Sosok Wikana salah satu tokoh yang juga berperan penting saat pembacaan naskah proklamasi Indonesia. Pasalnya, berkat koneksi Wikana di Angkatan Laut Jepang atau Kaigun, Proklamasi 1945 bisa dirumuskan di rumah dinas Laksamana Maeda di Menteng yang terjamin keamanannya. Wikana juga sempat menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) bawah tanah di Jawa Barat. Di samping itu, ia termasuk ketua pertama Barisan Pemuda Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang didirikan pada tahun 1938.
Wikana dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, tepat pada tanggal 18 Oktober 1914. Ia adalah putra dari Raden Haji Soelaiman, pendatang dari Demak, Jawa Tengah merupakan seorang priyayi yang sangat dihormati, seperti yang dikutip dalam buku “Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan” karangan Johan Prasetya.
Pendidikan Wikana bisa dibilang cukup baik, setelah menyelesaikan sekolahnya di Europeesch Lagere School (ELS), ia melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung. Masa muda Wikana banyak aktif sebagai Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru. Sementara pada zaman kolonial, Wikana pernah memimpin PKI bawah tanah di Jawa Barat dan berkawan dekat tokoh PKI bawah tanah di Jakarta, yakni Widarta.
Bukan hanya sebagai anggota PKI, Wikana juga pernah bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) yang didirikan oleh Mr. Sartono pada tahun 1931 pascapenangkapan Soekarno. Ketika Barisan Pemuda Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan pada tahun 1938, Wikana terpilih sebagai ketua pertama. Melalui sikap Wikana yang antikolonialisme membuat ia aktif di berbagai organisasi politik dengan melawan Belanda secara frontal.
Saat peristiwa Proklamasi, Wikana banyak berperan dan mempersiapkan pembacaan Proklamasi bisa berlangsung. Saat itu, Wikana juga bertindak untuk membujuk kalangan militer Jepang agar tidak mengganggu jalannya pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Usai kemerdekaan Indonesia, karier Wikana pun menanjak. Wikana dipercaya sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda dalam Kabinet Sjahrir II dan III. Namun pada saat peristiwa Madiun 1948 yang melibatkan oknum PKI, meskipun Wikana belum tentu terlibat dalam pemberontakan itu, membuat posisinya sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta digantikan oleh Gatot Subroto.
Pada saat terjadi peristiwa G30S PKI tahun 1965, Wikana bersama tokoh PKI lainnya sedang berada di Peking untuk menghadiri perayaan hari nasional Cina 1 Oktober 1965. Terdengar kabar dari tanah air bahwa terjadi penculikan para jenderal dan PKI yang disalahkan. Wikana meminta kepada anggota PKI yang lain untuk tetap berada di Peking untuk menunggu berita yang simpang siur itu. Hingga pada akhirnya, Wikana pun pulang ke tanah air.
Kurang dari setahun dari peristiwa G30S PKI 1965 tersebut, Wikana pun ditangkap. Segerombolan tentara yang tak dikenal mendatangi rumah kediaman Wikana di jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Wikana dibawa para tentara itu sampai hari ini. Hilangnya Wikana bisa dipastikan mati atas peristiwa itu. Menjadi catatan sejarah yang memilukan sosok pejuang kemerdekaan justru mati di tangan generasi bangsanya sendiri.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata
-
Review Film Songs of Earth: Perjalanan Anak Mengenal Ayahnya Lebih Mendalam
-
Novel Don't Tell Me Anything, Jeritan di Antara Batas Mimpi dan Realitas
-
Retorika dan Ketahanan Feminis dalam Film 'The Odyssey'
-
Review Film The Dog Stars: Sinematografi Indah dalam Sunyinya Apokaliptik!
Terkini
-
Penyekatan Demonstrasi dan Nyawa Warga: Pejompongan Jangan Jadi 'Zona Berbahaya'
-
Makin Colorful Makin Centil, Bagaimana Outfit Berwarna Tetap Enak Dilihat?
-
Bukan Cuma Misteri, Ini 3 Hal yang Bikin Flex x Cop 2 Semakin Seru!
-
Saatnya Aliansi Sawit Melindungi Petani Swadaya, Bukan Cuma Korporasi
-
Sinopsis My Sweet Home, Drama Jepang yang Dibintangi Ishida Yuriko