Di tengah laju globalisasi yang makin kencang dan dunia digital yang tidak pernah tidur, Pancasila, ideologi yang selalu kita banggakan, sedang menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Jika dulu Pancasila menjadi pegangan yang kuat bagi generasi pendahulu, hari ini ideologi tersebut malah sering terjebak jadi pelajaran formal yang cenderung kaku, dan jujur saja, sering kali menduduki peringkat tinggi sebagai mata pelajaran paling membosankan di sekolah.
Masalahnya, kita hidup di era di mana batas negara seolah sudah menguap. Informasi dari seluruh dunia berseliweran tanpa filter, ideologi asing datang tanpa permisi, dan hoaks serta ujaran kebencian bebas berlalu-lalang di timeline. Nilai-nilai mulia seperti persatuan, musyawarah, keberagaman, dan keadilan sosial akhirnya pelan-pelan terkikis, tergeser oleh konten viral, trending topic, dan opini-opini cepat saji.
Sayangnya, generasi muda lebih akrab dengan algoritma TikTok yang pintar membaca kebiasaan daripada memahami makna “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Identitas mereka dibentuk oleh budaya global yang kadang malah bertabrakan dengan nilai lokal.
Ironisnya, teknologi yang seharusnya bisa mempertemukan banyak orang justru sering menjadi penyebab perpecahan. Satu unggahan sensitif soal politik atau agama saja sudah cukup untuk membuat sebuah grup WhatsApp alumni pecah jadi dua kubu.
Jika ditarik benang merahnya, salah satu masalah terbesar terletak pada cara Pendidikan Pancasila diajarkan. Metodenya masih sangat jadul: hafalan, ceramah, ditambah tugas-tugas yang terasa formalitas. Siswa diminta mengingat butir-butir Pancasila tanpa pernah diajak menyelami maknanya dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Bagaimana mereka bisa benar-benar memahami makna “Keadilan Sosial” jika yang dibahas hanya teori, tanpa pernah melihat realitas kesenjangan di sekitar rumah? Bagaimana mau menanamkan nilai “Persatuan Indonesia” jika isu diskriminasi, intoleransi, dan polarisasi politik yang tiap hari muncul di media sosial tidak pernah disentuh dalam diskusi kelas?
Ini yang membuat Pancasila seolah kehilangan relevansinya. Bukan karena nilai-nilainya usang, tetapi karena cara penyampaian kita tidak mengikuti zaman. Padahal, justru di era digital inilah Pancasila sangat dibutuhkan sebagai kompas moral dan etis.
Tiga Cara Menyegarkan Kembali Pendidikan Pancasila
1. Masuk ke Dunia Digital, Jangan Tetap Jadi Pelajaran Buku Paket
Jika anak-anak muda hidup di dunia digital, maka Pancasila harus ikut masuk ke dalamnya. Pembelajaran Pancasila harus bersentuhan dengan literasi digital: memilah informasi, memahami etika berinternet, mengenali pola radikalisasi digital, sampai cara menghadapi komentar pedas di media sosial. Nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti di teks, melainkan harus menjadi pedoman ketika jempol kita bergerak mengetik di kolom komentar.
Bayangkan, kalau saja Pancasila diajarkan lewat analisis kasus viral, debat santai berbasis data, atau konten kreatif ala Gen Z, mungkin siswa akan lebih merasa dekat. Tidak lagi terasa seperti hafalan, tapi terasa relevan.
2. Mengganti Hafalan dengan Aksi Nyata
Sudah saatnya Pendidikan Pancasila menaruh hafalan di urutan kedua, dan praktik nyata di urutan pertama. Projek adalah cara yang paling konkret agar siswa merasakan nilai Pancasila. Misalnya, membuat kegiatan sosial untuk warga kurang mampu sebagai penerapan “Keadilan Sosial”, mengadakan dialog antar-agama di sekolah sebagai bentuk “Persatuan”, atau gerakan peduli lingkungan sebagai wujud “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.
Dengan begitu, Pancasila tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak, melainkan bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan.
3. Guru sebagai Teladan dan Pemersatu
Guru memegang peranan penting. Tapi peran itu harus berevolusi. Bukan lagi sekadar pembaca buku paket, tetapi menjadi fasilitator yang mampu menjembatani nilai Pancasila dengan isu kontemporer. Mulai dari perubahan iklim, HAM, geopolitik, sampai problem sosial di sekitar sekolah. Guru adalah jembatan agar Pancasila tetap hidup dan relevan.
Pancasila bukan barang antik yang hanya pantas dipajang atau dijadikan hafalan upacara. Pancasila adalah kompas yang seharusnya membantu kita menavigasi dunia yang semakin gaduh dan penuh tantangan. Membumikan Pancasila adalah tanggung jawab bersama pemerintah, sekolah, orang tua, dan anak muda itu sendiri.
Jika kita gagal mengupayakannya, Pancasila hanya akan menjadi slogan yang megah tapi kosong. Padahal, di tengah era digital ini, kita butuh pegangan kuat. Dan sebenarnya, Pancasila punya semua yang kita perlukan, asal kita mau menghidupkannya kembali, dengan cara yang lebih dekat dengan dunia nyata.
Baca Juga
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
-
Perselingkuhan Artis dan Standar Ganda: Mengapa Kita Gemar Melempar Batu Lewat Jempol?
-
Media Ngebut, Kebenaran Terengah-engah
-
Kierkegaard dan Eksistensialisme: Menemukan Makna Hidup di Dunia yang Berisik
Artikel Terkait
Kolom
-
Tumbler, Simbol Baru Kelas Menengah Perkotaan
-
Kala Ponsel Memudahkan, Mengapa Kita Semakin Sulit Melakukan Percakapan?
-
Evolusi Gaya Hidup Gen Z dan Sinyal Transisi Meninggalkan Minuman Beralkohol
-
Menyempitnya Ruang Hijau dan Kota yang Kehabisan Napas
-
Viralnya Broken Strings Aurelie Moeremans: Bukti Minat Baca Masih Tinggi?
Terkini
-
Eskalasi AS-Iran: Ada Operasi Intelijen Israel di Balik Protes Rakyat Iran?
-
4 Deretan Artis yang Siap Menikah di 2026, Dari El Rumi hingga Teuku Rassya
-
Kang Daniel Umumkan Tanggal Wajib Militer, akan Daftar sebagai Prajurit
-
Hadirkan Keceriaan! NCT WISH Resmi Debut Jepang dengan Mini Album WISHLIST
-
Ultimatum John Herdman untuk Klub Domestik: Beri Pemain Muda Menit Bermain!