Mendengar kata "Negeri di Atas Cahaya" mungkin adalah sesuatu yang jarang sekali atau sangat asing kita dengar bahkan kita lihat, dibandingkan dengan kata negeri di atas awan yang mungkin akan banyak kita dapati atau jumpai di berbagai daerah.
Mendengar kata "Negeri di Atas Cahaya" seakan mengarahkan pikiran kita pada cerita-cerita dongeng, dan mungkin juga akan banyak orang yang bertanya, apakah ada negeri di atas cahaya? Negeri di Atas Cahaya ini ada sebuah julukan yang diberikan kepada salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yaitu kabupaten Enrekang, tepatnya di Enrekang Duri.
Julukan ini cukup terbilang unik karena muncul dan berawal dari kegiatan bertani masyarakat setempat. Maklumlah daerah Enrekang Duri adalah daerah yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Mendengar kata bertani tidak lepas dari yang namanya hama. Nah, untuk membasmi hama pada setiap daerah pasti berbeda-beda. Di daerah lain mungkin ada yang menggunakan petisida, lem, dan lain sebagainya. Namun di Enrekang Duri, petani bawangnya menggunakan inovasi lampu sebagai penangkal hama.
Cara menangkal hama dari masyarakat setempat yang seiring waktu selalu berubah-ubah, dari yang awalnya hanya menggunakan lem tikus hingga kemudian beralih ke baskom yang diisi air dan sampai kepada penggunaan lampu sebagai penangkal hama. Lampu lampu ini ditempatkan berjejer di perkebunan masyarakat dan dinyalakan pada malam hari dengan maksud untuk menangkal hama yang akan masuk ke perkebunan pada malam hari. Lampu lampu tersebut dipasang oleh masyarakat setempat karena dianggap efektif untuk mengusir hama.
Pada malam hari ketika kita berkunjung ke tempat ini, kita akan disuguhkan dengan ribuan bahkan pulahan ribu lampu-lampu perkebunan yang berwarna-warni dan terlihat seakan tempat tersebut adalah perumahan warga. Namun beda lagi pada siang hari justru yang tampak hanyalah perkebunan.
Berkat kemajuan dari teknologi dan cara bertani masyarakat, tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata malam. Cahaya lampu yang terbentang luas dari perkebunan masyarakat yang menawarkan pemandangan indah dan cantik pada malam hari. Keindahan lampu-lampunya dapat kita nikmati dari berbagai sudut di daerah ini.
Jadi tidak heran jika banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke tempat ini untuk melakukan camp pada malam hari, inilah sebabnya mengapa daerah ini dijuluki sebagai Negeri di Atas Cahaya. Bagi yang menyukai berpetualang dan menikmati keindahan alam, tempat ini cocok sekali dijadikan sebagai tempat wisata.
Baca Juga
-
Strategi untuk Mereposisi Peran Perempuan di Desa
-
Benteng Alla, Situs Sejarah yang Masih Jarang Diketahui
-
2 Tempat Wisata di Desa Langda Kabupaten Enrekang yang Jarang Diketahui
-
4 Makanan Khas Kabupaten Enrekang yang Mesti Kalian Cicipi
-
4 Kesan saat Berada di Tanah Toraja, Kamu Patut Mengunjunginya?
Artikel Terkait
-
Penyerapan Gabah Petani Mencapai 725.000 Ton Setara Beras: Rekor Tertinggi Bulog 10 Tahun Terakhir
-
Polri Garap Jagung 1,7 Juta Hektare: Misi Mulia atau Salah Urus?
-
Pastikan Petani Sejahtera, PCO Pantau Langsung Implementasi Pembelian Gabah Rp6.500/Kg
-
Adu Kekayaan AKBP Arisandi vs AKBP Rise Sandiyantanti, Suami-Istri Sama-sama Jabat Kapolres!
-
Lumbung Padi Sulawesi Jadi Prioritas: BRI dan Bulog Kolaborasi Serap Gabah Petani
Ulasan
-
Review The Recruit, Aksi Spionase Menegangkan dengan Sentuhan Humor Segar
-
Review Norma - Antara Mertua dan Menantu: Film Selingkuh Menariknya Apa?
-
Ulasan Your Friendly Neighborhood Spider-Man: Fresh, Fun, dan Penuh Aksi!
-
Review Surga di Telapak Kaki Bapak: Drama Keluarga Spesial Lebaran
-
Perjalanan Menemukan Kebahagiaan dalam Ulasan Novel The Burnout
Terkini
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
Hadapi Korea Selatan, Timnas Indonesia U-17 Wajib Raih Minimal 1 Poin
-
5 Rekomendasi Film Baru dari Netflix untuk Rayakan Libur Lebaran 2025
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!