Thelma (2024), film bergenre aksi komedi arahan sutradara sekaligus penulis, Josh Margolin. Film ini dibintangi oleh sederet bintang berbakat seperti June Squibb, Fred Hechinger, hingga Richard Roundtree.
Adapun kisahnya tentang Thelma Post (June Squibb), manula berusia 93 tahun yang suatu hari menerima telepon dari seseorang yang berpura-pura sebagai cucunya.
Lewat sambungan telepon, Thelma dipinta untuk mengirimkan sejumlah uang demi membebaskan cucu kesayangannya dari kekacauan. Sesaat setelah menuruti titah si penelpon, Thelma tersadar bahwa dirinya baru saja menjadi korban penipuan.
Ia pun mulai menyisiri penjuru kota bersama teman lamanya, Ben (Richard Roundtree) untuk menemukan si penipu dan mengambil kembali apa yang telah diambil darinya.
Ulasan Film Thelma
Wow! Gokil, sih! Gak ngira kalau film dengan premis sederhana, dua manula sebagai tokoh utama, juga aksi tipis-tipis mengundang tawa bakal semenyenangkan ini untuk disaksikan!
Secara alur cerita, premis yang dibawakan sangat sederhana yakni tentang manula yang tertipu lewat panggilan suara, tanpa ada pengembangan konflik yang luar biasa.
Namun, berkat eksekusi yang matang, penataan plot yang gak begitu lambat, juga gak diburu-buru amat, pada akhirnya melahirkan serangkaian adegan yang semuanya penting untuk keutuhan cerita.
Serius deh, gak ada yang namanya adegan mubazir di film ini, tiap adegan akan menjadi penjelas untuk adegan lainnya. Jadi, sebagai penonton saya gak merasa buang waktu untuk menyaksikan adegan yang gak perlu!
Rasanya emang harus sungkem sama sutradara yang juga merangkap jadi penulis naskah, gimana gak? Kalau penokohan di film ini "daging" banget.
Semua karakter, tak hanya tokoh utama tapi tokoh pendukungnya juga memiliki karakter yang kuat, dan mudah untuk diingat.
Menyenangkannya lagi semua tokoh yang berkarakter tadi pun diperankan dengan ciamik oleh para aktor dan aktris yang ikut andil dalam film ini.
Selain alur cerita dan penokohan, yang membuat saya pribadi betah berlama menyimak film ini adalah sinematografinya.
Bagi saya, ini bukan sekadar film semata, tapi lebih dari itu, secara visual film ini mengingatkan saya pada karya seni sebab komposisi warna yang dihadirkan, pencahayaan yang ditampilkan benar-benar menambah keindahan dan memperbaiki mood sewaktu melihatnya.
Semua itu disempurnakan pula dengan sajian narasi menghangatkan hati yang setidaknya mengingatkan kita untuk tidak terlalu keras menghardik siapa pun yang nampak lebih lemah di sekitar kita. Tidak ada yang benar-benar ingin tampak tidak berguna bagi orang-orang sekitarnya.
Manula tidak pernah mengharapkan menjadi beban anak-cucunya, dan seorang yang nampak tak bisa diandalkan pun pernah berusaha keras mengerahkan segala kemampuannya. Sebagai manusia sudah sepatutnya kita berkata dan bersikap bijak terhadap sesama.
BACA BERITA ATAU ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Doubt: Misi Profiler Kawakan Misi Mencari Kebenaran atau Misi Menutupi Aib?
-
Membaca Novel ILY: Saat Petualangan Berubah Jadi Pilihan yang Menyakitkan
-
Buku Tenang Semua Akan Baik Baik Saja, Menemukan Tenang dalam Semesta Kecil
-
Ulasan Novel Falling Away, Pertarungan Melawan Ego dan Rasa Bersalah
-
Film Danur: The Last Chapter, Penutup Saga yang Manis tapi Kurang Epik
Terkini
-
Sinopsis Assi, Film India yang Dibintangi Taapse Pannu dan Kani Kusruti
-
3 Drama Korea dengan Kisah Pacar Virtual, Ada Boyfriend on Demand
-
Parit Keramat
-
Maaf-maafan Cuma Formalitas, Banding-bandingin Itu Prioritas: Sisi Gelap Crab Mentality
-
Tanpa Keramas! 5 Dry Shampoo Ini Bikin Rambut Segar dalam Sekejap