Bicara tentang tokoh yang ikut memperjuangkan negeri ini dari keserakahan kaum penjajah memang sangat menarik dan dapat meningkatkan kecintaan kita kepada bangsa ini. Membaca para tokoh sejarah juga menjadi cara kita untuk menghormati para pejuang yang begitu gigih melawan para penjajah.
Salah satu tokoh bangsa yang perlu kita baca kisahnya adalah Mohammad Hatta. Ada sebuah kisah menarik yang saya baca dalam buku ‘Berguru pada Soekarno’ karya Yanuar Arifin (Ircisod, 2014) tentang persahabatan Mohammad Hatta dengan Soekarno. Begini sebagian kisah singkat yang coba saya rangkum dari buku tersebut:
Mohammad Hatta adalah sahabat dekat Soekarno, yang sebagian waktunya dihabiskan bersama presiden RI pertama tersebut. Hatta menganggap Soekarno sebagai tokoh yang inspiratif. Sebab, persahabatan dan pertukaran pemikiran dengan Soekarno telah membentuk jalan hidup Hatta.
Meski bersahabat baik, hubungan Hatta dan Soekarno sering pasang surut. Terkadang, kedua tokoh ini bisa terlihat mesra. Namun, tak jarang perbedaan pandangan membuat keduanya terlihat seperti musuh. Hatta dikenal tak pernah sungkan mengkritik keras Soekarno bila mendapati sahabatnya itu melakukan suatu kesalahan.
Kritik Hatta yang paling keras terjadi pada tahun 1960. Saat itu, Soekarno mengubah sistem demokrasi parlementer menjadi sistem demokrasi terpimpin. Dalam artikel panjangnya berjudul “Demokrasi Kita”, Hatta menulis, “Bahwa Soekarno seorang patriot yang cinta pada tanah airnya dan ingin melihat Indonesia yang adil dan makmur selekas-lekasnya, itu tidak dapat disangkal. Cuma, berhubung tabiatnya dan pembawaannya, dalam segala ciptaannya ia memandang garis besarnya saja. Hal-hal yang mengenai detail, yang mungkin menyangkut dan menentukan dalam pelaksanaannya, tidak dihiraukannya.”
Saat masih berusia muda, Hatta dikenal sebagai sosok yang cerdas. Hanya butuh waktu 3 tahun baginya untuk menamatkan sekolah dagangnya di Jakarta. Berkat kecerdasan yang dimiliki, ia memperoleh beasiswa ke Rotterdam, Belanda, untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Nederland Handelshogeschool.
Sebenarnya, ia bisa memilih pergi ke Mesir atau Makkah untuk memperdalam ilmu agamanya. Namun sejak tinggal di Jakarta, paradigma berpikirnya sudah banyak berubah. Ia semakin tertarik dengan dunia pergerakan sehingga sekolah di Belanda adalah pilihan yang menurutnya paling tepat.
Kisah sosok Mohammad Hatta dan persahabatannya dengan Bung Karno dalam buku ini sangat penting dibaca oleh kawula muda yang notabene-nya adalah generasi penerus perjuangan bangsa ini.
Baca Juga
-
Buku Petunjuk Hidup Bebas Stres dan Cemas: Sebuah Upaya Menghalau Kecemasan
-
Motivasi Menulis untuk Calon Penulis: Buku Menjual Gagasan dengan Tulisan
-
Review Buku Etiket Bekerja: Upaya Meningkatkan Kualitas Diri
-
Review Buku Puasa Para Nabi: Mengurai Hikmah Bulan Ramadan
-
Sampaikanlah Walau Satu Konten, Kiat Menjadi Kreator Konten Profesional
Artikel Terkait
Ulasan
-
Simpul Maut Hiroshima: Satir Ilmuwan Bom Atom dalam Buaian Kucing
-
Jangan Menarik Cinta saat Kesepian: Bercermin di Buku Malioboro at Midnight
-
Komsi Komsa: Mengintip Konspirasi Sejarah Global Lewat Petualangan Sam
-
Novel Resepsi: Bukan Sekadar Pesta, Tapi Cara Melepaskan Diri Masa Lalu
-
Menambal Luka Masa Kecil di Novel Biantama Karya Carissa Alda
Terkini
-
Sarjana Pendidikan, tapi Tidak Mengajar: Mengapa Selalu Dipertanyakan?
-
6 Drama Korea Bertema Hukum Fantasi, Terbaru Phantom Lawyer
-
4 Inspirasi Outfit Sporty ala Jisoo BLACKPINK yang Tetap Chic
-
Catch Catch oleh Yena: Intensnya Sikap Tarik Ulur dalam Hubungan Asmara
-
Bye-Bye Apek! Ini 5 Cara Ampuh Usir Bau Tak Sedap di Dalam Mobil