"Negara yang merusak tanahnya, tanpa sadar sedang menghancurkan dirinya sendiri, melukai rakyatnya, mengakhiri negerinya." Kalimat pembuka yang getir ini menjadi pintu masuk kita ke dalam dunia Shalom Mawira, tokoh utama dalam novel Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut karya Dian Purnomo. Melalui narasi ini, kita diajak menengok keindahan Pulau Sangihe yang kini tidak lagi tenang karena deru mesin korporasi. Dian Purnomo kembali menunjukkan kelantangannya dalam menyuarakan isu perempuan dan perampasan ruang hidup di tanah Sulawesi Utara.
Kisah ini berawal dari kerinduan Shalom terhadap ayahnya yang menghilang di lautan. Bagi Shalom, merawat alam Sangihe bukan sekadar isu lingkungan, melainkan upaya memastikan "jalan pulang" bagi sang ayah agar tidak tersesat saat kembali nanti. Namun, harapan ini terancam oleh kehadiran "Perusahaan Biongo", sebutan masyarakat untuk korporasi tambang emas yang berniat mengekstraksi kekayaan alam Sangihe.
Kehadiran tambang membelah warga menjadi dua kubu: mereka yang tergiur janji kesejahteraan semu dan mereka yang teguh menolak. Masyarakat sadar bahwa nenek moyang mereka bukan tidak tahu ada emas di tanah itu; mereka tahu, namun lebih memilih menanam pala dan cengkih demi menjaga napas ibu bumi. Perjuangan mencapai puncaknya ketika pemerintah, yang seharusnya menjadi pelindung, justru hadir dengan seragam lengkap untuk mengawal alat-alat berat yang siap mengoyak tanah suci mereka.
Keunggulan utama karya ini adalah kemampuan penulis dalam memotret dampak eksploitasi tambang melalui sudut pandang perempuan. Dian Purnomo dengan tajam menggambarkan bagaimana kerusakan ekosistem menjadi beban ganda bagi perempuan. Saat sumber air raib dan sungai tercemar limbah, perempuanlah yang harus memutar otak untuk memasak, mencuci, dan merawat keluarga di tengah ancaman banjir yang kian sering melanda.
Novel ini bukan sekadar fiksi, melainkan cerminan dari kisah nyata perjuangan 45 perempuan Sangihe yang menuntut keadilan di meja hijau. Kita diperlihatkan betapa timpangnya hukum; kemenangan rakyat di pengadilan sering kali hanya menjadi jeda singkat sebelum "dikalahkan" kembali oleh upaya banding korporasi. Namun, penindasan dan kriminalisasi ini justru menjadi katalisator yang menyatukan seluruh elemen masyarakat—tua, muda, laki-laki, dan perempuan—untuk turun ke jalan demi melindungi masa depan generasi mereka.
Novel ini adalah peringatan keras bagi siapa pun yang masih memiliki nurani. Apa yang terjadi di Sangihe adalah cermin dari apa yang bisa menimpa wilayah mana pun selama kekuasaan digunakan hanya untuk mengenyangkan perut segelintir pihak. Dian Purnomo berhasil menyampaikan pesan bahwa pembangunan ekonomi yang merusak alam pada hakikatnya adalah warisan bencana bagi anak cucu kita. Sebuah bacaan wajib bagi Anda yang masih peduli pada kemanusiaan dan keberlangsungan semesta. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
- Penulis: Dian Purnomo
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: Oktober 2023
- ISBN: 9786020673004
- Jumlah Halaman: 288 Halaman
Baca Juga
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Novel Kuda: Dendam dan Pengkhianatan yang Menembus Zaman
-
Batas Tipis Kewarasan dalam Novel Perempuan di Dalam Piano
-
Membaca Pendosa yang Saleh: Saat Kesalehan Beradu dengan Hasrat Tabu
-
Keunikan Novel Koloni: Membedah Sisi Manusia Lewat Karakter Serangga
Artikel Terkait
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Yang Telah Lama Pergi: Persatuan Perompak di Balik Runtuhnya Sriwijaya
-
Kawan Lama Ayahmu: Wajah Suram Australia di Era Kolonial
-
Novel Her Own Hero, Perjuangan Perempuan Merebut Ruang Publik
-
Batas Tipis Kewarasan dalam Novel Perempuan di Dalam Piano
Ulasan
-
Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Tradisi yang Menekan Generasi Muda
-
Ketika Kakak Kehilangan Arah: Kisah Emosional di Novel Dongeng untuk Raka
-
Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa
-
Film Late Shift: Malam Panjang Perawat yang Melelahkan dan Penuh Empati
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua