael
Terkini
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
-
Perempuan Bergaun Kuning yang Duduk di Atap Rumah Lek Salim