Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Novel Kereta 4.50 dari Paddington (Dok. Ipusnas)
Rie Kusuma

Para penggemar novel-novel karya Agatha Christie tentu tak asing lagi dengan tokoh detektif yang kerap mewarnai sejumlah karyanya. Siapa lagi kalau bukan Hercule Poirot, sang detektif yang selalu berpakaian necis dan berkepala seperti telur.

Namun, ada tokoh detektif lain yang tak kalah uniknya dari Hercule Poirot dan selalu saya nantikan kehadirannya di sejumlah novel misteri milik Agatha, yaitu Miss Jane Marple. Beliau seorang perempuan tua yang tinggal di desa St. Mary Mead dan kerap membantu kepolisian dalam mengungkap suatu kasus pembunuhan.

Novel Kereta 4.50 dari Paddington (4.50 from Paddington) diawali ketika sahabat dari Miss Marple, Mrs. Elspeth McGillicuddy, tengah melakukan perjalanan dengan kereta api dan dari jendela kereta ia menyaksikan seorang wanita dicekik hingga tewas di kereta lain, yang berpapasan dengan kereta yang ditumpanginya.

Ia melaporkan apa yang dilihatnya pada petugas kereta, menyurati kepala kereta api, bahkan melaporkan hal tersebut pada kepolisian, tapi tak ada yang memercayai dirinya. Hanya Miss Marple yang percaya bahwa apa yang dilihat sahabatnya itu adalah kenyataan.

Rumitnya, tak ada laporan tentang orang hilang. Tak juga ada yang melapor ke kepolisian bahwa ada yang menemukan mayat wanita korban pembunuhan. Hal ini memicu rasa penasaran Miss Marple, yang membuatnya melakukan sejumlah perjalanan dengan kereta api untuk mencari titik terang.

Miss Marple menduga bahwa mayat wanita tersebut dilempar dari jendela kereta dan jatuh di Rutherford Hall. Tapi, karena masalah kesehatan, Miss Marple tak bisa menyelidiki kawasan milik keluarga Crackenthorpe tersebut.

Jadilah ia menyewa Lucy Eyelesbarrow dengan misi untuk mencari mayat hilang tersebut, dengan cara berpura-pura menjadi pekerja rumah tangga sewaan di keluarga Crackenthorpe.

“Saat ini memang jadwal saya penuh, tapi mungkin Anda dapat mengatakan tugas apa yang akan Anda berikan kepada saya?”

“Sebetulnya sederhana sekali,” kata Miss Marple. “Istimewa tapi sederhana. Saya ingin dicarikan mayat.” (Hal. 46)

Miss Marple, perempuan tua yang hobi merajut, penuh kesederhanaan, dan mempunyai kepekaan dan pemahaman mendalam tentang karakter manusia. Ia ‘menceburkan’ Lucy Eyelesbarrow ke keluarga Crackenthrope bukan tanpa perencanaan matang. Ia tahu, mayat yang dicarinya ada di sana dan feeling-nya tidak meleset.

Trik pembunuhan di luar nalar yang semula terlihat seperti aksi dadakan, bukan pembunuhan berencana, ternyata dilihat dengan kacamata berbeda oleh Miss Marple.

Pembunuhan tersebut ternyata bukan tindakan spontan. Tapi, sejak awal pembunuhan itu memang telah dirancang dengan sangat matang. Termasuk posisi tempat mayat terjatuh sudah dipikirkan masak-masak oleh pembunuh yang ada di antara keluarga Crackenthorpe. Tapi, yang mana pelakunya?

Seorang Agatha Christie tentu saja tak akan membuat jalan ceritanya biasa-biasa saja. Saya sebagai pembaca ikut menebak-nebak siapa sebenarnya wanita yang dicekik itu. Apa hubungannya dengan salah satu anggota keluarga Crackenthorpe. Apa keuntungan yang akan didapat sang pembunuh dari kematian si wanita?

Belum selesai saya menebak-nebak, muncul pembunuhan baru, yang menghempaskan prediksi saya semula tentang sang pelaku pembunuhan, sampai akhirnya saya menyerah dan mencoba menikmati saja jalan ceritanya.

Banyaknya tokoh dalam novel ini membuat kemungkinan pelaku pembunuhan bisa merujuk ke banyak orang. Apalagi, hampir semua anggota keluarga Crackenthorpe bermasalah dan mempunyai alasan kuat untuk melakukan pembunuhan.

Menurut saya kelebihan novel ini ada pada gaya penceritaan Agatha Christie yang sederhana. Ia tak menggunakan kalimat yang berbunga-bunga ataupun njelimet, tapi mampu melahirkan struktur tulisan yang rapi, kepiawaian dalam menyembunyikan petunjuk, dan tentu saja jalan cerita yang luar biasa.

Hal lain yang menarik ada pada premis cerita yang unik. Pembunuhan yang hanya dilihat dari jendela ketika kereta berpapasan, ternyata berkembang menjadi misteri yang cukup rumit untuk dipecahkan. Ide yang sangat brilian dari seorang Agatha Christie.

Novel Kereta 4.50 dari Paddington (4.50 from Paddington) juga memiliki plot twist yang memikat, sesuatu hal yang patut diapresiasi. Nilai tambah novel ini berikutnya ada pada karakter kuat para tokoh perempuannya, seperti Mrs. McGillicuddy, Emma Crackenthorpe, satu-satunya anak perempuan di keluarga Crackenthorpe, Lucy Eyelesbarrow, dan tentu saja Miss Jane Marple.

Selain itu saya sebagai pembaca juga disuguhi atmosfer khas pedesaan Inggris, seperti acara minum teh setiap sore, rumah tua dan keluarga aristokrat yang mulai tumbang dikalahkan zaman, percakapan menu makan malam, kebun, dan karakter orang-orang di pedesaan.

Kekurangan novel ada pada tempo cerita di awal yang cukup lambat. Lalu banyaknya tokoh membuat saya berkali-kali harus memastikan yang mana Harold, mana Alfred. Apa hubungan Bryan Eastley dengan Crackenthorpe tua? Tentu saja itu belum ditambah nama-nama lain, bukan tokoh cerita, yang disebutkan dalam narasi.

Meskipun tanpa adegan aksi, hanya sedikit sekali menjelang akhir cerita, tapi novel ini sangat menarik untuk dinikmati karena murni mengandalkan logika milik Miss Marple—yang bahkan Inspektur Dermott Craddock pun sempat hampir menyerah menghadapi kasus tersebut—dan ia berhasil mengungkap pelaku pembunuhan.

Kesan keseluruhan saya sebagai pembaca, novel Kereta 4.50 dari Paddington (4.50 from Paddington) ini tak sekadar cerita yang mencari pelaku pembunuhan. Di dalamnya kita bisa melihat potret sebuah keluarga aristokrat yang terhormat tapi memiliki banyak masalah, terutama finansial, dengan misteri yang menyelubunginya.

Novel misteri pembunuhan ini juga menunjukkan bahwa sebuah kejahatan tak melulu terjadi di lorong gelap, di jalanan sepi, tapi bisa juga hadir di meja makan sebuah keluarga terhormat.