Dakwah dapat diartikan menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Dakwah menjadi sebuah kewajiban bagi mereka yang telah mampu untuk berdakwah di tengah masyarakat.
Mampu di sini tentu saja memiliki cakupan makna yang luas, seperti memiliki beragam keilmuan yang tinggi dan juga perilaku atau perangai yang baik. Oleh karena itu, bagi orang yang ingin berdakwah, maka dia harus membekali dengan hal-hal penting (seperti keluasan ilmu dan adab yang baik) yang akan membantu kelancaran dakwahnya.
Tanpa membekali diri dengan hal-hal tersebut, rasanya dakwah yang disampaikan tidak akan diterima dengan baik. Alih-alih diterima dengan baik, bisa jadi dakwah yang disampaikan malah akan memicu persoalan atau konflik di tengah masyarakat.
Seorang pendakwah atau da’i juga harus berusaha membekali diri dengan ilmu psikologi. Dalam buku ‘Psikologi Dakwah, Teori dan Aplikasinya dalam Medan Dakwah’ diungkap bahwa definisi psikologi dakwah adalah ilmu pengetahuan yang bertugas mempelajari atau membahas tentang segala gejala hidup kejiwaan, baik da’i maupun mad’u (masyarakat) yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah. Di samping manusia adalah makhluk individual, manusia juga termasuk makhluk sosial.
Oleh karena itu dalam pembahasan psikologi dakwah masalah tingkah laku manusia dilihat dari segi interaksi dan interrelasi serta interkomunikasinya dengan manusia lain dalam hidup individual dengan kelainan-kelainan watak dan personalitasnya, mendapatkan tekanan-tekanan analisis yang mendasar dan menyeluruh (hlm. 5).
Keberagaman watak manusia inilah yang mengharuskan setiap pendakwah harus mempelajari ilmu psikologi dakwah, agar mampu berinteraksi dengan baik dengan semua kalangan, dan mampu menyampaikan dengan bahasa tutur yang pas dan tepat sasaran, sehingga dakwah tersebut mampu mendatangkan kebaikan atau kemanfaataan bagi orang banyak.
Berhasil tidaknya dakwah, sangat ditentutkan oleh dua faktor, yakni dari diri si pendakwah dan dari masyarakat luas. Dalam buku ini dituturkan bahwa keberhasilan dakwah bukan hanya disebabkan oleh kehebatan da’i menyampaikan pesan-pesan dakwahnya, tapi lebih ditentukan oleh bagaimana masyarakat (mad’u) menafsirkan pesan dakwah yang mereka terima.
Buku karya Dr. Khusnul Wardan, M.Pd. yang diterbitkan oleh Penerbit Litnus (Malang) ini bisa dijadikan sebagau salah satu sumber referensi bagi para dai atau calon mubaligh. Semoga buku ini bisa menjadi panduan praktis yang akan membantu Anda menemukan kiat-kiat sukses dalam berdakwah. Selamat membaca.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
Artikel Terkait
-
After School Doctor: Kisah Dokter Dingin yang Belajar Empati di Sekolah Dasar
-
Jangan Cerai Saat Emosi, Ini Kata Psikolog
-
Ulasan Buku Ayahku Hebat, Kerja Keras Seorang Ayah Penyandang Disabilitas
-
Tasawuf Muhammadiyah: Bukan Zikir Bermalam-Malam, Tapi Aksi Nyata untuk Umat!
-
Agama Dewi Soekarno Sempat Jadi Pertanyaan Setelah Bung Karno Meninggal
Ulasan
-
Jangan Lupa Bahagia: Tamparan Realita Hidup Generasi Sandwich
-
I Am Not Happy!: Cerita Quokka tentang Perasaan yang Sering Disalahpahami
-
Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius
-
Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah
-
Ulasan 18 Again: Penyesalan yang Mengajarkan Arti Memahami Keluarga
Terkini
-
Sinopsis Fragments of Truth, Drama China Terbaru Huang Jun Jie di Youku
-
Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?
-
Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Rilis PV Baru, Anime PSYREN Hadirkan Misteri Bertema Kekuatan Psikis