Dalam bulan Ramadan selama 2 tahun terakhir, di Indonesia sering kali ditemui fenomena yang cukup unik, yakni war takjil atau perang takjil.
Namun, arti kata “war” atau “perang” dalam makna kali ini justru memiliki konotasi saling berlomba-lomba untuk membeli dan memborong dagangan orang-orang yang menjual berbagai macam menu takjil untuk berbuka puasa.
Dilansir dari laman ipb.ac.id, fenomena war takjil yang marak terjadi selama bulan Ramadan di Indonesia dalam jangka 2 tahun terakhir dianggap sebagai sebuah budaya baru yang menggambarkan pluralisme kebudayaan yang ada di Indonesia.
Pasalnya, tren war takjil ini sendiri tidak hanya dilakukan oleh umat Islam saja sebagai umat yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, melainkan juga umat-umat agama lainnya yang juga turut memeriahkan tren satu ini.
Meskipun sempat menimbulkan pro dan kontra, akan tetapi hingga saat ini kegiatan tersebut justru mencerminkan saling adanya toleransi antarumat beragama di Indonesia. Hal ini sendiri tentunya memiliki dampak yang sangat positif sekaligus dapat mengutungkan banyak pihak.
Tren War Takjil Bisa Menjadi Sarana Berbagi Rezeki kepada Sesama
Tren war takjil yang menjadi budaya baru di masyarakat di Indonesia dalam 2 tahun terakhir ini tentunya bisa mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi banyak pihak.
Salah satunya adalah para pedagang yang menjual beraneka ragam makanan yang disuguhkan untuk takjil berpuasa. Dalam setiap lokasi yang menjual banyak menu untuk takjil di bulan Ramadan, dipastikan akan selalu diserbu oleh banyak pihak yang melakukan tren war takjil.
Uniknya, seperti yang dijelaskan di atas tidak hanya umat muslim saja yang meramaikan tren war takjil ini. Viralnya tren war takjil di berbagai media sosial tentunya mendorong banyak masyarakat dari ajaran atau agama lainnya juga turut ikut serta memeriahkan tren war takjil ini.
Hal ini secara tak langsung juga bisa kian menghidupkan roda perekonomian masyarakat yang tentunya bisa memberikan pemasukan yang cukup banyak bagi para pedagang yang menjual aneka menu makanan untuk takjil.
Tentunya fenomena war takjil ini menjadi salah satu bukti bahwa kebaikan antarsesama khususnya dalam hal jalur rezeki masing-masing individu bisa datang dari mana saja. Para pembeli bisa ikut merasakan sensasi war takjil dan juga merasakan berbagai hidangan takjil di bulan Ramadan.
Di sisi lain, para pedagang tentunya mendapatkan limpahan rezeki dari pemasukan penjualan yang cukup banyak yang diakibatkan oleh tren war takjil tersebut.
Tentu diharapkan budaya semacam ini bisa tetap lestari di Indonesia sebagai bukti adanya toleransi antar agama sekaligus menghidupkan roda perekonomian masyarakat di bulan Ramadan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Performa Gacor di Persib, Eliano Reijnders Berpeluang Kembali Merumput di Eropa
-
Karier Tak Menentu, Bali United Bakal Pinjamkan Jens Raven Musim Depan?
-
Dean Zandbergen dan Skandal Paspoortgate: Mengapa Striker VVV-Venlo Ini Tetap Ingin Bela Indonesia?
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
-
Skandal Paspor Juga Muncul di Belgia, Ragnar Oratmangoen dan Joey Pelupessy Gimana Nasibnya?
Artikel Terkait
-
Jangan Asyik Main HP! Orang Tua Diminta Lebih Intens Bersama Anak Selama Momen Puasa
-
Shining Shimmering Splendid Ramadan di Supermal Karawaci, Ada Talkshow, Kajian, Hingga Midnight Sale
-
Waktu Imsak Kota Padang 6 Maret 2025, Lengkap dengan Niat Puasa Ramadan!
-
Sempat Berkurang Akibat Beberapa Faktor, Kementan Pastikan Pasokan Cabai di NTB Kembali Normal
-
Ramadan Datang, Produksi Mukena Meningkat 2 Kali Lipat
Ulasan
-
Mengulik Petrova Line, Garis Ancaman Kiamat dalam Film Project Hail Mary
-
Hitung Mundur Mimpi Buruk dalam Something Very Bad is Going to Happen
-
Taman Ngronggo Kediri: Ruang Singgah untuk Tertawa dan Menenangkan Diri
-
Trauma dan Beban Mental yang Ditularkan Lewat Film Grave of the Fireflies
-
Andai Kita Bisa Kembali ke Masa Kecil: Pahitnya Jadi Dewasa di Lima Cerita
Terkini
-
Mengangkat Tema Penyebaran Virus, Ini Sinopsis Film Korea Baru 'Colony'
-
Dampak Tragedi KA di Bekasi Timur: PT KAI Batalkan Belasan Rute Jarak Jauh
-
Ilusi Kuliah Murah: Jerat 'Hidden Expectation' di Balik Brosur Beasiswa
-
Pendidikan sebagai Hak Universal atau Privilege Terselubung?
-
Suara Siswa Sekolah Rakyat: Sekolah Gratis Beneran Tanpa Biaya Tersembunyi?