Waktu mendengar kata Bandros, mungkin yang langsung muncul di kepala adalah jajanan pasar yang gurih yang disajikan dengan parutan kelapa. Namun selain itu, istilah Bandros juga merujuk ke sesuatu yang sama-sama berasal dari Bandung.
Bukan lagi makanan, namun sebuah bus wisata berwarna-warni yang siap mengantar wisatawan berkeliling kota Bandung, yakni Bandung Tour on Bus atau akrab dipanggil Bandros.
Bus ini mulai jadi bagian dari wajah Bandung sejak tahun 2014, yang diresmikan oleh Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil. Seiring waktu, armada Bandros terus bertambah dan makin sering terlihat melaju pelan di jalanan kota, terutama di akhir pekan. Nama "Bandros" sendiri berasal dari kompetisi melalui media sosial.
Bandros sangat mudah dikenali. Tak seperti bus pada umumnya, Bandros punya desain ala trem tua Eropa dengan warnanya yang menyala. Tampilannya lucu dan warna warni sehingga cocok untuk foto-foto Instagramable.
Cara menaikinya pun sangat mudah, nggak perlu repot booking online atau reservasi dari jauh-jauh hari. Wisatawan tinggal datang ke titik pemberangkatan yang tersedia di tiga tempat, yakni Alun-Alun Kota Bandung, Jalan Diponegoro (depan Museum Geologi), dan Jalan Braga (Depan Patung Maung khusus di hari Sabtu dan Minggu).
Harga tiketnya Rp20.000,00 dan dibayarkan sesaat sebelum memulai perjalanan. Pembayarannya pun bisa tunai atau pakai QRIS. Kalau lagi ramai, tinggal daftar nama ke petugas untuk masuk ke daftar tunggu. Tinggal tunggu antrean, nanti dipanggil deh.
Waktu tempuh satu putaran Bandros kurang lebih 45 menit sampai dengan 1 jam. Sepanjang perjalanan, wisatawan bisa menikmati pemandangan kota dari sudut pandang berbeda. Nggak perlu repot nyetir dan nggak capek jalan kaki, namun tetap bisa eksplorasi.
Kapasitas Bandros sekitar 25 orang sehingga cukup untuk bawa rombongan kecil atau keluarga. Jumlah armadanya pun sekarang ada belasan unit, sebagian besar dibiayai oleh APBD dan sisanya hasil kontribusi dari perusahaan swasta lewat program CSR.
Hal yang bikin pengalaman naik Bandros makin seru adalah rutenya. Bus ini lewat di titik-titik yang jadi favorit wisatawan asing maupun lokal. Sebut saja Jalan Braga yang penuh sejarah, Dago yang rindang dan modern, Jalan Asia Afrika yang sarat makna perjuangan, sampai Alun-Alun Kota Bandung yang nggak pernah sepi pengunjung.
Selama perjalanan, ada pemandu atau tour guide yang menjelaskan sejarah dan cerita menarik tentang tempat-tempat yang dilewati, seperti Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Stasiun Bandung, Titik Nol Kilometer, Taman Lansia, dan lain-lain.
Jadi bukan cuma jalan-jalan, tapi juga dapat tambahan pengetahuan seputar Kota Bandung dan bumi Pasundan secara rekreatif.
Menariknya, Bandros bukan cuma disukai oleh turis luar kota. Warga Bandung sendiri juga sering menjadikannya pilihan buat rekreasi ringan. Entah itu sekadar ingin coba pengalaman baru, mengajak anak jalan-jalan, atau nostalgia mengenang masa kecil saat masih sering diajak keliling kota oleh orang tua.
Sebaiknya, disarankan untuk naik Bandros pada pukul 8 pagi sampai dengan 11 siang. Tentunya, hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemacaten yang kerap terjadi di beberapa titik. Bandros sendiri beroperasi sampai pukul 4 sore.
Jadi, kalau kamu lagi main ke Bandung dan ingin merasakan suasana kota dengan cara yang nggak biasa, Bandros bisa jadi pilihan yang pas.
Nggak perlu itinerary ribet atau jalan kaki sampai pegal, cukup duduk manis di atas bus merah ini dan biarkan Bandung bercerita lewat jalan-jalannya. Kadang, untuk mengenal sebuah kota, kita cuma butuh sedikit waktu, sedikit rasa ingin tahu, dan satu kursi di Bandros yang membawa kita berkeliling tanpa harus buru-buru.
Baca Juga
-
4 Menu Sarapan Favorit Mahasiswa Jatinangor: Murah, Cepat, Mengenyangkan
-
Menyusuri Jejak Dakwah Islam di Galeri Rasulullah Masjid Raya Al Jabbar
-
Profil 4 Kampus yang Menasbihkan Jatinangor sebagai Kota Pendidikan
-
Warung Suroboyo, Pelepas Rindu Lalapan Jawa Timuran di Tanah Sunda
-
'Berjudi' di Bukit Penanjakan, Spot Sunrise Terbaik dan Terburuk Gunung Bromo
Artikel Terkait
-
Pertamina Bangun Gedung Riset di ITB, Dukung Inovasi Pendidikan Tinggi Indonesia
-
BRI Super League: Wiliam Marcilio Merasa Lebih Kuat Jelang Duel Perdana
-
Dari Perserikatan ke BRI Super League: Era Baru dan Sejarah Para Juaranya
-
Debut Panas Wiliam Marcilio: Siap Bikin GBLA Meledak Lawan Semen Padang
-
Pekan I Super League 2025, Persib vs Semen Padang: Suporter Kabau Sirah Jangan Nekad ke GBLA!
Ulasan
-
Mirah Singa Betina dari Marunda: Perjuangan dan Welas Asih Pendekar Wanita
-
Di Balik Kesuksesan The Glory: Potret Kelam Korban Bullying
-
Menakar Ego, Hak Cipta, dan Harmoni yang Hilang di Film Power Ballad
-
Film I Am Frankelda, Masih Bisakah Kita Berimajinasi di Era Serba Instan?
-
Ketika Sistem Gagal Melindungi Korban: Dilema Moral Teach You a Lesson
Terkini
-
Prediksi Prancis vs Irak: Singa Mesopotamia Janjikan Perlawanan Sengit
-
Prioritaskan Piala Dunia, Ini Pengaruhnya pada Produktivitas Kerja
-
Lenovo Tab Plus Gen 2 Rilis, Tablet Hiburan Premium dengan 9 Speaker JBL
-
Prediksi Lini Prancis vs Irak, Les Bleus Bidik Tiket Lolos Grup Piala Dunia
-
Salah Kaprah tentang Makna Benefit yang Tercantum di Iklan Lowongan Kerja