Pecel adalah makanan sejuta umat, khususnya bagi masyarakat Jawa Timur. Jika biasanya seporsi pecel terdiri dari nasi dan sayur yang disiram bumbu kacang serta dilengkapi dengan lauk tempe atau telur, beda halnya dengan pecel di Kota Malang.
Kota yang dijuluki Kota Bunga ini memiliki pecel dengan variasi yang unik, yakni memadukan dua kuliner khas Jawa, apalagi kalau bukan pecel dan rawon. Seporsi perawon (pecel kuah rawon) terdiri dari nasi pecel dan lauk seperti pada umumnya yang kemudian disiram dengan kuah rawon yang kehitam-hitaman. Cukup unik, bukan?
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Kuliner di Malang yang Tidak Boleh Dilewatkan, Wajib Coba!
Perpaduan pecel dengan kuah rawon menghasilkan cita rasa yang unik. Gurihnya bumbu kacang dari pecel akan berpadu dengan segarnya kuah rawon. Perpaduan yang ternyata nyambung ini pun menghasilkan rasa baru yang gurih dan menggugah selera makan. Sudah bisa membayangkan rasanya?
Salah satu warung yang menyediakan kuliner perawon adalah Warung Malam Pak Gatot yang berlokasi di Jalan Supriyadi, Sukun, Kota Malang. Tempat makan ini terkenal legendaris karena telah buka sejak tahun 1970 dan terkenal karena jam bukanya yang 24 jam penuh. Menariknya, warung ini semakin malam justru semakin ramai sehingga mendapatkan julukan sebagai Warung Malam.
BACA JUGA: 5 Makanan Khas Jawa Barat Paling Digemari, Suguhkan Cita Rasa yang Otentik
Perawon adalah menu favorit di Warung Pak Gatot. Kuliner anti mainstream ini memiliki compliment yang terdiri dari nasi dan sayur mayur seperti bayam, kacang panjang, dan tauge yang kemudian disiram menggunakan saus kacang, peyek, serta kuah rawon yang autentik. Terkadang, terdapat tambahan daging sapi yang lembut pada kuah rawon tersebut.
Kudapan ini juga akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan beberapa pilihan lauk pauk seperti sate daging, sate usus sapi, sate usus ayam, ayam goreng, ati ampela, telur ceplok, telur asin, telur dadar, empal, pepes tongkol, sate telur puyuh, babat, dan paru. Seluruh lauk pauk tersebut disajikan di etalase bening yang panjang dimana pengunjung dapat dengan leluasa mengambil lauk yang diinginkan.
BACA JUGA: 4 Rekomendasi Tempat Wisata Alam di Pasuruan yang Cocok untuk Hilangkan Penat
Untuk rasanya, tak perlu diragukan lagi. Perawon di Warung Pak Gatot akan memberikan kelezatan dan pengalaman baru pada lidah pengunjung. Adapun harga untuk seporsi perawon hanya Rp11ribu dengan lauk pauk yang mulai dari Rp2ribu saja. Selain mengenyangkan, perawon juga akan memberikan kehangatan yang cocok dinikmati pada malam hari di tengah suasana Kota Malang yang dingin.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
4 Menu Sarapan Favorit Mahasiswa Jatinangor: Murah, Cepat, Mengenyangkan
-
Bandros, Solusi Praktis Menamatkan Kota Bandung dalam Sehari
-
Menyusuri Jejak Dakwah Islam di Galeri Rasulullah Masjid Raya Al Jabbar
-
Profil 4 Kampus yang Menasbihkan Jatinangor sebagai Kota Pendidikan
-
Warung Suroboyo, Pelepas Rindu Lalapan Jawa Timuran di Tanah Sunda
Artikel Terkait
-
7 Rekomendasi Kuliner di Malang yang Tidak Boleh Dilewatkan, Wajib Coba!
-
Dulu Roboh karena Erupsi Semeru, Jembatan Gladak Perak Kini Kokoh dan Eksotis
-
Duh, Pembangunan Jalan Tol Malang-Kepanjen Molor
-
Bukan Driver Ojol Biasa, A Diamankan Anggota Polresta Malang Bawa Barang Terlarang
-
Tak Miliki Latar Belakang Medis, MUA Asal Malang Bantu Persalinan di Pesawat
Ulasan
-
Kisah Desi dan Aini: Saat Idealisme Guru Bertemu Tekad Baja Sang Murid
-
Peran Terbaik Laura Basuki! Menguak Sisi Gelap Sumba di Balik Film Yohanna
-
Buku Tamasya Ke Taman Diri; Menemukan Tuhan Lewat Kata-Kata Para Sufi
-
Luka dari Meurawoe: Membaca Aceh Pasca-DOM dalam Bayang Suram Pelangi
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
Terkini
-
4 Varian Parfum Teh Crusita: Dari Es Teh Manis hingga Thai Tea yang Creamy!
-
UMK Kabupaten vs Kota: Jaraknya Cuma Kilometer, Tapi Nasibnya Kok Beda Jauh?
-
Ketika Galvalum Menang, Petani Kayu Tumbang
-
Mengapa Overthinking Adalah Musuh Terbesar Produktivitasmu?
-
Kerja Bagai Kuda tapi Hidup Tetap Sama? Menelusuri Retaknya Meritokrasi di Indonesia