Cerita dari Asrama Tentara adalah novel anak yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata pengarangnya. Novel ini mengambil latar waktu paruh pertama dekade 1990. Latar tempatnya di sebuah asrama tentara di Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
Sudut pandang penceritaan novel ini, dari perspektif Teguh, anak berumur lima tahun, bungsu dari dua bersaudara. Ayah Teguh yang dipanggil Bapak pergi jauh ke Timor Timur, menjalankan tugas dinas militer. Sehari-hari, Teguh hanya tinggal berdua dengab ibu dan kakak perempuannya di batalion.
Suatu ketika, ada kabar, Bapak akan pulang dari Tinor Timur. Ibu beserta kaum hawa di asrama sibuk membicarakan peristiwa itu sekaligus menyiapkan segala keperluan penyambutan kepulangan suami mereka.
Sore yang ditunggu, tibalah. Teguh, kakak, dan ibunua menjemput di Gedung Instruksi. Dia bertemu Bapak untuk kali pertama!
Pertemuan pertama, rupanya menorehkan kesan berarti di lubuk perasaan Teguh. Hari-hari berikut, dia membuktikan sendiri betapa menyenangkan hidup bersama Bapak.
Mereka mengisi waktu dengan mengobrol, membuat mainan tradisional dari kulit jeruk atau daun singkong, bermaib layang-layang, memancing, dan sebagainya.
Tapi tidak cuma pengalaman menyenangkan yang dikecap Teguh bersama keluarganya. Pada suatu waktu, mereka mengalami tragedi.
Kakak Teguh dikabarkan meninggal tertabrak truk pengangkut genting tatkala sedang mencari bambu untuk tugas sekolah. Kabar buruk itu cepat menyebar luas. Seisi asrama mendatangi rumah Teguh, membuat Ibu pingsan, dan Teguh kelimpungan.
Bapak sendiri belum pulang waktu itu. Di sinilah kemudian tetangga-tetangga menunjukkan kemurahan hati mereka dengan membantu keluarga Teguh.
Keakhiran cerita ini, tidak sesuai gambaran namun sangat melegakan.
Di samping itu, ada cerita konyol, Teguh memasukkan kancing baju ke lubang hidung. Dia kira akan keren. Ternyata malah membuatnya harus ke dokter THT (telinga, hidung, tenggorokan) di luar kota.
Ada pula cerita miris ketika Teguh dan kakaknya kabur saat diminta tidur siang. Mereka malah main ayunan di samping rumah dan terjadi kecelakaan yang menyebabkan kepala bocor.
Fragmen demi fragmen cerita dalam novel ini, amat manis dicerna. Membuat benak pembaca melayang ke masa silam, masa penuh kenangan kegembiraan.
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
-
Setan Mana yang Merasuki Pikiranmu!!! Guru PNS Cabuli 5 Muridnya
-
Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta: Tak Ada Manusia Sempurna
-
5 Alasan Induk Kucing Memakan Anaknya, Bikin Hati Terenyuh
-
Jaga Anak saat Mereka Mengakses Internet Supaya Tidak Konsumsi Konten Negatif
-
Wirda Mansur Dijodoh-jodohin Sama Rizky Billar, Begini Respon Tegas Ustaz Yusuf Mansur
Ulasan
-
Ulasan Film Tanah Runtuh: Tragedi Kemanusiaan Poso yang Menguras Air Mata
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
Ulasan The Auditors, Kisah Seru Tim Audit yang Bekerja Layaknya Detektif
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
Terkini
-
Kenalkan Karakter Baru, Ini Tampilan Perdana Film The Angry Birds Movie 3
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan