“Kokoro” dalam bahasa Jepang sering kali diterjemahkan secara sederhana sebagai “hati” atau “pikiran”, tapi sesungguhnya maknanya jauh lebih dalam.
Kata ini mencakup keseluruhan dari siapa diri kita, termasuk dari perasaan, pikiran, jiwa, dan cara kita terhubung dengan dunia. Dan itulah yang menjadi inti dari buku indah karya Beth Kempton ini.
Di era perkembangan dunia yang cepat dan penuh tekanan ini, Kempton dalam bukunya mencoba mengajak pembaca untuk lebih memahami bagaimana cara hidup agar bisa lebih tenang dan bermakna
menyelami cara hidup yang lebih tenang, reflektif, dan bermakna, di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan penuh tekanan.
Ia menyusun buku ini seperti percakapan yang hangat, bukan sebagai manual kaku berisi langkah-langkah instan menuju kebahagiaan.
Buku ini lebih terasa sebagai teman seperjalanan. Sebuah panduan lembut yang menyentuh, perlahan-lahan mengajak kita kembali pada hal-hal yang esensial dalam hidup.
Yang menarik dari Kokoro adalah pendekatannya yang sangat menyeluruh. Beth nggak sekadar menyampaikan filosofi hidup dari balik meja, tapi meramunya dari potongan-potongan pengalaman pribadinya selama puluhan tahun tinggal dan menjelajah Jepang.
Ia membagikan momen-momen pribadinya, termasuk kehilangan ibunya yang memberi kedalaman emosional tersendiri bagi buku ini.
Dari situ, kita tidak hanya belajar tentang budaya Jepang, tapi juga diajak menyelami hal-hal yang sangat manusiawi: kehilangan, keraguan, harapan, dan pencarian makna.
Buku ini dibagi menjadi dua belas bab utama, yang masing-masing mengangkat prinsip penting untuk menjalani hidup yang lebih utuh dan bermakna.
Setiap prinsip disampaikan dengan narasi yang tenang dan puitis, diiringi kutipan dari sastra klasik Jepang, refleksi filosofis, dan kisah-kisah kecil dari kehidupan sehari-hari.
Semuanya dirajut dengan sangat apik, tanpa kesan menggurui. Kita diajak untuk mengevaluasi hidup kita sekarang, melihat bagaimana kita menghabiskan waktu, bagaimana kita menyikapi kematian, dan yang tak kalah penting, bagaimana kita bisa lebih hadir dan damai dalam menjalani hidup hari ini.
Ada banyak momen kontemplatif dalam buku ini, termasuk ajakan untuk lebih menyatu dengan alam, memperlambat langkah, dan memberi ruang bagi ketenangan untuk muncul.
Disini, kita diajak untuk melihat kokoro yang ada di diri kita, bagian yang paling sering kita lupakan
Menurut Kempton, jika kita bisa menjaga dan mendengarkan kokoro dengan baik, maka kita akan tahu ke mana harus melangkah.
Satu hal yang patut diapresiasi dari buku ini adalah bagaimana setiap bab ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif.
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk dijawab cepat, tapi untuk direnungkan perlahan. Rasanya seperti sesi jurnal pribadi yang lembut, bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk memahami diri sendiri lebih dalam.
Buku ini bukan tipe bacaan yang harus dilahap sekaligus. Buku ini enaknya dibaca pelan-pelan, mungkin satu bab sekali duduk, sambil nyeruput teh dan menikmati suasana yang tenang.
Gaya tulisannya pun tidak rumit, mudah diikuti namun tetap punya kedalaman. Dan yang paling penting, Beth Kempton menulis dengan hati. Itu terasa dari setiap paragraf yang ia rangkai.
Kokoro: Japanese Wisdom for a Life Well Lived adalah pengingat bahwa hidup tidak harus selalu sempurna atau besar-besaran.
Kadang, arti hidup itu justru muncul dari hal-hal kecil. Dari langkah yang tak terburu, dari diam yang penuh makna, dan dari keberanian buat jujur pada diri sendiri.
Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin belajar hidup lebih hadir, lebih sadar, dan lebih penuh rasa syukur.
Sebuah bacaan yang lembut namun membekas, seperti bisikan hati yang kita tahu selalu ada, hanya saja selama ini kita terlalu sibuk untuk mendengarnya.
Baca Juga
-
Buku Tamasya Ke Taman Diri; Menemukan Tuhan Lewat Kata-Kata Para Sufi
-
Soyangri Book Kitchen: Saat Luka Disembuhkan oleh Buku dan Kopi
-
Menggugah Nurani Lewat Sejarah Baitul Maqdis
-
Buku Pernah Tenggelam, Batas Tipis Antara Mengidolakan dan Kehilangan Arah
-
Makanya, Mikir!: Teman Refleksi di Tengah Hidup yang Ruwet
Artikel Terkait
-
172 Perusahaan Jepang Sudah Bangkrut di Pertengahan Tahun, Ini Faktornya
-
Ulasan Novel Matahari Terbenam, Potret Sunyi dari Dunia Pasca Perang
-
Situasi Sulit di Liga Jepang, Sandy Walsh Memohon ke Fans Timnas Indonesia
-
Temui Kevin Diks yang Baru Gabung, Pemain Jepang Sampaikan Permintaan Maaf
-
5 Fakta Menarik Wajib Diketahui Sebelum Nonton Alice in Borderland Season 3
Ulasan
-
Review Nine Puzzles: Alasan Penggemar Drama Misteri Wajib Nonton Ini
-
Membaca Pachinko: Metafora Keberuntungan dan Luka Sejarah yang Abadi
-
Review Film Case 137: Drama Prosedural yang Menyentuh Hati dan Akal Sehat
-
Telegram Karya Putu Wijaya: Kabar Duka dari Dunia yang Tak Pernah Pasti
-
Drama Romance Benci Jadi Cinta, Apakah My Dearest Nemesis Layak Ditonton?
Terkini
-
Gaji UMR Kediri, Selera Senopati: Ketika Gengsi Jadi Kendaraan Menuju Kebangkrutan
-
Di Balik Angka UMR: Ada Cerita Perjuangan di Tengah Kebutuhan yang Meningkat
-
5 Pilihan Spray Serum Bi-phase untuk Hasil Wajah Sehat dan Bercahaya
-
Honkai: Star Rail Rilis Trailer Animasi Bersama MAPPA, Picu Spekulasi Anime
-
Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup