Annisa Ihsani memiliki ketertarikan terhadap teka-teki logika sejak tahun pertamanya sebagai mahasiswi jurusan ilmu komputer. Setelah mendapatkan gelar master dari University of Groningen, ia mulai menulis novel Teka-Teki Terakhir yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2014)
Novel Teka-Teki Terakhir berkisah tentang seorang gadis kecil berusia dua belas tahun bernama Laura Welman yang tinggal tak jauh dari rumah sepasang suami istri Maxwell.
Di kota tempat Laura tinggal berembus gosip bahwa pasangan Maxwell merupakan ahli kimia gila, beberapa orang lainnya mengatakan mereka ahli botani yang meneliti tanaman langka. Laura dan kakaknya, Jack, malah semasa kecil percaya bahwa keduanya adalah penyihir.
Sampai suatu kali, Laura membuang hasil ulangan matematikanya yang mendapat nilai nol ke tempat sampah keluarga Maxwell, esoknya Tuan Maxwell—yang sebenarnya tak pernah terlihat saban Laura melintasi sungai Littlewood yang dekat rumah keluarga Maxwell untuk ke sekolah—menyapanya.
Tuan Maxwell memberikan catatan kecil di kertas ulangan Laura dan juga memberikan buku berjudul Nol: Asal-Usul dan Perjalanannya.
“Kuharap kau tidak terlalu terganggu atas nilai latihan aljabar konyol itu. Mendapat nol tidak terlalu buruk, terutama setelah begitu lama pencariannya.” (hlm 21)
Sejak kejadian bertemu Tuan Maxwell untuk pertama kali, Laura akhirnya memberanikan diri berkunjung ke rumah keluarga Maxwell. Ia berkenalan dengan Eliza, yang dipanggilnya Nyonya Maxwell, dan dari kunjungan itu ia mengetahui bahwa suami istri Maxwell adalah sepasang Profesor Ahli Matematika.
Dari kunjungan-kunjungan selanjutnya, Laura mendapatkan banyak pengetahuan tentang matematika. Ia yang semula mendapatkan nilai nol di sebuah kuis, akhirnya bisa memperoleh nilai 81 di kuis dadakan matematika berikutnya.
Laura juga mengetahui dari Nyonya Maxwell bahwa selama empat puluh tahun Tuan Maxwell mengerjakan pembuktian Teorema Terakhir Fermat.
Sampai suatu hari pasangan Maxwell mendapat kabar bahwa ahli matematika lain telah membuktikan Teorema Terakhir Fermat. Dan berita itu kemudian mengubah kehidupan pasangan Maxwell dan juga kehidupan Laura.
Apakah benar teorema itu sudah terbukti? Kalau memang demikian … pasti merupakan pukulan telak bagi Tuan Maxwell. Apakah yang dikerjakannya selama ini jadi sia-sia belaka? Hatiku mencelus memikirkan hal tersebut. (hlm 192)
Ini pertama kalinya saya membaca novel yang tema utamanya adalah matematika. Banyak informasi tentang matematika yang disampaikan, semacam: Hipotesis Riemann, Konjektur Goldbach, Teorema Incompleteness, dan juga para ahli logika dan ahli matematika, seperti: Gottlob Frege, Bertrand Russell, Alfred Whitehad, dan masih banyak lagi.
Membaca novel Teka-Teki Terakhir, saya seakan dibawa menyelami dunia matematika dengan cara yang begitu ringan dan menyenangkan. Sungguh sebuah novel yang memberikan pengetahuan dan kesenangan sekaligus.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
-
5 Rekomendasi Novel Misteri Jepang yang Wajib Kamu Baca, Penuh Plot Twist!
-
Ulasan Novel 'Summer In Seoul', Kisah Romansa Tak Terduga di Negeri Ginseng
-
Review Novel 'Pachinko', Sejarah Korea dari Cerita Keluarga di Jepang
-
Dipilih DPR dan Dilantik Presiden, Novel Menggunggat Pertanggungjawaban Pemerintah Atas Firli Bahuri
-
Ulasan Novel Represi, Usaha Bunuh Diri dan Trauma Masa Lalu
Ulasan
-
Saat Seragam Berbicara tentang Kemanusiaan: Mengapa Kisah Tentara dan Dokter di DOTS Begitu Mengena?
-
Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap
-
Children of Heaven Begitu Lembut Memotret Kemiskinan Hingga Menyayat Hati
-
Tak Sekadar Ilmuwan: Sisi Manusiawi Stephen Hawking dalam My Brief History
-
Self-Love dan Depresi dalam Novel 'Matahari Pun Terluka'
Terkini
-
Sinopsis Office Romance, Film Netflix Jennifer Lopez dan Brett Goldstein
-
Refleksi: Di Tengah Hidup Serba Cepat, Iduladha Mengajarkan untuk Melambat
-
Surat Cinta untuk Kota yang Penuh Kenangan: Intip Pesona Film 'Dan Bandung'
-
Dampak Impulsive Buying Berkedok Self Reward pada Penyebab Sampah Kemasan
-
Iduladha Zaman Now: Memaknai Ulang Arti Rela Berkorban di Era Flexing