Di tengah riuhnya suasana Car Free Day (CFD) Kota Jambi, area di sekitar Tugu Keris, persis di sisi kiri Rumah Sakit Mitra, menjadi salah satu titik keramaian yang tak pernah sepi. Tidak hanya sebagai tempat warga berkumpul, berolahraga, atau menikmati hiburan pagi, area ini juga menjadi surga bagi para pecinta kuliner. Salah satu yang paling memikat perhatian adalah sate kacang, sajian sederhana namun penuh cita rasa yang menggugah selera.
Aroma sate yang terbakar di atas bara api begitu menggoda, seolah-olah menjadi undangan untuk singgah sejenak. Lapak sate ini selalu dipadati pengunjung, mulai dari anak muda hingga keluarga besar. Keistimewaan utama sate ini terletak pada perpaduan kuah kacang, lontong, dan daging yang terasa melebur menjadi satu harmoni rasa. Kuah kacangnya, dengan tekstur kental dan rasa gurih-manis, dibuat dari kacang tanah pilihan yang diolah hingga menghasilkan konsistensi lembut, namun tetap memiliki gigitan khas kacang.
Lontong yang menjadi pendampingnya juga tak kalah memanjakan lidah. Potongannya lembut, dengan tekstur yang pas untuk menyerap kuah kacang. Ketika disantap bersama daging sate yang empuk, sensasi rasa yang muncul begitu kaya dan memuaskan. Setiap gigitan seakan menjadi perjalanan kecil ke dalam tradisi kuliner Nusantara yang penuh rasa.
Pengunjung dapat memilih jenis sate sesuai dengan selera, apakah ingin sate daging sapi atau sate ayam. Sate daging sapi menawarkan potongan daging yang empuk dengan sedikit lemak, memberikan rasa gurih yang meleleh di mulut. Sementara itu, sate ayam menghadirkan kelezatan yang lebih ringan namun tetap nikmat, dengan daging ayam yang lembut dan meresap hingga ke dalam seratnya.
Bagi yang mencari variasi rasa, di lapak ini juga tersedia sate Padang. Berbeda dengan sate kacang, sate Padang disajikan dengan kuah kental berwarna kuning yang kaya akan rempah. Rasanya sedikit pedas dengan aroma kunyit yang mendominasi, menciptakan sensasi hangat yang sangat cocok dinikmati di pagi hari. Kehangatan kuah sate Padang menjadi pelengkap sempurna untuk suasana CFD yang segar dan semarak.
Tidak hanya sate, lapak ini juga menawarkan camilan tradisional berupa keripik ubi. Keripik ini menjadi pilihan favorit untuk dibawa pulang atau sekadar dinikmati di tempat. Potongan tipis ubi yang digoreng hingga renyah menghasilkan tekstur yang garing, dengan rasa manis alami ubi yang begitu memikat. Keripik ubi ini hadir sebagai pelengkap sempurna setelah menyantap sate, memberikan sensasi rasa yang berbeda namun tetap seirama dengan nuansa kuliner tradisional.
Suasana di area ini menambah kenikmatan bersantap. Dengan udara pagi yang segar, hiruk-pikuk pengunjung, dan alunan musik dari para pengamen jalanan, pengalaman menikmati sate menjadi lebih dari sekadar makan. Tempat ini juga menawarkan fleksibilitas, di mana pengunjung bisa memilih untuk duduk lesehan di atas tikar yang disediakan atau menggunakan kursi. Kebebasan ini memberikan kenyamanan tambahan bagi siapa saja yang datang, baik sendiri, bersama teman, maupun keluarga.
Yang membuat pengalaman ini semakin istimewa adalah harga yang sangat terjangkau. Dengan porsi yang memuaskan dan rasa yang luar biasa, sate kacang dan sate Padang di tempat ini benar-benar memberikan nilai yang sulit ditandingi. Hal ini menjadikan lapak ini sebagai tujuan favorit banyak orang setiap minggunya.
Menikmati sate kacang di CFD Kota Jambi bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi juga merayakan momen kebersamaan dan kearifan lokal. Dengan segala keunikan dan kelezatan yang ditawarkan, tidak heran jika area Tugu Keris selalu menjadi salah satu pusat keramaian yang dinanti-nanti oleh warga Kota Jambi dan para wisatawan. Sate kacang, sate Padang, dan keripik ubi di tempat ini benar-benar menjadi simbol kecil dari kekayaan rasa dan budaya yang dimiliki Jambi.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Tergulung Doomscrolling, Ketika Layar Jadi Sumber Cemas
-
Tersesat di Usia Muda, Mengurai Krisis Makna di Tengah Quarter Life Crisis
-
Fame Cafe Jambi: Suasana Santai, Rasa Juara, Bikin Tak Mau Pulang
-
Terjebak dalam Kritik Diri, Saat Pikiran Jadi Lawan Terberat
-
Takut Dinilai Buruk, Penjara Tak Terlihat di Era Media Sosial
Artikel Terkait
-
Apa Saja Bisnis Kuliner Raffi Ahmad? RANS Nusantara Hebat Dikabarkan Sepi Pengunjung
-
Lezat dan Lumer! Ini 3 Rekomendasi Tempat Makan Cheesecake Enak di Jogja
-
Angkat Tema Kuliner Indonesia, Ini First Look Film 'Rahasia Rasa'
-
Cafe Teko Kopi, Tempat Nongkrong Bernuansa Joglo di Pekanbaru
-
Mencicipi Kuliner Pedas, Warung Gopek Pekanbaru Sambalnya Bikin Nagih
Ulasan
-
Memahami Makna Berdoa melalui Novel Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak?
-
Lorong Menuju Laut: Perlawanan Perempuan Sangihe Melawan Korporasi dalam Novel Dian Purnomo
-
Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Tradisi yang Menekan Generasi Muda
-
Ketika Kakak Kehilangan Arah: Kisah Emosional di Novel Dongeng untuk Raka
-
Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa
Terkini
-
Ramadhan, Tarawih, dan Ujian Konsistensi Iman
-
Butuh Ide Outfit Bukber? Intip 4 Ide Gaya Hijab Elegan ala Sashfir Ini
-
Berpuasa, Bekerja di Jakarta dan Menguatkan Iman di Tengah Tekanan Urban
-
Di Balik Ramainya Takjil Ramadan, Ancaman Sampah Sekali Pakai Meningkat
-
Antisipasi Risiko Fraud, Asosiasi Investigator Internal Resmi Dibentuk