Eddy D. Iskandar kelahiran Ciwidey, 11 Mei 1951. Penulis produktif yang pada 1970-an menjadi ikon melalui novel-novelnya yang menggunakan setting SMA. Sebagian besar novelnya yang telah terbit diangkat ke film dan menjadi film laris.
Selain menulis novel-novel best seller dan selalu dicetak ulang itu, Eddy D. Iskandar juga menulis kumpulan puisi berjudul Bagimu Indonesiaku. Pada puisi ini, si penggubah ingin menuturkan harapan kepada pemimpin negara agar mengabdi tulus demi rakyat, menjaga tanah air, dan berikrar untuk memakmurkan rakyat. Sebab, mereka para pemimpin itu, dalam menjalankan tugas telah lebih dulu disumpah atas nama Tuhan. Maka, jika mengkhianati amanah tersebut, mereka akan menanggung dosa berat.
Suara hati rakyat kepada pemimpin ini tertuang dalam baris-baris puisi bertajuk BAGIMU INDONESIAKU.
Bagimu Indonesiaku // kupersembahkan sajak bisu // tanpa kata-kata // hanya kertas putih // berlumur lumpur // hanya kisah sedih // tanah bertumpah darah.
Bagimu Indonesiaku // kupersembahkan pengabdianku yang tulus // andaikan aku jadi pemimpin // akan kujaga tanah dan airku // akan kumakmurkan rakyat bangsaku // karena setiap pemimpin // dibebani sumpah "Demi Allah" // sungguh berat dosaku // jika aku mengingkarinya (Halaman 16).
Sementara pada puisi yang lain, bertebaran kegelisahan-kegelisahan Eddy D. Iskandar terkait dengan kondisi bumi di tanah Ibu Pertiwi ini. Salah satu keresahan hati penulis tersebut, bisa kita temukan dalam buku kumpulan puisi ini dengan tajuk ELEGI.
Tanah kehilangan air // air kehilangan tanah // hutan kehilangan pohon // pohon kehilangan lahan // rumah melahap tanah // gedung memangsa ruang // sungai menangis // tanpa air mata // bukit dipangkas // gunung digarang // desa tinggal nama // kampung tinggal kenangan // sawah merintih // ladang mengerang // jalan padat menikam // jantung berdebar kencang // ke mana akan pergi // mencari yang alami // ke mana kalian bawa // jutaan penghuni negeri ini (Halaman 10).
Eddy D. Iskandar berteriak soal hutan yang dibabat gundul, pohon-pohon ditebang liar, sungai-sungai kering, bukit-bukit dikeruk diambil tanahnya, jalanan padat merayat, polusi di mana-mana, dan lain sebagainya.
Selain itu, Eddy juga menyuarakan soal etika para penghuni negeri ini yang kerapkali saling tebar fitnah, menyebar ujaran kebencian, dan merasa hanya golongannya yang paling benar.
BUKAN PERTANYAAN
Mengapa kita mesti merasa saling benar // ketika berseberangan pemahaman // mengapa kita mesti menepuk dada // bicara berapi-api // menganggap yang lain tak berarti // karena ilmunya dianggap kurang memadai (Halaman 17).
Dan masih banyak lagi puisi-puisi lain yang tak kalah menarik hasil goresan pena novelis terkenal ini.
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Bagimu Indonesiaku
Penulis: Eddy D. Iskandar
Penerbit: Kiblat Buku Utama
Cetakan: I, 2007
Tebal: 94 Halaman
E-ISBN: 978-979-419-653-3
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Tag
Baca Juga
-
Polemik Kurban 1.098 Sapi dari APBN Rp100 Miliar: Uang Presiden atau Rakyat?
-
Cari HP dengan Kamera Terbaik 2026? Ini 3 Pilihan Flagship yang Setara Kamera iPhone!
-
Review Buku Wawasan Kebangsatan: Negeri yang Dipaksa Baik-baik Saja
-
Diusir dari Tanah Sendiri: Luka Kemanusiaan dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari
-
Photo Assist Samsung Galaxy S26 Series: Solusi Praktis Menghilangkan Objek Mengganggu di Foto
Artikel Terkait
-
Prosa Indah Riwayat Perang Bubat dalam Buku Citraresmi Eddy D. Iskandar
-
Cerdas dalam Berkendara Lewat Buku Jangan Panik! Edisi 4
-
Ulasan Buku The Alpha Girl's Guide: Menjadi Perempuan Smart dan Independen
-
Ulasan Buku 'Di Tanah Lada': Pemenang II Sayembara Menulis Novel DKJ 2014
-
Bangkit dari Keterpurukan Melalui Buku Tumbuh Walaupun Sudah Layu
Ulasan
-
Sisi Lain Kehidupan Bu Lira dalam Novel 'Kami (Bukan) Fakir Asmara'
-
Ulasan Drama Phantom Lawyer, Ketika Keadilan Terkuak dari Para Arwah
-
Ulasan Novel Periculo, Citra Sempurna, Pengkhianatan, dan Misteri Kematian
-
Senja dan Cinta yang Berdarah: Ketika Sastra Jadi Cara Melawan Pembungkaman
-
Tahan dan Tenang, Nanti Datang Senang: Pelukan Hangat saat Hidup Berat
Terkini
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
-
Riang tapi Berani, IDID Dobrak Batasan dalam Meraih Mimpi di Lagu Fly!
-
Iduladha dan Generasi Muda: Makna Lama yang Masih Relevan di Era Modern
-
Mengapa Tuduhan Amien Rais soal Teddy Mudah Dipercaya Publik?
-
Polemik Kurban 1.098 Sapi dari APBN Rp100 Miliar: Uang Presiden atau Rakyat?