Sudah selayaknya setiap anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Bakti anak kepada orang tua dapat ditunjukkan dengan banyak cara. Di antaranya melayani mereka dengan baik dan sepenuh hati. Membantu mencukupi kebutuhan mereka, terutama saat orang tua sudah berusia lanjut, juga termasuk bentuk bakti yang semestinya diamalkan oleh anak.
Bakti anak juga dapat berupa menjalankan pesan atau nasihat bijak dari kedua orang tua. Misalnya, nasihat seorang ayah kepada anaknya agar tidak melalaikan ibadah, selalu mengedepankan kejujuran, berusaha agar selalu berbuat kebaikan, dan lain sebagainya.
Ada sederet kisah menarik yang dalam buku berjudul ‘Ayah Guruku, Guru Kami’, terbitan Bhuana Ilmu Populer (Jakarta). Buku ini berisi kisah inspiratif tentang kenangan anak-anak bersama orang tua mereka. Ditulis oleh para penulis dengan beragam karakter.
Salah satu tulisan yang menarik dibaca berjudul ‘Ayah Guruku, Guru Kami’ karya Iesye Martini. Penulis menceritakan kenangannya bersama sang ayah yang adalah mantan tentara pemberani. Sebagai mantan tentara, ayah mendidik anak-anaknya dengan disiplin yang lumayan keras. Menurut ayah, disiplin itu adalah awal dari sebuah kesuksesan.
Ayah juga mendidik anaknya sejak dini agar memiliki keberanian dan kemandirian. Saat Iesye berusia 13 tahun misalnya, dia dilatih oleh ayahnya untuk bepergian dengan kendaraan umum dengan jarak tempuh lumayan jauh, tanpa ditemani ayah dan ibunya.
Dia bersama adik-adiknya berlibur ke Jakarta, tepatnya ke rumah neneknya, dengan naik kereta api kelas ekonomi. Meski awalnya takut bepergian tanpa ditemani kedua orang tua, tapi karena ayah yang meminta dan dia tak boleh membantah, maka pergilah dia bersama ketiga adiknya naik kereta api tersebut. Mereka pun akhirnya tiba dengan selamat sampai di rumah Nenek.
Kisah menarik lainnya ditulis oleh Tia Ressa. Dalam tulisan berjudul ‘Ayah Saya’ Tia mengisahkan kenangannya bersama almarhum ayahnya. Bagi Tia, kehilangan ayah adalah cobaan yang paling berat yang dirasakannya. Hingga setahun berselang, perlahan dia baru dapat berpikir jernih bahwa merelakan ayah adalah keharusan mutlak. Mengikhlaskan kepergian ayah adalah tanda sayang yang luar biasa.
Ayah Tia memang bukan seorang pejabat, pemimpin golongan, ketua organisasi, ataupun pemuka masyarakat. Namun, bagi Tia, ayah adalah sebenar-benarnya orang penting karena sebagian besar pelajaran hidup yang dia terima dari sang ayah menjadi amat penting dalam kehidupannya.
Ayah adalah sosok yang sangat mengutamakan kejujuran, kedisiplinan, dan kekuatan kendati ayah tidak pernah mengenyam pendidikan militer. Ayah juga mengajarkan pentingnya berbuat baik dan selalu berpikir yang baik-baik. Itulah yang kemudian menjadi bekal Tia dalam menjalani hidup.
Kisah-kisah tentang anak dan orang tuanya dalam buku ini semoga dapat menjadi sarana pengingat bagi kita, agar senantiasa berbakti pada kedua orang tua.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membongkar Sisi Kelam Orde Baru dalam 'Larung': Sastra yang Menolak Dibungkam
-
Novel Misteri Kota Tua, Petualangan Beno Menyusuri Sejarah Kota Tangerang
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Menyusuri Jambi Kota Seberang: Saat Rumah Kayu "Mengapung" di Atas Sungai
Terkini
-
Turun Stasiun, Langsung Jalan-Jalan! 5 Rekomendasi Destinasi Wisata Praktis di Purwakarta
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia