"Built to Last" merupakan buku ketiga dalam seri Park Avenue Promise, yang mengisahkan tiga sahabat dari SMA, Harper, Ivy, dan Anika yang berjanji untuk selalu saling mendukung dan menaklukkan New York City bersama. Di instalasi ketiga ini, fokus ada pada Harper Ross, pemilik sekaligus penerus perusahaan konstruksi keluarganya di Manhattan, yang hampir kehilangan usaha setelah wafatnya sang ayah.
Harper mendapat kesempatan besar, ia merombak ulang sebuah brownstone bersejarah di Park Avenue milik sahabat dekatnya, rumah yang dulu mereka impikan. Selain tantangan konstruksi, proyek ini juga ditayangkan dalam realitas TV, menempatkannya di bawah sorotan publik.
Namun masalah muncul saat Harper diperkenalkan dengan sang desainer proyek, ReidDorsey, seorang profesional berbakat yang berbeda visi dengannya. Ia ingin membaurkan gaya modern ke dalam rumah Gilded Age itu, sementara Harper bersikukuh mempertahankan keaslian dan integritas arsitekturnya.
Tema persahabatan mendalam terus menjadi benang merah di seri ini. Meski buku ini berfokus pada Harper dan Reid, kehadiran Ivy dan Anika serta mentor mereka, CeCe, memperkuat nuansa "found family" yang menjadi kekuatan emosional cerita.
Harper harus membuktikan diri di bidang konstruksi yang didominasi para pria seraya melunasi warisan beban pajak dan kesalahan manajemen. Semangatnya mencirikan perjuangan wanita profesional dalam mempertahankan bisnis keluarga.
Ketegangan profesional bertransformasi menjadi tarik-menarik emosional dan fisik. Konflik pandangan dan argumen tajam berujung pada chemistry memikat, memenuhi tropes grumpy/sunshine dan workplace romance.
Pertentangan estetika klasik dan modern menjadi simbol pergulatan antara menghargai sejarah dan beradaptasi dengan dunia kontemporer melalui perdebatan Harper dan Reid terhadap brownstone mereka.
Lexi Blake mengemas cerita ini dengan gaya yang mengalir, hangat, dan penuh humor. Dialognya yang cerdas dan ringan, sering menyelipkan sarkasme serta banter yang memancing senyum. Deskripsi konstruksi dan renovasi terasa nyata, weaving detail teknis yang menunjukkan otentisitas pekerjaan Harper.
Cerita menggunakan sudut pandang Harper, memberikan kedekatan emosional melalui konflik internal, terutama saat ia menggenggam tanggung jawab bisnis sekaligus hati. Pacing-nya pas, meski NetGalley menyebut perlu membaca dua buku sebelumnya untuk memahami beberapa referensi hubungan, walau begitu novel ini tetap bisa dinikmati sebagai satuan.
Kelebihan dari novel ini adalah, chemistry Harper dan Reid, "fun, sexy, steamy", dengan konflik yang memicu ketegangan dan gairah. Sahabat dan found family, kehadiran Ivy, Anika, dan CeCe menambah kedalaman emosional serta keseimbangan cerita. Plot lingkungan kerja yang khas, renovasi brownstone plus acara TV menghadirkan konteks segar dan realistis.
Novel ini menonjolkan keberanian dan kecerdasan seorang perempuan dalam dunia bisnis. Ending dalam novel ini juga memuaskan, memberikan resolusi emosional dan profesional bagi karakter utama.
Namun novel ini tak lepas dari kekurangan, bagi sebagian pembaca baru, beberapa hal terasa seperti kelanjutan, mulai dari struktur karakter dan motivasi beberapa teman mungkin terasa kurang utuh. Meski seru, alur enemies to lovers dan twistnya dapat terasa dan dapat ditebak bagi sebagian pembaca. Dalam novel ini tidak ada sudut pandang Reid, sehingga pembaca tidak mendapatkan kejelasan emosional penuh dari karakter pria utama.
Secara keseluruhan, "Built to Last" adalah novel yang menyenangkan dari trilogi Park Avenue Promise. Harper Ross tumbuh dari pewaris bisnis yang hampir gagal menjadi wanita karier penuh integritas dan kecintaan terhadap sejarah. Romansa dengan Reid terasa organik dengan konflik nilai-nilai dan chemistry yang menyegarkan.
Identitas Buku
Judul: Built to Last
Penulis: Lexi Blake
Penerbit: Blue Box Press
Tanggal Terbit: 27 Mei 2025
Tebal: 256 Halaman
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Novel The Lost Apothecary, Misteri Toko Obat Tersembunyi di London
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
Artikel Terkait
-
Review Novel Ikhlas Penuh Luka: Bukan tentang Melupakan, Tapi Merawat
-
Ulasan Novel Of Earthly Delights: Rahasia Gelap Taman Keluarga Hargrove
-
Antara Luka dan Harapan: Mengupas Nilai Unik di Balik 'Desiran Angin Laut'.
-
Novel Death in the Cards: Mengungkap Identitas Pembunuh Lewat Kartu Tarot
-
Menyelami Dunia Pertanian lewat Novel Bentala Sella Karya Akaigita
Ulasan
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'
-
Tanah Gersang: Kritik Tajam Mochtar Lubis Tentang Moral di Ibukota
-
Drama China You Are My Hero: Ketika Medis dan Militer Bertemu
Terkini
-
Topeng Arsenik di Pendapa Jenggala
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
-
Preppy Hingga Street Style, Intip 4 Ide OOTD Layering ala Shin Eun Soo Ini!
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial