Kita akan menemukan pemahaman dari proses perubahan ulat menjadi seekor kupu-kupu dalam buku Metamorfosis Sempurna ini. Uniknya, keterangan ilmiah tersebut dijelaskan melalui cerita yang begitu menarik, sehingga jauh dari kesan menjemukan.
Kisah berawal dari Mimi berusia 6 tahun yang baru saja pulang dari sekolah TK B. Di dapur, Mimi menemukan kakaknya tengah memasak sayur. Usai ganti baju, Mimi menghampiri kakaknya dan menawarkan bantuan. Si kakak meminta Mimi agar mengambilkan jeruk nipis di kebun halaman rumahnya.
Di pohon jeruk nipis itulah Mimi menemukan benda aneh yang belum pernah ia jumpai selama hidupnya. Karena lama menunggu, akhirnya si kakak menjemputnya ke kebun halaman. Mimi menceritakan bahwa ia menemukan benda aneh. Seketika kakaknya menjelaskan mengenai kepompong yang akan menjadi kupu-kupu.
Kakak Mimi menerangkan bahwa pertama kupu-kupu dewasa berkembang biak dengan cara bertelur di atas batang atau daun.
"Telur-telur itu menempel di balik daun agar terlindungi dari hujan dan pemangsa," ujar kakak.
"Wah, kecil sekali ya telurnya," timpal Mimi.
"Sekali bertelur, kupu-kupu dapat menghasilkan ratusan telur yang kecil-kecil seperti ini." (Halaman 10).
Kakak Mimi juga menguraikan bahwa setelah menetas, ulat kecil yang kelaparan mulai keluar. Makanan pertama ulat adalah cangkang telur mereka yang penuh gizi. Usai cangkang telurnya habis, mereka akan memakan daun-daunan himngga tumbuh menjadi ulat yang besar dan gemuk.
Setelah ulat bertambah besar dan gemuk serta menyimpan cukup banyak nutrisi, ia akan menempel pada batang pohon dan mengeluarkan kelenjar agar bisa menempel dengan kuat. Ia bergantung di dahan dengan kepala di bawah, siap untuk memulai fase berikutnya, yaitu menjadi kepompong.
Ulat yang menjadi kepompong itu akan melepaskan kulit luarnya. Setelah kulit luarnya terlepas, permukaan ulat akan mengeras dan berubah menjadi kepompong. Ia akan menunggu selama beberapa hari di dalam kepompong sampai siap untuk keluar. Di dalam kepompong, tubuh ulat mengalami perubahan. Ia akan keluar dan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah.
Selain menjelaskan lewat cerita tentang metamorfosis kupu-kupu, buku ini juga membahas metamorfosis katak, nyamuk dan lebah. Kakak Mimi menjelaskan bahwa katak berawal dari telur lalu menjadi berudu, katak muda, kemudian katak dewasa. Demikian pula metamorfosis nyamuk, bermula dari telur, larva, pupa, lalu nyamuk dewasa.
Buku ini sangat bermanfaat bagi anak-anak dalam mengenalkan proses berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Dengan membaca buku ini, anak-anak dapat mengetahui metamorfosis kupu-kupu bersayap cantik yang berasal dari seekor ulat yang menjijikkan.
Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Metamorfosis Sempurna
Penulis: Gadis Febriani
Penerbit: JP Books Surabaya
Cetakan: I, 2020 (digital)
Tebal: 26 Halaman
ISBN: 978-602-206-269-1
Baca Juga
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
-
Meracik Penawar Luka Sendiri dari Buku Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri: Tak Semua Rumah Menjadi Tempat Pulang
Artikel Terkait
-
Wacana Jadi Menu Makan Bergizi Gratis, Kenali 5 Jenis Serangga Sumber Protein Tinggi
-
Ulat Jati Halal atau Haram? Ketahui Dulu Sebelum Mengonsumsinya
-
Cara Mengusir Ulat Jati Supaya Tidak Masuk Rumah Dan Menyebabkan Gatal
-
Serem! Video Ulat Jati 'Kuasai' Jalanan Gunungkidul, Benarkah Musim Ulat Tiba?
-
Viral! Pemotor 'Bersenjata' di Gunungkidul Dikira Klitih, Ternyata Musuhnya Ulat Jati
Ulasan
-
Dibalik Sangar dan Brutalnya Aksi Agent Kim Reactivated, Ada Kisah Ayah dan Anak yang Menguras Emosi
-
Review Drama My Mister: Mahakarya Slice-of-Life tentang Beban Hidup dan Empati Kemanusiaan
-
Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
-
Keajaiban Membaca dalam When You Love a Book Karya Kaz Windness
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
Terkini
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Bukan Sekadar Visual, Ini Alasan Drama Korea Jadi Terapi 'Healing' Paling Favorit
-
Di Balik Ilusi Media Sosial dan Ekspektasi: Belajar Hadir dan Menerima Jalur Hidup yang Tak Linear
-
Ketika Perjuangan Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Enak, ya, Jadi Kamu"