Kemiskinan merupakan sebuah permasalahan yang menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini cukup wajar karena sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menuntaskan kemiskinan, tetapi nyatanya masih banyak juga daerah yang masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Badan Pusat Statistika (BPS) mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu kondisi kehidupan yang serba kekurangan yang dialami seseorang yang mempunyai pengeluaran per kapita selama sebulan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup standar.
Bicara soal kemiskinan, tentu masih banyak daerah di Indonesia ini yang masyarakatnya masih hidup di garis itu. Tanpa mengulik lebih luas, di Jawa Tengah (Jateng) termasuk salah satunya, sesuai data BPS pada 2022, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah mencapai 3.831,44 ribu orang. Walau provinsi tersebut jarang terekspos keluar terkait problemnya, justru yang terjadi malah dominan prestasi yang ingin ditonjolkan.
BACA JUGA: Guruh Soekarnoputra Tolak Kosongkan Rumah, Dirinya Merasa Terzalimi
Untuk itu, berikut tiga kota dengan penduduk miskin terbanyak di Jawa Tengah (Jateng).
1. Kota Semarang
Kota Semarang merupakan ibu kota dari provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini termasuk kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Kota Semarang juga merupakan pusat prekonomian (perdagangan dan bisnis) yang masuk dalam kawasan strategis nasional (KSN). Sebagai kota yang dikenal cukup dikenal bagus, kota ini juga memiliki gedung-gedung pencakar langit.
Namun dibalik kemegahan yang ada, kota ini ternyata masuk dalam kota yang memiliki PR besar untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat, termasuk soal kemiskinan. Ini harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah setempat untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut, bukan hanya modal pencitraan saja.
Kota Semarang memiliki jumlah penduduk terbanyak di Jawa Tengah, yakni mencapai 1.656.564 jiwa. Dari jumlah tersebut, kota Semarang memiliki jumlah penduduk miskin sebanyak 79,87 ribu jiwa. Artinya, 4,25 persen dari total jumlah penduduk kota Semarang masih dibayangi kemiskinan.
2. Kota Solo
Kota Solo atau yang bisa juga disebut dengan kota Surakarta merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian Selatan setelah kota Bandung dan kota Malang menurut jumlah penduduk. Kota Sola atau kota Surakarta memiliki semboyan yang menjadi slogan pemeliharaan kota indah, yaitu ‘Berseri’ yang berarti bersih, sehat, rapi, dan juga indah. Kota ini juga dikenal memiliki banyak destinasi wisata yang banyak dikunjungi orang dari daerah luar.
Meski begitu, dengan adanya berbagai keunggulan yang dimiliki kota Solo dan bisa dipamerkan kepada daerah luar, ternyata kota Sola juga tidak lepas dari problem kemiskinannya. Diketahui kota Solo memiliki jumlah penduduk mencapai 522.728 jiwa (BPS, 2022). Kemudian jumlah penduduk miskinnya juga mencapai 45,94 ribu jiwa. Jelas ini masih menjadi problem besar bagi pemerintah untuk segera menuntaskannya.
BACA JUGA: Dua Supir Adu Jotos di Jalan Gegara Rebutan Penumpang, Netizen: Sudah Biasa
3. Kota Pekalongan
Pekalongan merupakan kota pertama di Indonesia dan kota Asia Tenggara pertama yang menjadi bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO. Kota ini merupakan pelabuhan terpenting di Jawa Tengah dan terkenal dengan batiknya. Walau kota ini bisa mengunggulkan produk batiknya, nyatanya kota ini juga termasuk pencetak orang miskin di Jateng.
Jumlah penduduk kota Pekalongan bekisar 308.310 jiwa, dari jumlah tersebut ada sekitar 21,81 ribu jiwa orang yang masih dibayangi garis kemiskinan. Artinya, kota ini juga masuk sebagai penyumbang dan pencetak orang miskin di Jawa Tengah.
Itulah sekilas informasi tiga kota pencetak orang miskin di Jawa Tengah, mungkin saja kita akan geleng-geleng kepala mendengarnya yang di mana selama ini kota tersebut lebih banyak menampilkan prestasinya ketimbang permasalahannya. Kira-kira sobat sekalian, apakah kota kamu juga termasuk pencetak kota termiskin di Indonesia?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
-
PSIS Semarang Jamu Arema FC, Gali Freitas Dan Dewangga Ingin Stadion Jatidiri Dipenuhi Suporter
-
Wajib Dicoba Kue Bapel Legendaris di Kota Pekalongan, Cocok untuk Teman Ngopi
-
Rating Tertinggi dan Harga Murah, Jajal Yuk 5 Mie Ayam Terenak di Kota Semarang
-
Tak Ingin Kalah dari Arema FC, Gali Freitas dan Dewangga Ingin Suporter PSIS Semarang Penuhi Stadion Jatidiri
-
Polisi Ringkus 'Si Kancil' Residivis Maling di Bukittinggi
Ulasan
-
Teach You A Lesson vs Study Group: Drakor Mana yang Paling Recommended?
-
Review Drama Filing For Love: Angkat Isu Fatherless yang Bikin Mewek
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih
-
Novel Bandung Menjelang Pagi: Sisi Gelap Kota Kembang ala Brian Khrisna
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
Terkini
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia