Buku novel ‘Sunset Bersama Rosie’ karya Tere Liye mengisahkan cerita dan pemahaman arti cinta, kehilangan, dan persahabatan.
Dalam novel ini akan membawa pembaca ke dalam lembah emosional yang menggugah, sambil menghadirkan pesan-pesan moral yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari kisah yang diceritakan, terdapat sosok Tegar yang mengalami kisah percintaan yang penuh tanda tanya. Tegar adalah sosok pria yang memiliki masa lalu kelam karena gagal mengungkapkan perasaannya kepada sahabatnya bernama Rosie.
Persahabatan mereka terjalin sejak kecil sampai dewasa, hingga hari-hari mereka selalu dihabiskan untuk bermain, bercanda bersama, dan menikmati indahnya sunset di pantai.
Namun, saat Tegar berencana untuk menyatakan cintanya yang amat mendalam kepada Rosie di sebuah pendakian Gunung Rinjani. Nyatanya, sahabatnya yang bernama Nathan lebih dulu menyatakan cinta kepada Rosie.
Nathan sendiri diperkenalkan oleh Tegar kepada Rosie karena satu kampus dengan mereka hingga terjalin persahabatan di antara mereka.
Sejak kejadian di Gunung Rinjani itulah perasaan Tegar mulai rapuh dan runtuh, dalam pikirannya tidak pernah tenang dan harus merasakan rasa sakit yang amat mendalam. Hingga membuat Tegar memutuskan untuk merantau ke Jakarta.
Cintanya kalah dengan sahabatnya sendiri yang baru kenal dengan Rosie yang baru 2 bulan, sementara Tegar sudah lama memendam perasaannya kepada Rosie selama 20 tahun.
Beberapa bulan kemudian, Nathan dan Rosie memutuskan untuk menikah. Pada masa-masa itulah, Tegar mencoba mencari kesibukan di Jakarta dan berusaha untuk melupakan masa lalunya.
Hari demi hari terus berlanjut, Tegar mencoba memperbaiki hubungan pertemanan dengan Nathan dan Rosie, dan Tegar menjadi dekat dengan keluarga Rosie.
Hingga tiba suatu hari, keluarga Natha dan Rosie lengkap dengan 4 anak, yakni Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Saat itu keluarga mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-13 di Pantai Jimbaran.
Namun, tak lama kebahagiaan itu dirayakan, Nasib buruk pun menimpa keluarga Rosie. Nathan meninggal ketika bom meledak di Pantai Jimbaran, hingga Rosie mengalami depresi berat.
Tegar yang sudah bertunangan dengan Sekar, sahabat dan juga menjadi kekasihnya di Jakarta, memutuskan untuk kembali ke Gili Trawangan untuk mengurus anak-anak Rosie dan resor peninggalan Nathan.
Selama dua tahun di Gili Trawangan mengurus anak-anak Rosie, rencana pertunangan Tegar dan Rosie pun gagal sejak kejadian di Pantai Jimbaran. Bahkan, dengan tinggalnya Tegar di keluarga Rosie, Sekar merasa tidak tenang.
Di sisi lain, selama 2 tahun Rosie dirawat di shelter, Tegar tidak pernah menghubungi Sekar. Ketika Rosie sembuh, Tegar dan Rosie ada jadwal ke Jakarta mengantar Sakura anak kedua Rosie tampil dalam acara musik.
Setiba di Jakarta, Tegar mengetahui kalau Sekar bertunangan dengan orang lain. Tegar pun menemui Sekar dan memohon kesempatan kedua kepada Sekar, hingga akhirnya mereka pun merencanakan acara pernikahan yang sempat tertunda.
Namun, saat pernikahan Tegar dan Sekar tiba, Rosie menghadiri pernikahan tersebut dan dihadapkan pada kenyataan bahwa putrinya, Lili, menginginkan Tegar sebagai ayahnya.
Di tengah dilema, Tegar harus memutuskan apakah akan melanjutkan pernikahannya dengan Sekar atau kembali kepada Rosie dan menghidupkan kembali cinta mereka.
Sunset Bersama Rosie adalah novel yang penuh perasaan dan emosional. Tegar yang mengalami banyak konflik dan dilema emosional membuat pembaca terhanyut dalam ceritanya dan penasaran untuk terus mengikuti hubungan Tegar dan Rosie.
Penulis mampu menggambarkan keindahan Gili Trawangan, latar tempat utama dari novel ini, sehingga membaca dapat merasakan suasana tempat tersebut dengan jelas.
Salah satu kekurangan yang saya temukan sebagai salah satu pembaca dari novel ini, yakni pengulangan penjabaran peristiwa dan sering menampilkan alur mundur ke momen-momen Gunung Rinjani.
Alur cerita yang maju mundur terasa membingungkan dan sedikit membuat bosan. Akhir dari novel ini juga sedikit menggantung, yang membuat pembaca merasa tidak puas dengan akhir cerita dalam novel tersebut.
BACA BERITA ATAU ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE
Baca Juga
-
Tertimpa Kasus Bukan Kiamat: Cara Perusahaan Bangkit dari Krisis
-
PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
-
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
Artikel Terkait
Ulasan
-
Resensi Buku Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga: Warisan Revolusi Oktober 1917.
-
Ketika Penjudi Mengenal Cinta di Peternakan Kuda: Romansa di Texas Blue
-
Drama Beyond the Bar: Ketika Keadilan Harus Melewati Luka yang Tak Terlihat
-
Kusni Kasdut: Potret Pilu Veteran yang Tersisih Setelah Indonesia Merdeka
-
Di Balik Gaun Duchess: Pernikahan yang Dingin di Novel Eloisa James
Terkini
-
Performa Gacor di Persib, Eliano Reijnders Berpeluang Kembali Merumput di Eropa
-
4 Physical Sunscreen Lokal Allantoin, Redakan Kemerahan pada Kulit Sensitif
-
Doraemon Rilis Episode Spesial Berlatar Vietnam, Tayang 23 Mei
-
Sinopsis Drama Jepang 'Sukui, Sukuware', Dibintangi Sakaguchi Tamami
-
Selepas Nadir Terukur