ONEUS menampilkan sisi yang lebih tenang lewat lagu Same Scent, berbeda dari lagu-lagu mereka sebelumnya yang penuh energi seperti Bring It On, Valkyrie, No Diggity dan Black Mirror.
Meski lebih dikenal lewat lagu-lagu yang intens, grup ini juga punya beberapa rilisan dengan nuansa yang lebih lembut, seperti A Song Written Easily yang rilis di tahun 2019.
Lagu Same Scent terdengar estetik dan menunjukkan kematangan dalam musikalitas mereka, dan tentu saja membuat lagu ini menarik untuk didengar.
Secara lirik, lagu ini mengangkat tema godaan terlarang yang disimbolkan oleh sosok ular dalam visual albumnya. Lirik-liriknya menggunakan metafora aroma atau wangi-wangian untuk menggambarkan rasa mabuk akan kenikmatan hidup yang membuat mereka terus haus dan ingin lebih.
Meski mereka menyadari bahwa aroma tersebut bersifat candu dan tidak baik bagi mereka, pada akhirnya mereka hanya berharap agar wangi itu tetap tinggal dalam ingatan.
Salah satu bagian yang paling menonjol dalam lagu ini adalah pre-chorusnya yang terasa ringan dan mengalir dengan indah.
Bagian ini memberikan kontras yang cukup kuat dengan chorus-nya yang lebih berani. Vokal para member juga terasa sangat halus dan menyatu dengan irama lagu.
Liriknya mengalun dengan lembut, membuat pendengar seolah terseret dalam suasana lagu. Ad-libs atau improvisasi vokal juga menjadi tambahan yang menyenangkan, memberi warna tanpa membuat lagu terasa penuh sesak.
Namun di balik keindahan itu, ada kekurangan bahwa lagu ini terlalu bergantung pada instrumen musik dibandingkan pada kekuatan vokal atau penampilan ONEUS sendiri.
Chorus lagu ini terasa agak kosong, karena lebih banyak mengandalkan efek suara dan synth tropikal dibandingkan lirik atau vokal yang menonjol.
Hal ini membuat Same Scent terasa sedikit kurang bertenaga jika dibandingkan dengan lagu-lagu mereka sebelumnya yang punya hook atau bagian yang mudah diingat. Bahkan, bagian verse pertama tidak memberikan kesan yang kuat.
Meski begitu, bagian verse kedua sedikit menyelamatkan. Leedo tampil cukup baik dengan rap yang dimulai dengan lembut namun perlahan meningkat intensitasnya.
Setelah itu, Ravn menambahkan warna melalui bagian autotune dan bridge yang menjadi elemen paling tekstural dalam lagu ini.
Namun, Same Scent tetap bagus untuk didengarkan, meski rasanya akan lebih baik jika ONEUS diberi lebih banyak ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Untuk video musiknya, Same Scent memiliki beberapa visual yang memikat, terutama dalam adegan di kolam air. Pantulan cahaya di permukaan air dan gerakan tari yang indah menciptakan suasana yang estetik dan terkesan dewasa.
Meskipun begitu, video musik ini terasa kurang dibandingkan dengan video musik ONEUS lainnya seperti Twilight, To Be Or Not To Be, dan LUNA yang lebih kaya akan set, sinematografi, dan efek visual.
Set tempat tarian dalam Same Scent terasa sempit dan agak gelap. Walaupun masih membawa aura dewasa yang sesuai dengan konsep lagunya, video ini kurang menciptakan kesan yang mendalam atau visual yang bisa membekas di benak penonton.
Konsep menari di air memang memberikan sentuhan segar karena jarang digunakan dalam comeback K-pop belakangan ini, tetapi tetap tidak terasa inovatif atau istimewa.
Jika video musiknya terasa kurang kuat, penampilan panggung mereka justru memberi energi tambahan. Koreografi mereka punya sentuhan sensual yang halus, sangat cocok dengan tema lagu.
Kostum yang mereka kenakan saat tampil juga mendukung nuansa tersebut, menambah kesan dewasa yang ingin ditampilkan.
Bagian chorus saat mereka menari juga menunjukkan intensitas yang tidak terlalu berlebihan, namun tetap menarik untuk ditonton. Ini menunjukkan bahwa meskipun lagu ini tidak terlalu berat, namun penampilan visual dan tariannya bisa menjadi nilai jual yang kuat.
Secara keseluruhan, Same Scent adalah lagu yang sangat bergantung pada suasana dan irama. Kemungkinan besar, lagu ini dibuat dengan fokus pada produksi instrumental terlebih dahulu, baru kemudian diberi sentuhan vokal.
Hal ini membuatnya terasa seperti sebuah karya seni yang lebih fokus pada nuansa dibanding struktur lagu pop pada umumnya.
Meskipun lagu ini tidak memiliki hook yang kuat atau struktur lagu yang berlapis, Same Scent berhasil membangun atmosfer yang sensual dan estetik.
Lagu ini mungkin tidak akan langsung memikat dalam sekali dengar, tapi justru bisa jadi favorit setelah didengarkan berkali-kali. Ini adalah contoh bagaimana ONEUS mampu bereksperimen dengan gaya dan menampilkan sisi musikalitas mereka yang lebih dewasa.
Baca Juga
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Flexible Working Hour dan Batas Hidup Pekerja yang Semakin Kabur
-
Membaca di Era Digital: Masih Penting atau Mulai Dilupakan?
-
Content Creator Semakin Menjamur, Sekadar Hobi atau Profesi Serius?
-
Maaf Aku Lahir ke Bumi: Refleksi tentang Luka yang Tidak Pernah Bersuara
Artikel Terkait
Ulasan
-
Penebusan Dosa Sang Mantan Pecandu: Review Jujur Serial Fantasi Epik 'Agent from Above'
-
Menghilangkan Penat dan Stress dengan Berwisata Alam di Pancar Wonotirto
-
Review Anime Farmagia, Pemberontakan Para Petani Melawan Tirani
-
Children of Heaven: Angkat Tema Kemiskinan dengan Pendekatan yang Humanis
-
Paya Nie: Kisah Pilu Perempuan Aceh di Tengah Konflik Berdarah TNI dan GAM
Terkini
-
Dilema Kaum Rebahan di Tengah Gejolak Ekonomi: Chill atau Mulai Bergerak?
-
Laptop Asus ROG Zephyrus G14, Senjata Baru Gamer dan Content Creator Profesional
-
Jejak Sampah di Balik Tombol 'Checkout': Sudah Siapkah Berhenti Jadi Konsumen Pasif?
-
5 Tips Jitu Memilih Pelembap Wajah yang Pas untuk Hasil Lembap Optimal
-
Jangan Cuma Rendang! Sulap Daging Kurban Jadi 4 Hidangan Nusantara yang Lebih Menggoda