Sedekah termasuk amal ibadah yang sangat bagus bila kita rutinkan. Sedekah tidak hanya terbatas berupa uang atau harta benda yang kita miliki. Melainkan juga dalam bentuk lain, misalnya tenaga dan pikiran kita.
Bila kita belum mampu bersedekah dengan harta, minimal kita berusaha bersedekah dengan cara lain yang kita rasa mampu untuk melaksanakannya.
Namun jangan sampai kita selalu beralasan selalu merasa tidak mampu bersedekah dengan harta. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang kikir atau pelit untuk mengeluarkan harta benda untuk beramal kebajikan.
Karena saya yakin, setiap orang bisa membiasakan diri bersedekah dengan hartanya jika dia selalu melatih dirinya dengan cara menyisihkan atau menyiapkan sebagian uang untuk bersedekah atau membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Ada penjelasan menarik dalam buku ‘Sedekah Pengubah Nasib” (membuka jalan rezeki dengan banyak memberi) karya Aditya Akbar Hakim. Bahwa sedekah jelas menjanjikan banyak pahala bagi siapa saja yang ikhlas melaksanakannya. Pahala ini bisa kita peroleh kalau niat serta keikhlasan kita tepat dan pas. Cara, etika, serta adab saat kita bersedekah pun menjadi kunci bagi imbalan pahala yang kita dapat. Jangan juga mengabaikan soal apa yang kita berikan, tak boleh berupa sesuatu yang kotor atau haram. Bersedekah yang berujung pahala hanya bisa dilakukan dengan segala yang halal.
Selain itu, hendaknya ketika bersedekah dengan menggunakan harta terbaik yang kita miliki. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa sedekah atau infak harus diberikan dari harta yang baik (yang halal) yang dihasilkan oleh orang yang bersangkutan. Allah memerintahkan kepada kita untuk berinfak dari sebagian harta yang baik, yang paling kita sukai dan sayangi. Allah melarang kita mengeluarkan sedekah dari harta yang buruk dan jelek serta berkualitas rendah, karena sesungguhnya Allah itu Mahabaik, Dia tidak mau menerima kecuali yang baik (hlm. 41).
Jika kita bersedekah, tetapi yang kita berikan adalah sesuatu yang telah usang, sudah tidak dibutuhkan lagi dengan alibi lebih baik diberikan kepada orang lain daripada tidak terpakai, ini artinya kualitas sedekah yang kita lakukan belumlah menduduki derajat terbaik (hlm. 42).
Membahas tentang ibadah sedekah memang sangat menarik dan dapat memotivasi kita agar rajin bersedekah, mengingat pahala dan hikmahnya begitu besar dan dapat memberikan kebahagiaan bagi nasib hidup kita, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Mudah-mudahan, buku karya Aditya Akbar Hakim yang diterbitkan oleh Alifia Books (2020) ini dapat menjadi salah satu bacaan yang bermanfaat untuk kita semua. Selamat membaca.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Bride of Clay: Kisah Klasik Keluarga Cemara yang Bahagia
-
Upaya Menyikapi Fenomena Kekerasan Verbal di Berbagai Media Sosial
-
Mengenang Gus Dur, Sosok Guru Bangsa Sejati Lewat Buku 'Gitu Aja Kok Repot'
-
Kasus Ayah-Anak Tewas Membusuk Di Koja, 8 Hari Istri Cuma Bisa Diam Di Samping Mayat Suami
-
Ulasan Buku Season to Remember, Kumpulan Quote yang Menggugah Hati
Ulasan
-
Tak Sekadar Ilmuwan: Sisi Manusiawi Stephen Hawking dalam My Brief History
-
Self-Love dan Depresi dalam Novel 'Matahari Pun Terluka'
-
Review Film Decorado: Dekorasi Eksistensial yang Menghantam Mental Penonton
-
Seni Mencintai dengan Konsistensi: Cermin Relasi Sehat di Yumis Cells 3
-
Ngopi di Tarkam Ledokombo: Ketika Tawa, Asap Kopi, dan Jalan Raya Menjadi Satu Cerita
Terkini
-
Agensi Buka Suara soal Rumor Dowoon DAY6 dan Influencer: Tak Mau Komentar
-
Bukan Powerbank! iQOO Z11 Punya Baterai 9.020mAh, Paling Besar di Indonesia
-
5 Drama China Trope si Cewek Bucin Duluan, Ada Drama dari Zhao Lusi!
-
Dihantam Cedera dan Jatuh Berkali-kali, Marc Marquez: Saya Tidak Tertekan
-
Iduladha Era Gen Z: Arti Rela Berkorban di Zaman yang Serba Instan