Saat masih kecil, kita kerap membayangkan bahwa menjadi orang dewasa itu menyenangkan, bisa tidur kapan saja, membeli apa pun yang diinginkan, pergi ke mana saja tanpa perlu izin. Intinya, hidup terasa bebas dan tanpa batas.
Tapi ternyata, begitu kita benar-benar sampai di fase itu, hidup justru terasa lebih berat. Dan buku Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa karya Kim Haenam & Park Jong Seok berhasil menggambarkan realitas itu dengan jujur, menyentuh, dan menyadarkan.
Buku Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa berisi pengalaman penulis yang membagikan masalah kesehatan mental kepada orang-orang yang mungkin mengalami hal yang sama.
Yang membuat buku ini lebih menarik dari buku self-help lainnya adalah pendekatannya.
Bukan hanya sekadar ajakan untuk semangat, tapi justru mengajak pembaca untuk memahami diri sendiri secara perlahan dan menelisik dari mana sebenarnya luka-luka batin itu muncul.
Setiap bab membahas banyak isu kesehatan mental, misalnya seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, hingga persoalan relasi dengan orang tua dan trauma di masa kecil.
Tapi yang bikin menarik, semuanya dikemas dengan paduan teori psikologi yang ringkas dan contoh nyata dari kisah hidup orang-orang yang pernah mengalaminya.
Jadi bukan sekadar teori saja, tapi maknanya bisa langsung dirasakan saat itu juga.
Buku ini juga cocok sekali untuk pembaca yang tertarik belajar psikologi, tapi belum siap untuk membaca buku yang tebal dan rumit.
Penjelasan teorinya padat, jelas, dan nggak ribet. Sering juga diselipi kutipan yang menohok dan membuatmu terdiam sejenak untuk merenung.
Beberapa kutipannya bisa kalian jadikan bahan untuk refleksi diri agar lebih baik.
Buku ini juga mengingatkan kita bahwa dalam menempuh perjalanan yang melelahkan ini, kita tidaklah sendirian. Fase seperti ini juga dialami oleh banyak orang. Yakinlah, kita mampu melewatinya.
Untuk pembaca usia 20-an yang berada di fase quarter life crisis, sedang merasa bingung arah tujuan hidup dibawa kemana, karir yang tidak mengalami kemajuan, buku ini sangatlah tepat untuk kalian.
Cocok dibaca pelan-pelan, nggak harus dari awal ke akhir. Bisa dibuka acak, dibaca satu dua halaman saat kamu butuh teman dalam keheningan.
Buku ini terasa seperti cermin. Luka psikologis yang kita alami sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, ia tumbuh perlahan sejak masa kecil, dipupuk oleh lingkungan, ekspektasi, dan ucapan orang-orang yang kita anggap penting.
Dan semua itu terbawa hingga dewasa tanpa kita sadari.
Satu hal yang langsung terasa saat membaca buku ini adalah betapa “manusiawinya” isi buku ini.
Tidak ada nasihat menggurui, tidak ada jargon-jargon motivasi klise. Yang ada hanyalah semua pikiran yang selama ini kita rasakan, tapi sulit untuk kita ungkapkan.
Kita memang sering merasa bersalah kepada diri sendiri yang tidak mencapai hal yang diinginkan. Hal itu kadang juga membuat kita membandingkan diri dengan orang lain.
Kadang itu semua juga membuat kita merasa asing ketika berada di tengah-tengah orang yang kita sayangi.
Kalau kamu sedang merasa kehilangan arah, tertekan, atau hanya ingin lebih peka terhadap orang lain, buku ini bisa jadi teman yang tepat.
Ia tidak menghakimi, tidak memaksa untuk sembuh, tapi hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan mental adalah hal yang nyata, dan kita semua sedang berjuang.
Buku ini bukan cuma pengantar belajar psikologi, tapi juga jendela untuk lebih memahami diri sendiri dan orang lain. Bacalah secara perlahan ketika waktumu sengganga.
Baca Juga
-
Tuhan, Aku Ingin Sembuh: Buku Healing Bernuansa Spiritual yang Menguatkan
-
Novel Haru-Biru, Dua Kisah Menyentuh tentang Cinta dan Pengorbanan
-
Review Buku "Tentang Dewasa": Teman Renungan dalam Menjalani Kehidupan
-
Bukan Sekadar Buku Nasihat, Ini Alasan "4 You, Ladies" Berasa Seperti 'Teman Ngobrol' Sehari-hari
-
Ketika Hijab Terasa Berat: Panduan Hati bagi Muslimah yang Sedang Berproses
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Montase: Membuat Waktu yang Singkat Terasa Abadi
-
3 Rekomendasi Buku Islam Anak, Kisah Menyentuh dan Ilustrasi yang Menarik
-
Saat Istirahat Dianggap Dosa, Menggugat Budaya Toxic Productivity
-
Bukan Manusia, Ardhito Pramono Ternyata Pilih Curhat ke ChatGPT Saat Galau, Kenapa?
-
Ulasan Buku Hello Stress: Cara Sederhana Kenali dan Atasi Gangguan Stres
Ulasan
-
Film I Am Frankelda, Masih Bisakah Kita Berimajinasi di Era Serba Instan?
-
Ketika Sistem Gagal Melindungi Korban: Dilema Moral Teach You a Lesson
-
Novel Utang dan Sampah Sesudah Pesta, Ketika Menolak Tunduk pada Realita
-
Review My Royal Nemesis: Drama Romcom dengan Chemistry yang Sulit Dilupakan
-
Ulasan Film The Furious: Badai Aksi Tanpa Ampun yang Berkelas Dunia!
Terkini
-
Pra-Acara Day of Petroleum 2026: Konservasi Penyu, Tanam Pandan, dan Bersih Pantai di Patihan
-
Cara Saya Mengubah Kesepian Menjadi Ruang Terbaik untuk Mengenal Diri
-
Kompak Jadi Aib, Piala Dunia 2026 Tak Ubahnya Panggung untuk Permalukan Anak Emas AFC
-
Alasan Serial 'Di Luar Nurul' Viral, Pemeran Utamanya Cocok Banget!
-
Stray Kids Umumkan Album Baru THIS & THAT pada Agustus 2026 dan World Tour