Saya yakin setiap orang memiliki cita-cita. Tercapai atau tidaknya sebuah cita-cita tentu sangat tergantung kepada orang yang bersangkutan. Jika dia berusaha dengan sungguh-sungguh dan pantang menyerah, maka saya yakin cita-citanya kelak akan menjadi kenyataan.
Namun bila dia bermalas-malasan, atau berusaha tapi tidak sungguh-sungguh, dan mudah menyerah ketika berhadapan dengan ujian atau kegagalan, rasanya mustahil dia bisa meraih cita-cita sebagaimana yang diharapkannya.
Satu-satunya cara agar kita bisa meraih sukses adalah terus mencoba dan berusaha. Jangan lupa disertai dengan doa. Kita bisa membaca kisah inspiratif dari salah satu sahabat Rasulullah Saw., yang bernama Zaid bin Tsabit. Sebuah kisah yang semoga bisa menjadi bahan renungan bersama tentang pentingnya berusaha dengan tekun hingga akhirnya meraih sukses.
Kisah tentang Zaid saya temukan dalam buku ‘Jangan Berhenti Mencoba’ karya Nasrul Yung (Quanta, Jakarta). Di usia 30 tahun, Zaid telah menjadi orang penting di Madinah. Untuk urusan-urusan seperti peradilan, fatwa, qiro’ati, dan faraidh seantero kota Madinah dialah yang memegangnya.
Zaid juga termasuk salah seorang sekretaris rasul. Rasulullah pernah menyuruhnya membuat surat untuk dikirimkan ke negeri-negeri musuh yang berbeda bahasa.
Bukan bahasa Arab seperti yang digunakannya. Namun, Zaid menerima tawaran itu karena dia tahu betul bahasa-bahasa asing semacam bahasa Ibrani dan Suryani.
Zaid memang pandai dalam berbahasa, hampir semua bahasa saat itu dikuasainya. Namun, kemampuan tersebut tidak datang begitu saja. Orang sekelas Zaid pun mengalami proses belajar bahasa-bahasa itu.
Setidaknya dibutuhkan waktu 17 hari untuk menguasai bahasa Suryani. Serta 15 hari untuk mahir berbahasa Ibrani. Beliau memang mampu mempelajari bahasa-bahasa asing itu dengan begitu cepat.
Kisah tentang kesuksesan Zaid tentu dapat kita jadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi, bahwa untuk meraih cita-cita itu butuh waktu dan proses yang tidak sebentar.
Kita harus mau melewati proses itu, termasuk harus sabar dan tangguh ketika berhadapan dengan kegagalan demi kegagalan.
Untuk mencapai apa yang kita inginkan, kita dituntut untuk bersusah payah terlebih dahulu. Berjuang habis-habisan sampai letih menggelayuti. Karena kenikmatan sebenarnya ada saat susah payah telah dilewati (Jangan Berhenti Mencoba, hlm. 106).
Terbitnya buku 'Jangan Berhenti Mencoba' secara khusus diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi lebih baik lagi, secara nyata dengan tindakan pasti. Selamat membaca!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tertipu Gaya Film Perang Serius, Tropic Thunder Ternyata Satir Komedi Paling Pecah
-
Review Rembulan Tenggelam di Wajahmu Extended: Saat Jeda Waktu Memberi Ruang bagi Makna
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
-
Ulasan Buku Atomic Habits: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Hidupmu
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua
Terkini
-
Pesona Alam di Bawah Bayang-Bayang Ekskavator: 4 Wisata Indonesia yang Terdampak Tambang
-
4 Body Serum Efek Tone Up Bikin Kulit Lebih Cerah, Harga Murah Rp30 Ribuan
-
Tragedi 5 Laga Tanpa Kemenangan: Saat Kehadiran Lionel Messi Tak Lagi Menakutkan di MLS
-
6 Film Resident Evil Tayang di Netflix September 2026, Ini Daftarnya
-
Andrew Kalaweit Soroti Karhutla Kalimantan: Hutan Tak Terbakar Sendiri