Ulasan

Mengkritisi Kepincangan dalam Rumah Tangga, Ulasan Buku Memelihara Suami

Mengkritisi Kepincangan dalam Rumah Tangga, Ulasan Buku Memelihara Suami
Memelihara Suami (Dokumentasi pribadi/ Thomas Utomo)

Memelihara Suami merupakan buku kumpulan cerpen karya guru yang mengikuti Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional, dihelat oleh Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Memelihara Suami sendiri adalah cerpen yang menyabet juara II lomba tersebut.

Cerpen yang dianggit guru muda asal SD Negeri 1 Karangbanjar, Bojongsari, Purbalingga itu mengisahkan tentang pergulatan Puji, perempuan matang yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD. Dalam usia yang tak lagi muda, perempuan berperawakan subur itu dikawinkan orang tuanya dengan Kurnia, pengangguran berumur jauh lebih tua dari dia.

Sepanjang hari, selama kawin, Kurnia senantiasa bermalas-malasan. Dia enggan mencari kerja. Menyentuh Puji dengan belaian mesra pun enggan. Berkata-kata manis penuh bujuk rayu, juga tak pernah dia lakukan. Waktunya tersedot habis untuk menyelancari internet lewat ponsel.

Dari mana kuota alias paket datanya? Siapa lagi kalau bukan Puji yang membelikan. 

Lantaran hal-hal tersebut, Puji tak kunjung hamil. Ini menyebabkan omongan orang-orang sekeliling. Mereka lalu sok menasihati perempuan gempal itu untuk mencoba minum jamu ini-itu, pijat di mbah ini atau anu, berobat sana maupun situ. Pendek kata, perkara kehamilan yang ditanggung seorang perempuan menjadi 'urusan' banyak orang.

Sementara penyebab kehamilan yang merupakan ulah krida bersama (antara laki-laki perempuan), justru menjadi kesalahan perempuan ketika proses tersebut tak kunjung tiba.

Belum lagi jika pun mengandung, baui berjenis kelamin laki-laki akan lebih dihargai dan dibanggakan ketimbang bayi perempuan. Dalam hal ini, sang ibu, 'disalahkan' kalau tidak dapat mengandung bayi berjenis kelamin yang dibanggakan tersebut. 

Cerpen yang diterbitkan SIP Publishing ini juga mengkritisi dunia pendidikan formal di bangku sekolah. Lewat cerpen Memelihara Suami ini, pengarang menyoroti perilaku guru-guru yang tidak loyal kepada institusinya dan lebih mementingan kehendak perut sendiri.

Misal, rajin cari muka di hadapan orang tua siswa dengan menonjolkan diri sendiri sembari menjelek-jelekkan rekan sekerja. Lalu, memanfaatkan fasilitas sekolah untuk keperluan pribadi, menggelapkan dana siswa guna menambal utang. Ada pula yang menjadikan orang tua siswa sebagai sapi perah guna menarik dana ini, atau sumbangan itu.

Semua tokoh dalam cerpen ini, memiliki watak antagonis, menggambarkan betapa suramnya dunia pendidikan formal di sekolah Indonesia, saat ini. Lalu, mulai dari mana kita membenahinya?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda