Memelihara Suami merupakan buku kumpulan cerpen karya guru yang mengikuti Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional, dihelat oleh Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Memelihara Suami sendiri adalah cerpen yang menyabet juara II lomba tersebut.
Cerpen yang dianggit guru muda asal SD Negeri 1 Karangbanjar, Bojongsari, Purbalingga itu mengisahkan tentang pergulatan Puji, perempuan matang yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD. Dalam usia yang tak lagi muda, perempuan berperawakan subur itu dikawinkan orang tuanya dengan Kurnia, pengangguran berumur jauh lebih tua dari dia.
Sepanjang hari, selama kawin, Kurnia senantiasa bermalas-malasan. Dia enggan mencari kerja. Menyentuh Puji dengan belaian mesra pun enggan. Berkata-kata manis penuh bujuk rayu, juga tak pernah dia lakukan. Waktunya tersedot habis untuk menyelancari internet lewat ponsel.
Dari mana kuota alias paket datanya? Siapa lagi kalau bukan Puji yang membelikan.
Lantaran hal-hal tersebut, Puji tak kunjung hamil. Ini menyebabkan omongan orang-orang sekeliling. Mereka lalu sok menasihati perempuan gempal itu untuk mencoba minum jamu ini-itu, pijat di mbah ini atau anu, berobat sana maupun situ. Pendek kata, perkara kehamilan yang ditanggung seorang perempuan menjadi 'urusan' banyak orang.
Sementara penyebab kehamilan yang merupakan ulah krida bersama (antara laki-laki perempuan), justru menjadi kesalahan perempuan ketika proses tersebut tak kunjung tiba.
Belum lagi jika pun mengandung, baui berjenis kelamin laki-laki akan lebih dihargai dan dibanggakan ketimbang bayi perempuan. Dalam hal ini, sang ibu, 'disalahkan' kalau tidak dapat mengandung bayi berjenis kelamin yang dibanggakan tersebut.
Cerpen yang diterbitkan SIP Publishing ini juga mengkritisi dunia pendidikan formal di bangku sekolah. Lewat cerpen Memelihara Suami ini, pengarang menyoroti perilaku guru-guru yang tidak loyal kepada institusinya dan lebih mementingan kehendak perut sendiri.
Misal, rajin cari muka di hadapan orang tua siswa dengan menonjolkan diri sendiri sembari menjelek-jelekkan rekan sekerja. Lalu, memanfaatkan fasilitas sekolah untuk keperluan pribadi, menggelapkan dana siswa guna menambal utang. Ada pula yang menjadikan orang tua siswa sebagai sapi perah guna menarik dana ini, atau sumbangan itu.
Semua tokoh dalam cerpen ini, memiliki watak antagonis, menggambarkan betapa suramnya dunia pendidikan formal di sekolah Indonesia, saat ini. Lalu, mulai dari mana kita membenahinya?
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
-
Nasib Lesti Kejora, Jadi Korban KDRT Kini Dituding Pihak Rizky Billar bukan Istri yang Baik
-
Wahai Istri, Jangan Cuma 'Keris' Suami Saja Coba Sentuh 5 Titik Sensitif Ini, Perang di Ranjang Makin Liar
-
Farhat Abbas Berikan Tanggapan Tentang Kasus Rumah Tangga Rizky Billar dan Lesti Kejora
-
Suami Ingin Poligami, Eh Modal Buat Nikah Malah Minta ke Istri, Publik Dibuat Tepuk Jidat
-
Diungkap dr.Boyke Ada Posisi Berhubungan Seks yang Bikin Menggelegar dan Disukai Istri saat Hamil Muda
Ulasan
-
Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman
-
'Berpikir dan Bertindak Kreatif for Gen Z': Senjata Bertahan di Era Digital
-
Esensi Lagu 'Dance No More' Milik Harry Styles Punya Makna Lebih Energik
-
Ketika Chat Mesra Ternyata Salah Sasaran: Manisnya Sweety Anatomi
-
Gentala Arasy, Simbol Kejayaan Islam Kebanggaan Negeri Sepucuk Jambi
Terkini
-
Percabulan di Pati: Pak, Anjing Saya Saja Tidak Seperti Itu
-
Ketika Rupiah Melemah, Kelas Menengah Dipaksa Bertahan Lebih Keras
-
Bikin Khawatir di Baeksang, Ini Alasan Mata Choo Young Woo Ditutup Perban
-
4 Sunscreen SPF 35 Proteksi Kulit dari Sinar UV, Harga Ekonomis Rp30 Ribuan
-
Intip Peran Lee Jun Young di Reborn Rookie, Mantan Atlet yang Bertukar Jiwa