Menghargai diri sendiri merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Menghargai di sini memiliki arti yang sangat luas cakupannya. Misalnya, menggunakan anggota tubuh kita untuk hal-hal yang bermanfaat, baik bermanfaat untuk diri sendiri, maupun orang-orang di sekeliling kita.
Melakukan beragam aktivitas yang merugikan diri sendiri dan orang lain adalah contoh dari perilaku tidak menghargai diri sendiri. Misalnya mengonsumsi narkoba, melakukan tindak pelecehan seksual, merundung atau mem-bully orang lain, dan lain sebagainya.
Dalam buku berjudul “Buku Kehidupan, Panduan Harian Menuju Kebahagiaan Hidup” dipaparkan: agar dapat memperlihatkan kekuatan diri hingga batas yang maksimal, manusia harus menghargai dirinya sendiri. Harus menghargai hatinya sendiri. Harus menghargai jiwanya sendiri. Tidak boleh menggunakan kekuatannya dengan sia-sia. Harus menggunakan kekuatannya hanya untuk hal-hal yang baik.
Penting dipahami bersama bahwa ada sesuatu hal yang tidak boleh kita abaikan dalam hidup ini, yakni berusaha menjaga pola makan yang sehat. Hal ini juga sebagai upaya untuk menghargai diri kita sendiri. Selain menjaga pola makan yang sehat, kita juga memerlukan olahraga sebagai salah satu upaya agar tubuh kita terjaga kesehatannya. Bukankah setiap orang ingin selalu bugar dan sehat setiap saat?
Selain itu, dengan rajin berolahraga juga dapat mendatangkan rasa bahagia di dalam hati kita. Oleh karenanya, berusahalah untuk tidak mengabaikan olaharga.
Belajar memang penting, tetapi olahraga juga penting. Olahraga dapat berupa permainan, gerakan, pertandingan dan udara yang baik. Dari segi permainan, olahraga dapat memberikan kesenangan pada hati manusia. Terlalu terbenam pada pelajaran dan membungkuk di atas meja, adakalanya mengakibatkan hati menjadi suram. Usai belajar terus-menerus selama satu atau dua jam, kita perlu melakukan olahraga ringan. Jika tidak ada teman berolahraga, angkat saja kedua tangan ke atas dari kedua sisi tubuh, lalu tarik napas panjang beberapa belas kali. Ketika membuang napas, bibir dibuka sedikit dan embuskan napas perlahan-lahan dengan perasaan seolah-olah “kelelahan” terembus dari situ (halaman 209).
Membaca buku karya Masaharu Taniguchi, Ph.D. yang diterbitkan oleh Serambi (2015) ini dapat membangkitkan semangat dan rasa optimistis bagi jiwa dan raga kita. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Baca Juga
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
Artikel Terkait
-
5 Kekuatan yang Bisa Didapat dengan Bersyukur, Berani Menghadapi Tantangan
-
Generasi Muda Unggul yang Bahagia Adalah Kunci Sukses Kemajuan Bangsa
-
3 Hal Positif yang Akan Kamu Rasakan Kalau Punya Pacar Humoris
-
4 Tips Menyikapi Body Shaming, Balas Dendam dengan Prestasi!
-
Sering Diabaikan, 5 Hal Sederhana Ini Bisa Bikin Perempuan Bahagia
Ulasan
-
Millie Fleurs Poison Garden, Taman Beracun yang Berubah Menjadi Indah
-
Membaca Perang Paregrek 1: Saat Konflik Kerajaan Majapahit Berubah Jadi Thriller Politik
-
Film Tunggu Aku Sukses Nanti dan Ukuran Kesuksesan yang Kapitalistik
-
Lebih dari Sekadar Remake: Ayah, Aku Mau Cerita Buktikan Sinema Bisa Memanipulasi Realita
-
Keindahan Visual dan Hangatnya Surat Masa Lalu dalam Animasi Your Letter
Terkini
-
Hot Wheels Monster Trucks: Glow-n-Fire Siap Mengguncang Jakarta November Ini
-
Bubar pada Agustus 2027, 7 Lagu Ballad SCANDAL yang Wajib Masuk Playlist
-
Kawal RUU Perampasan Aset: Waspada Provokator, Semangat Warga Jaga Warga
-
Ulasan Agito Psychic War: Bukan Sekadar Nostalgia, Ini Pembuktian Keadilan Tanpa Kekuatan Super
-
Detective Conan: Fallen Angel of the Highway Rilis Jadwal Tayang di Indonesia