"Mengenang Kenang" adalah buku solo ke-11 karya Ari Keling, seorang penulis asal Indonesia yang juga dikenal sebagai novelis, penulis skenario, penulis bayangan, dan editor. Penerbit Panas Dalam Publishing pertama kali novel ini pada bulan Oktober 2017.
Buku ini memiliki total 207 halaman, terdiri dari 6 bab yang masing-masing mengisahkan cerita yang berbeda. Sesuai dengan judulnya, buku ini bertujuan untuk menyajikan narasi-narasi yang mampu membangkitkan kenangan.
Melalui kisah-kisah di dalamnya, pembaca akan dibawa menelusuri berbagai kenangan yang terpendam dalam ingatan, baik itu kenangan dari suatu momen tertentu maupun kenangan bersama orang terkasih.
Novel "Mengenang Kenang" membawa pembaca ke dalam beragam kenangan yang tersemat di dalam ingatan mereka. Jenis kenangan yang tersaji dalam novel ini tidak dapat diprediksi dengan pasti. Hampir semua cerita yang dihadirkan dalam novel ini memiliki keterkaitan erat dengan pengalaman pembaca, bahkan membuat mereka merasa seolah-olah cerita tersebut adalah bagian dari memorinya sendiri.
Dengan menggali kenangan yang terpendam, pembaca diharapkan dapat merenung lebih dalam saat menikmati membaca novel ini.
Novel "Mengenang Kenang" berhasil mengajak pembaca untuk terus merenung tentang kenangan masa lalunya. Setiap halaman, seakan menjadi sebuah perjalanan mengejar kenangan yang menghantui.
Pada akhirnya, pembaca tidak dapat menghindar dari daya tariknya dan menemukan diri mereka terhanyut sepenuhnya, bahkan pembawa bisa saja mengalirkan air mata hangat sebagai ungkapan emosi yang tersentuh.
Gaya penulisan Ari Keling sangat mendukung kedalaman isi buku ini. Ia mengusung bahasa yang lembut dan memikat. Setiap kalimat yang tercipta memiliki kekuatan untuk meresapi perasaan pembaca, karena kata-kata yang indah dan sederhana dengan cermat disusun dalam setiap ungkapannya.
Ari Keling kerap memilih kalimat-kalimat berima dan kata-kata yang jarang ditemui, memberikan nuansa yang khas dalam setiap ekspresi tulisannya.
Novel "Mengenang Kenang" juga menunjukkan beberapa kekurangan. Salah satu kekurangannya terletak pada pemilihan jenis huruf, dimana beberapa pembaca merasa tidak nyaman dengan jenis huruf utama yang dipilih.
Selain itu, beberapa pembaca mengkritik bahwa margin di awal paragraf terlalu menjorok ke luar. Meskipun demikian, penilaian ini bersifat subjektif dan terkait dengan opini serta preferensi masing-masing individu.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Tamat! Ini 3 Momen Menyakitkan bagi Noh Young Won di Bitter Sweet Hell
-
Siap-Siap Emosi! 3 Drama Korea Ini Sepanas Film Ipar adalah Maut
-
3 Risiko Lee Mi Jin setelah Berubah Menjadi Tua di Miss Night and Day, Apa Saja?
-
Review Drama Korea 'Soul Mechanic', Mengangkat Isu tentang Kesehatan Mental
-
Review Film Calamity: a Childhood of Martha Jane Cannary, Petualangan Seru Martha untuk Melindungi Keluarganya
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Notes from Underground: Memahami Pemikiran Eksistensialis
-
Ulasan Novel Pulang Karya Leila S. Chudori: Sejarah Kelam Indonesia
-
Ulasan Novel Rindu karya Tere Liye: Perjalanan Panjang Menemui Makna Hidup
-
Ulasan Novel A Pocket Full of Rye: Pengkhianatan dan Keserakahan Keluarga
-
Ulasan Novel Tuesdays With Morrie: Menemukan Makna pada Setiap Perjalanan
Ulasan
-
Review Anime My Stepmoms Daughter Is My Ex: Ketika Mantan Jadi Saudara Tiri
-
Novel Four Aunties and A Wedding: Pesta Pernikahan Berubah Menjadi Mencekam
-
Review Film Broken Rage: Ketika Takeshi Kitano Menolak Bertele-tele
-
Review Film Exorcism Chronicles - The Beginning: Visual Ajaib tapi Cerita Kacau?
-
Review Anime Yuru Camp, Menjelajahi Keindahan Alam Jepang
Terkini
-
Kembali Naik Peringkat, Timnas Indonesia Berpotensi Tempel Ketat Vietnam di Ranking FIFA
-
Hidup Itu Absurd, Jadi Nikmati Saja Kekacauannya
-
Lawan Yaman, Evandra Florasta Beri Sinyal Timnas Indonesia akan Makin Gacor
-
Pengabdi Setan Origins: Batara, Darminah, dan Asal Mula Teror
-
Timnas Indonesia Disokong Mentalitas 'Anti Banting', Siap Jaya di Piala Asia U-17?