Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Buku Dihantui Masa Lalu Dibayangi Masa Depan (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Dihantui Masa Lalu, Dibayangi Masa Depan merupakan salah satu buku karya Zulfa Naura yang membahas cara menyelami pikiran agar pembaca tidak terus dihantui masa lalu. Kegagalan sering kali membuat seseorang takut mengambil keputusan, sekaligus khawatir terhadap masa depan sehingga akhirnya sulit mengambil tindakan. Buku ini hadir dengan tujuan membantu pembaca agar bisa lebih menikmati hidup di masa sekarang.

Buku ini terbagi menjadi empat bab utama dengan beberapa subbab di setiap bagian. Bab pertama membahas emosi yang dialami manusia secara normal, terutama tentang pikiran yang tidak bisa diam dan bergerak bebas ke mana-mana, yang kadang membuat seseorang mengalami overthinking. Masa depan yang penuh ketidakpastian sering menghadirkan banyak pertanyaan dan berbagai andai-andai. Misalnya, “Andai aku memilih jurusan yang banyak diminati perusahaan,” atau “Andai aku memilih pasangan yang benar,” atau bahkan “Andai dulu aku tidak melakukan ini dan itu, pasti sekarang keadaannya tidak begini.”

Padahal semua andai-andai tersebut tidak akan mengubah apa pun. Pikiran justru terjebak dalam sugesti buruk tentang diri sendiri sehingga seseorang tidak bisa menikmati momen yang sedang terjadi saat ini. Skenario yang diciptakan di kepala, baik yang positif maupun negatif, tidak akan mengubah kenyataan. Pikiran kadang menjadi semacam “ganja gratis” untuk menyenangkan diri sendiri, sumber candu untuk keluar dari realitas yang sedang dihadapi. Manusia sebenarnya harus menerima semua emosi yang dirasakan, baik emosi yang baik maupun yang buruk. Emosi tidak harus selalu dilabeli baik atau buruk secara berlebihan, dan kita juga tidak perlu terjebak pada ilusi bahwa kita selalu “baik-baik saja”. 

Bab kedua membahas tentang “apa kabar masa lalu”. Bagian ini dimulai dengan mengenali sesuatu yang menjadi “hantu” dalam diri seseorang. Misalnya, sejak kecil seseorang sudah dititipi cita-cita yang sebenarnya merupakan cita-cita orang tuanya yang belum tercapai, tanpa mendengarkan pendapat anak tersebut. Pada kenyataannya, tidak ada orang dengan masa lalu yang sempurna. Semua orang memiliki kekurangan.

Kenangan masa lalu diibaratkan seperti hantu yang bisa muncul kapan saja, tergantung situasi dan kondisi. Namun, “hantu” masa lalu juga bisa menjadi pengalaman yang memberi perlindungan. Misalnya, seseorang yang berkali-kali tertipu biasanya akan menjadi lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya pada orang baru di sekitarnya. Selama belum berada dalam fase yang berlebihan, hal ini masih wajar, karena otak merekam pengalaman yang terjadi dan menjadikannya referensi agar bisa belajar lebih baik.

Penulis juga menekankan bahwa kegagalan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan reaksi negatif terhadap sesuatu. Masa lalu yang tidak baik-baik saja tidak boleh menjadi dasar untuk bersikap seenaknya. Melepaskan emosi tidak sama dengan melampiaskan emosi tanpa peduli tempat dan situasi. Emosi tetap harus dikendalikan, karena pelampiasan emosi yang dipenuhi energi negatif bisa membawa seseorang pada keinginan untuk balas dendam.

Karena itu, kita perlu belajar mengendalikan emosi, bukan menekannya. Belajar melepaskan, bukan melampiaskan. Kita juga tidak perlu terus-menerus mencari siapa yang salah, karena fokus pada “siapa” sering kali justru mengaburkan fokus pada “apa” yang sebenarnya perlu diperbaiki. Kita perlu memilah ingatan masa lalu dan membedakan mana yang masih bisa diperbaiki dan mana yang perlu dilepaskan.

Cara pertama untuk merelakan dan melepaskan masa lalu adalah dengan menerima bahwa yang sudah terjadi biarlah berlalu. Penulis juga membahas tentang pentingnya memaafkan. Jika seseorang melakukan kesalahan, maka bisa dimaafkan. Jika seseorang tidak tahu, maka bisa diajari caranya, bukan justru dihina karena berbeda. Setiap orang memiliki “hantu” masa lalu yang berbeda, sehingga cara menanganinya pun tidak sama. Proses untuk pulih juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Bab ketiga berjudul “Halo Masa Depan”. Bagian ini berfokus pada kekhawatiran terhadap hal-hal yang belum terjadi. Kecemasan sering menjadi bayangan yang mengikuti setiap gerakan seseorang. Kecemasan muncul karena ketidakpastian, dan manusia sering merasa kurang yakin terhadap apa yang telah dimilikinya.

Daripada membuang waktu untuk terus-menerus berpikir negatif, lebih baik tidak terlalu fokus pada aktivitas menunggu, karena hal itu hanya akan membuang waktu. Dalam buku ini terdapat sebuah kutipan yang sangat menarik dari Thomas Alva Edison: bahwa hanya karena sesuatu tidak berjalan sesuai rencanamu bukan berarti semuanya sia-sia. Tetap berusaha, karena menyerah dan pasrah adalah dua hal yang berbeda. Pembaca juga diajak untuk lebih realistis dalam menyusun harapan.

Tujuan hidup pun perlu dibuat lebih spesifik. Tidak cukup hanya mengatakan “aku ingin berguna bagi nusa dan bangsa.” Mimpi perlu dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih jelas. Kita perlu membuat semacam denah perjalanan untuk menuju cita-cita. Denah tujuan hidup ini membantu seseorang memahami potensi dirinya, karena proses mencapai sesuatu membutuhkan waktu dan tidak terjadi secara instan.

Bab terakhir mengajak pembaca untuk berterima kasih kepada masa kini. Dalam hidup, penting untuk menjaga keseimbangan. Sesekali kita boleh menengok ke belakang, ke masa lalu, tetapi jangan sampai terjebak dan berlarut-larut di dalamnya. Menghadapi masa depan juga tidak perlu terlalu takut sampai akhirnya tidak berani mengambil tindakan.

Buku ini sangat direkomendasikan, terutama bagi generasi muda seperti Gen Z yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dibayangi berbagai isu global yang menimbulkan kecemasan. Generasi ini lahir di tengah berbagai peristiwa besar: mulai dari krisis moneter di awal masa kehidupan, masa kecil yang diwarnai bencana besar seperti tsunami Aceh, masa remaja yang berhadapan dengan pandemi Covid-19, hingga ketika mulai beranjak dewasa kembali dihadapkan pada kekhawatiran tentang isu Perang Dunia III.

Identitas Buku
Judul: Dihantui Masa Lalu, Dibayangi Masa Depan
Penulis: Zulfa Naura
Penerbit: Laksana
Cetakan pertama: 2022
ISBN: 978-623-327-216-2