Dengan latar belakang sebuah kota di Korea Selatan, "Duty After School" adalah sebuah drama Korea bergenre fiksi thriller sebanyak 10 episode yang menceritakan tentang perjalanan para siswa senior di SMA Seongjin.
Mereka tanpa sadar dihadapkan pada makhluk asing menyerupai bola yang menyerang kota, sementara mereka khawatir akan ujian, mencari nilai tambahan, dan terlibat dalam persaingan kecil. Namun, saat bahaya datang, mereka dipaksa menjalani pelatihan militer.
Sebagai imbalannya, negara menawarkan poin tambahan untuk membantu nilai CSAT mereka. Ironisnya, para siswa terlihat khawatir akan ujian dan masuk perguruan tinggi, bahkan ketika nyawa mereka dipertaruhkan.
Hal ini mencerminkan daya saing yang sangat ditekankan dalam masyarakat di mana mendapatkan satu poin tambahan dianggap lebih penting daripada kebahagiaan hidup.
Review drama Korea Duty After School
Para siswa SMA yang tidak terlatih dihadapkan pada pilihan antara bertahan atau menyerah, dan penulis Yoon Soo memanfaatkan konflik internal antar siswa untuk menunjukkan perjalanan karakter dari penyangkalan menuju kesadaran hingga penerimaan.
Bagaimana mereka menghadapi kehilangan, kesedihan, dan menemukan kebahagiaan dalam kekacauan, membuat "Duty After School" menjadi tontonan yang mendebarkan.
Meskipun episode pertama punya adegan yang padat, fokus pada serangan makhluk bola dan pertarungan, episode kedua, terutama dua episode terakhir, terasa lebih kompleks.
Meski klimaksnya cukup mengejutkan, tidak menambah ketegangan, dan perjalanan yang telah difokuskan pada enam episode pertama.
"Duty After School" punya narasi pertumbuhan yang nyata. Awalnya, karakter-karakter tersebut bersikap egois dan membawa masalah, tetapi seiring waktu, mereka membangun ikatan dengan sesama siswa dan mengutamakan kesejahteraan orang lain di atas diri sendiri dan hal ini sangat menyentuh.
Chemistry antar karakter selama proses ini juga menjadi aspek yang menyenangkan dari drama ini.
Namun, kecuali untuk beberapa adegan, sikap karakter-karakter tersebut terkadang terlihat childish membuat mereka terlihat lebih seperti "anak-anak prasekolah" daripada remaja. Hal ini mengurangi potensi dramatik dari cerita ini.
Meskipun mungkin tindakan mereka dimaksudkan untuk meningkatkan ketegangan dalam cerita, jika kejadian yang tidak logis terulang kali ditampilkan, sulit bagi penonton untuk sepenuhnya terlibat dalam cerita dan merasa empati terhadap karakter.
Episode terakhir membuat saya merasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton drama ini karena banyak adegan yang tidak masuk akal, terutama karena hanya diindikasikan satu episode sebelumnya. Banyak peristiwa penting yang dibangun sepanjang cerita tidak pernah dibahas lagi dan terkesan kurang jelas.
Di sisi lain, efek visual dalam drama ini mampu manjakan mata, menyajikan setiap karakter dengan baik. Tiap momen yang ditampilkan, baik romantis maupun hening, akan membuat penontonnya terkesan.
Drama ini juga menampilkan beberapa pekerjaan kamera yang menarik, meskipun tidak mencapai standar seperti drama "All of Us Are Dead" yang mungkin dianggap sebagai tolak ukur oleh banyak penonton internasional.
Namun, jika kamu suka drama seperti "All Of Us Are Dead" saya tetap merekomendasikan drama ini terutama bagi para penonton yang suka drama dengan alur yang mendebarkan.
Baca Juga
-
Buku The Principles of Power: Seni Menguasai Pengaruh Secara Etis
-
Hijau di Iklan, Abu-Abu dalam Aksi: Bahaya Fenomena Greenwashing
-
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap: Realitas Daya Beli yang Kian Menurun
-
Belajar Mengambil Keputusan Lewat The Decision Book Karya Mikael Krogerus
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Dari Ongkos Transportasi hingga Harga Sembako
Artikel Terkait
-
Sentil Jokowi Soal 'Politik Drama Korea', Andreas PDIP: Siapa Sih Sutradaranya?
-
4 Pemeran Utama Drama Korea 'Boyhood', Ada Im Siwan hingga Kang Hye Won
-
Spoiler The Escape of the Seven: Serangan Balik Lee Yoo Bi dan Lee Joon
-
Song Kang dan Kim Yoo Jung Dicurigai Berkencan di Teaser Terbaru Drama My Demon
-
Spoiler Episode 8 Drama Korea My Dearest Part 2: Yoo Gil Chae Bersimbah Darah
Ulasan
-
Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982: Potret Sunyi Perempuan dalam Belenggu Patriarki
-
Review Call My Agent! The Movie: Nostalgia Satir Industri Perfilman Prancis
-
Petualangan Ajaib Bersama Gurita dalam The Octopus Karya Guojing
-
Badai Datang, Rumah Terancam: Perjuangan Tikus Kecil di The Outermost Mouse
-
Tell Me What You Saw: Memburu Pembunuh Berantai Lewat Photographic Memory
Terkini
-
5 Mouse Gaming Wireless Murah dan Ringan, Cocok Buat Semua Game
-
Drakor What a Boss Wants Tayang November, Ini Daftar Pemain Utamanya!
-
Franchise Sgt. Frog Rilis Anime TV Baru Oktober 2026, Hadirkan Seiyu Baru
-
MotoGP Austria 2026: Pedro Acosta Gendong KTM jadi Juara di Kampung Halaman
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga